Twitter

Tampilkan postingan dengan label Berbagi Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

“Karena Ada ‘Indah’ dalam Setiap ‘Pindah’”



Well, quote bagus ini adalah milik orisinil dari buku kumpulan cerpen “Pindah”, yang dipinjamkan seseorang ke aku. Aku sedang tidak menulis resensi buku itu sih. Tetapi hanya sekedar membagi pengalamanku ketika berpindah – pindah kosan. Sampe ke kos yang sekarang dan aku rasa berhenti di sini sampai aku lulus. Dan quote dari buku “Pindah” ini adalah yang paling tepat menggambarkan pengalamanku pindah kosan dua kali.
Anyway, let’s get the story done.

Aku pertama kali ngekos adalah di Gubeng Kertajaya 7L, di mana di situ adalah tempat aku memulai, mengalami dan mencerna banyak sekali pelajaran akademik dan non akademik. Di kos Gubeng Kertajaya itu juga-lah tempat aku dipertemukan dengan seorang partner in crime dari Balikpapan, Tyan Ristanto.

Cerita ketika aku bisa sekosan sama sahabatku yang satu itu, adalah dimulai dari saat aku masih ngekos sendirian. Ada kamar kosong di lantai satu, dan aku sudah menawarkan ke hampir semua teman sejurusan dan tidak ada yang mengiyakan. Dan Tyan, adalah teman terakhir yang aku tawari kamar kosong di kosanku itu. Tentu saja, seperti kebanyakan yang lain, ia juga menolak tawaranku. Sampai suatu malam di awal semester, aku sedang bermain DotA dengan Tatit, Bima, dan Gebi, kawan – kawan DotA-ku di kampus. 

Malam itu tiba – tiba Tyan meneleponku, dan kemudian aku kaget karena suaranya dia terdengar panik. Ternyata, malam itu dia tiba – tiba berubah pikiran dan mau ambil kamar kosong yang ada di kosanku. Awalnya dia menolak karena alasan dia sudah dicarikan kosan sama Budhenya. Tapi karena kejauhan, dia akhirnya mau cari kosan yang dekat kampus saja. Dan tawaranku adalah yang paling bisa dipertimbangkan Tyan saat itu.

Aku langsung cabut dari warnet dan menuju kosan. Tyan nggugupi. Karena dia sudah membatalkan kontrak dengan kosan yang dicariin Budhenya. Kalau tidak segera mendapatkan kosan baru, Tyan bakal kena marah besar. Karena itu dia sedikit panik ketika memintaku untuk segera balik ke kosan dan memastikan kamar yang kosong itu belum dibooking orang.

And praise the Lord, kamar itu masih kosong. Cuman ada masalah baru: Motor.
Bu Sum, yang punya kosan, gak mau kalau penghuni baru kamar itu nanti bawa motor. Karena kapasitas parkir motor di kosan itu terbatas. Akhirnya aku membujuk Bu Sum kalau motornya Tyan nanti bisa ditaruh di sana atau sini atau gimana aja lah yang penting Tyan-nya dapet tempat di kosan. Setelah sedikit lama berpikir, akhirnya Bu Sum mengiyakan.

At last, aku akhirnya punya teman sekosan yang juga sejurusan untuk pertama kali. Tyan Ristanto.
Aku ngekos di Gubeng Kertajaya itu sudah lumayan lama sekali. Banyak sekali cerita dan berbagi pengalaman hidup dengan teman – teman sekosan di sana. Barok, Amik, Kakaknya Amik, dan Tyan. Dan akhirnya, pada suatu kejadian, regulasi Bu Sum tiba – tiba saja berubah.

Aku suka menempel nota dan catatan apa pun di dinding kosanku saat itu. Sekedar untuk pengingat bahwa ada kenangan dari tiap kertas yang aku tempel. Tapi pada suatu hari setelah aku pulang dari bermain futsal, tiba – tiba dinding kamarku bersih. Aku langsung menanyai Bu Sum ke mana kertas – kertasku itu. Ia bilang menyimpannya, dan ia juga memarahiku karena aku dianggapnya bandel dan susah dibilangi. Katanya, ia sudah memperingatkanku untuk melepas kertas – kertas itu dari tembok. Padahal, aku sudah melakukan kebiasaan menempel kertas di tembok itu sejak semester satu. Dan baru semester empat ini tiba – tiba Bu Sum berbuat demikian. Aku tidak ingin menduga macam – macam atau mengatainya sedang terkena masalah atau bagaimana. Tapi ya mau bagaimanapun juga aku kesal, karena dengan membredel isi kamarku artinya Bu Sum sudah memberikan pertanda insecure untuk tinggal di situ.

Aku akhirnya menjadi tidak suka berada di situ. Bu Sum terlalu ikut campur dalam isi dan ‘ornamen’ kamarku. Yang paling membuatku marah adalah ada sketch gambarku yang ku tempel di tembok dan Bu Sum melepasnya dengan sembarangan hingga kertasnya robek. Dalam semalam, bukti – bukti empirikku melakukan sesuatu yang berharga untuk dikenang ke mana – mana jadi porak poranda. Ah, aku selalu kesal ketika mengingatnya.

Anyway, itu akhirnya menjadi awal perpindahanku. Aku mengemasi barang – barangku berhari – hari. Dengan tetap bertahan di kamar Gubeng Kertajaya karena urusan barang – barangku yang belum selesai ter-packing. Aku menyempatkan waktu sebelum kuliah dengan mencari kosan di daerah lain yang dekat Universitas Airlangga Kampus B.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah rumah sederhana yang menempelkan tulisan “Terima Kost Pria” di gang Gubeng Jaya. And, I take it anyway.

Perpindahanku dari Gubeng Kertajaya ke Gubeng Jaya ini benar – benar tidak pernah aku bayangkan. Aku dari awal ngekos sudah ada bayangan kalau aku bakal di Gubeng Kertajaya terus sampai lulus. Tapi pada akhirnya, aku pindah juga. Ya sudahlah. Akhirnya aku berpamitan dan meminta maaf ke semua rekan yang ada di kos lama. Termasuk Bu Sum. And thanks a lot for Tim CSR Oposisi, aku akhirnya bisa pindah dengan barang – barang banyak ini ke kosan yang baru. Hahaha.

Kosan baru, pengalaman baru. Di Gubeng Jaya ini aku hanya bertahan satu semester. Tapi sudah lumayan membekas pengalaman berada di sini. Aku mengenal nenek yang baik hati, yang sering memasakkan sesuatu bila beliau melihatku ada dan lagi nganggur di kamar kosan. Ada juga ibu kos sekeluarga yang baik, yang menawariku kasur tambahan, dan selalu bersikap baik pada semua penghuni kosan. Kamar sebelahku diisi oleh mahasiswa Farmasi yang sudah menjalani profesi, dan sebelahnya lagi adalah suami istri yang punya seorang anak kecil laki – laki yang lucu. Aku menjalani suasana yang tenang di sini. Tapi saking tenangnya, aku juga tidak nyaman sendiri. Aku jarang sekali di kamar. Kamarku aku biarkan berantakan apa adanya. Karena entah kenapa firasatku bilang aku gak bakal lama di sini.

Akhirnya memasuki semester 6, firasatku benar. Kawanku Lukman, mengatakan kalau ada kamar kosong di kosan yang ia juga tempati. Tanpa pikir panjang aku mengiyakannya.

Finally, second moving, and the last moving.

Kali ini aku pindah lagi, untuk yang kedua dan terakhir, dibantu teman –temanku Bima, Ayiph, dan Luqman. Aku juga dibantu Tatit untuk menyusun dan membuat rak – rak buku di kamarku yang baru.

Well, I’m feeling blessed to have such good friends around me.

Di kosan baru di Jojoran ini, aku benar – benar feeling the living. Dibandingkan dua kos yang pernah aku tempati, ini yang terbesar dengan sepuluh kamar, atau lebih dikit. Dan di sini temannya asik – asik. Mereka punya hobi bermain DotA, dan banyak juga yang hobi musik. Di sini juga ada Lukman teman sejurusan yang bisa jadi teman sharing kuliah. Dekat dengan warung giras, untuk sekedar ngopi atau cari makan. Dan akhirnya kamarku kembali sering dikunjungi teman – teman lagi. Feeling so alive.

At least, aku juga tidak akan pernah melupakan waktu – waktu yang udah aku habiskan di kos – kos sebelumnya. Tyan masih jadi sahabat, my partner in crime. Aku juga masih sering tanya gimana keadaan kosnya Bu Sum dan kabar kamarku dulu. Kata Tyan, semenjak aku pergi, kosan Bu Sum jadi lebih sepi. Kamarku gonta – ganti yang ngisi. Tapi ya sudahlah, mungkin itu lebih baik untuk mereka yang di sana. Aku juga masih sering ke daerah kosan Gubeng Jaya. Ada tempat ngeprint yang murah dan laundry yang baik juga di sana, hehe.


Time change, dua kata ini benar – benar terasa buatku ketika bercerita tentang perpindahan. Banyak yang aku dapat dari dua kali perpindahan. Dan memang benar – benar ada ‘indah’ dalam setiap ‘pindah’. J

Rabu, 09 April 2014

Sayangi Harddiskmu. Sayangi Benda yang Menyimpan Dokumentasi Hidupmu.



Really, it sucks for losing a harddisk that used for saving files and documents of your life.

Aku kehilangan sebuah harddisk di kampus. Tepatnya di KBU Komunikasi, malam ketika saat itu sedang ada tugas Komunikasi Periklanan untuk dikumpulkan esok harinya.
Kehilangan barang sudah menjadi sesuatu yang biasa buatku. Mungkin karena aku sendiri ceroboh, sering lupa untuk mengingat di mana dan bagaimana aku meletakkan barang – barangku sendiri. Termasuk saat aku membawa dan menaruh harddisk ini di KBU.

Yang aku ingat, aku sedang berbagi foto dengan kawan saat itu. Sekedar berbagi koleksi foto se-angkatan Komunikasi 2011. Selesai mengerjakan tugas, aku langsung pulang ke kos. Dan aku lupa tidak mengecek lagi apa isi tasku. Sampai dua-tiga hari kemudian, aku baru sadar. Harddiskku hilang.

Shit.

Sikapku saat kehilangan harddisk ya biasa saja memang. Told ya, haven’t I? Aku sudah biasa kehilangan barang. Tapi efeknya, khusus harddisk ini, baru aku rasakan sekarang.

That day I must be so stupid for losing a half of my brain archives.

Aku cuma bisa berharap siapapun yang mengambil harddiskku segera kejedot jangkar kapal yang keras sampe kepalanya berdarah – darah sampe mengalami several memory loss atau amnesia sampe bisa merasakan perasaanku sekarang yang sudah kehilangan momen, foto, video, dan file – file lainnya yang penting sebagai pelengkap abstraknya ingatanku. Fuck with that.

But, okay, kidding.

Aku berharap yang mengambil harddiskku itu bisa having a good life with that. Satu tera bisa nyimpen banyak foto dan video dokumentasi perjalanan, dude. Dan aku harap harddisk itu tidak dirombengkan, atau logisnya dijual ke penadah.

Buat kalian yang menyempatkan membaca curhat ini, tolong sayangi harddisk atau flashdisk atau laptop atau apapun lah yang menyimpan dokumentasi dan portofolio sepanjang waktu yang sudah kalian alami. Kehilangan bukti empirik perjalanan hidup berupa file – file digital itu sungguh sangat hurting and too hard to describe.

Believe me, take a good care for your documents, in every single space in your drives.

Buat penadah atau si empunya tangan yang udah ngambil harddiskku, kalau lagi baca ini,

Just say prayer and beg pardon to your God. Before I say curses and beg hellfire for you to my God.


Oh i mean, whatever.

Rabu, 15 Agustus 2012

Festival Tongklek di Tuban: Warna-Warni Keramaian Kota di Tengah Malam

"Dung klek dung klek dung klek!"
"Tung ting tang ting ting tang ting tung"



----Foto-foto di atas adalah peserta-peserta yang kreatif mengkloningkan nuansa drumband tujuh belasan dengan tongklek bulan Ramadhan.

Tepat 14 Agustus 2012 kemarin, ada festival tahunan di Tuban yang disebut festival tongklek. Dan event ini hanya diadakan saat bulan Ramadhan. Buat yang pengen tahu gimana kota Tuban kalo rame di tengah malam, event ini wajib buat ditonton. Nggak perlu susah-susah mikir gimana nontonnya. Cukup naik motor, sedia keripik dan cemilan, cari rute yang dipenuhi orang (karena ini berarti tongkleknya lewat jalan situ) terus udah cari aja trotoar ato emperan toko yang bisa didudukin. Kalo nggak kebagian, yauda numpang spot orang lain aja, asal jangan sok asik dan masang muka teroris. *brb *cukurjenggot

Ini ada beberapa screenshot dari peserta-peserta yang nunjukkin brand timnya di barisan depan



Cuman di sini ente bisa ngelihat orang-orang pada rebutan tempat kosong di trotoar buat dijadiin spot nonton. Bunyi riuh rendah dari peserta festival yang pada mbunyiin alat musik kreatifnya masing-masing juga turut menyemarakkan suasana malam yang dingin. Ada juga semacam orang joged-joged semi-kesurupan yang bikin ketawa dan geleng-geleng kepala di sini. Yang di foto di bawah ini, adalah rombongan wanita berbulu kaki yang tongklek'an sambil menirukan upacara bendera



Yang di bawah ini, merupakan salah satu kreativitas peserta. Tetapi kasihan yang anak kecil, badannya segede toge tapi gentongnya segede Mike Mohede *skip


Ada juga nih, nggak ada icik-icik, cakram sepeda pun jadi,


Di festival ini, tongklek bukan sekedar dibunyiin bareng-bareng buat mbangunin orang sahur doang. Di sini, ada estetika seni dan penampilan yang bisa dinilai, disaksikan, dan dinikmati orang-orang seisi kota. Dari foto yang aku upload, lihat sendiri noh, gimana pocong melakukan 'aksi' mogok di jalan, waria-waria keranjingan joged, topeng monyet urakan, dan para pemuda brutal yang menjunjung tinggi nasionalisme. Nggak ketinggalan ada kostum-kostum aktraktif dan perlengkapan yang eye catching juga bisa dilihat di sini. 

Nih, ada foto dari pemuda-brutal-cinta-nasionalisme,


Ada juga yang edisi pemuda soleh seperti ini,



Ato pasukan dugem patrol kayak gini :| ....


Yang di bawah ini malah anak-anak dandan ala orang naik haji,


Dan ini... NGAPAIN Ondel-ondel nyasar ke Tuban??? (-______-)


Hem, tapi jangan salah,
Justru ini menandakan bahwa masyarakat Tuban ini memang masyarakat yang menghargai pluralisme kebudayaan. Jadi adat betawi pun juga boleh dong ikut nampil di tongkek'an ini, hehe.

Buat yang phobia lihat pocong, disarankan untuk segera menutup blog ini.
Karena... INI DIA BARISAN POCONG DAN KAWAN-KAWAN, huhuahahaha






Serem. Asik. Kreatif. Sayangnya unsur tongklek'annya malah yang menurutku sedikit kurang, hehe.

Ini juga ada barisan pemuda yang pake nunjukin atraksi nyembur api. Sayangnya waktu melintas aku ndak sempet meng-capture momen mereka beratraksi :|


Ngomong-ngomong, sistem dalam festival ini tuh, pesertanya terdiri dari 10-20an orang per tim kalo ndak salah. Tiap tahun aturannya beda sih. Terus ada lagu wajib yang harus dibawain selang-seling sama lagu sendiri di rute jalanan yang harus dilewati. Misalnya, lagu sholawatan. Rutenya di tahun 2008, 2009 dan 2010 sih dimulai dari deket RS Muhammadiyah, seingatku. Dan tahun 2012 ini rutenya dimulai dari alun-alun. Finishnya ya juga di tempat awal pemberangkatan. Sistematika penilaian pemenangnya aku yang belum tahu. Apakah sekedar penampilan, musik dan kerapiannya, atau seni yang diusungnya, aku ndak tahu mana yang paling menentukan. Tapi katanya yang beberapa tahun lalu pemenangnya yang pake kostum pocong rame-rame. Bisa jadi penampilan juga mendominasi penilaian, sih. Mengingat ndak ada peserta yang 100% memainkan musik sepanjang perjalanan dari awal sampai akhir. Pasti lah di tengah jalan ada puncak capek dan suntuknya. Tapi meskipun begitu, para peserta tahu kok kapan harus memainkan musik dan kapan harus berhenti ketika lewat jalan yang penontonnya sepi.

Terus, ada lagi. Biasanya kalo tongklek'an, pesertanya juga ada tim official yang ngurusin logistik (baca: dus aqua) kayak ini,


Mending sih ini, si official bawa dus sambil motoran. Kadang pesertanya sendiri yang bawa dus air minum dan dibawa gantian. Atau bisa juga manfaatin kayak rombong, becak, dan sebagainya yang mereka gunakan untuk mengangkut peralatan tongklek.

Well, gara-gara festival ini, Tuban berasa kayak ibukota yang masih rame di tengah malam.
Bahkan, macet. :|
Kayak gini,


Tapi macetnya cuman di tengah kota doang sih. Sampe di rada pinggiran dikit uda leluasa lagi kok.

Cuman ada nih, yang sedikit disayangkan dari festival ini...


Sampah air minum kemasan dimana-mana. Jalan jadi kotor. Berceceran sampah.
Jadi ini semacam pekerjaan rumah yang membutuhkan kerja keras bagi para pembersih kota besok.

Festival ini juga merupakan kenangan tersendiri buat aku.
Di sini aku pernah ikut jadi peserta bareng-bareng sama OSIS SMA Negeri 1 Tuban, bahkan aku ikut di tiga periode sekaligus. (silahkan bilang WOW)

Aku masih inget, dulu aku ikut festival tongklek pas aku masih kelas X. Di sini kalo gak salah aku masih baru jadi anggota OSIS. Di sini mbantuin mas-mas senior periode 07/08 Nona-Meo buat mbunyiin tongklek dan nyanyi-nyanyi di jalanan. Dan gara-gara aku cupu dan belum akrab sama mas-masnya, aku sendiri jadi canggung mau ikut mbunyiin bambu yang ta pegang. Salah-salah ntar merusak suasana dan tiba-tiba hening seisi kota. *...hening beneran*

Terus ada lagi yang sama 08/09 Eigto-Neno. Di sini baru aku gak begitu canggung, soale uda lumayan akrab sih sama mas-mase yang lebih tua satu tingkat doang dari aku. Kita mbunyiin tongklek awur-awuran, nyanyi-nyanyi gak jelas di jalanan... Oke mungkin itu aku doang sih, laine niat kok :|
Kita sampe belain nyewa becak loh buat ngangkut alat-alat dan perlengkapan, hehe.

Aku lupa, diantara periode 07/08 kalo gak 08/09, aku sampe dicariin Bapak ke sekolah (padahal aku di jalanan) gara-gara aku lupa ndak ngasih tau Bapak kalo festival tongklek ini acaranya sampe mualem. Aku baru pulang jam satu kalo gak salah. Padahal Bapak nyariin aku dari jam 11 sampe jam 12. Aku jadi merasa berdosa telah membuang bensin Bapak dengan percuma karena dibuat muter-muter nyari aku doang yang gak ada hasil.

Eh, aku inget, di periode 07/08 ding. Soalnya aku inget aku masih canggung sama mas-masnya dan nyari alasan supaya bisa cepet pulang, hehe.

Nah, terus... Akhirnya aku jadi angkatan yang dituakan di OSIS #halah.
Periode 09/10 Seicoo-Logo, di sini mau-gak mau ya yang senior harus nyontohin yang baik juga kerja paling greng buat nyiapin konsep tongklek'annya dengan matang #tsahh
Kalo gak salah, yang jadi ketua si Edy. Dan ketika giliran kami di depan panitia membunyikan musik, kami dipanggil seperti ini...
"Ini lah dia, sakrifice kosong sembilan sepuluh, seico logo, bimbingan Bapak Edy"
Sontak kami shock untuk beberapa saat.
Pertama, panitia ini emang ndak bisa nyebutin bahasa Inggris "Sacrifice" dengan benar atau disengaja salah omong biar lucu, kami juga ndak tau.
Kedua, BIMBINGAN BAPAK EDY INI APA? ._.
Jadi, apakah Edy mendaftarkan kelompok tongklekan kami dengan atas namanya sendiri atau Edy diam-diam sudah menjadi Bapak-Bapak, ini semua masih menjadi misteri ~

Dan sekarang, aku uda kuliah, baru masuk semester tiga. Dan aku cuma bisa lihat dari trotoar bersama manos-manos (mantan OSIS) lainnya, yang juga tinggal sedikit jumlahnya yang mau nonton festival ini.

Ini waktu lagi nonton di trotoar, ada Mamat, Sandy, Ayuk, Tia, dan Ayak.


Yang di bawah ini hasil jepretan Mamat waktu ada Edy dan Punky ikut sekalian difoto


Dan yang ini waktu di rumah Ayu, siap-siap mau berangkat nonton ~


ada Sandy, Ayuk, Rara, aku dan Ayak. Yang motret si Mamat. Dan lucunya di sini itu, si Rara uda pulang duluan jam 10 malem sebelum nonton tongkleknya. Padahal, waktu ngumpul tuh yang dateng aku duluan dan Rara setelah aku. Tapi pulange Rara malah duluan daripada semuane :|

Oh iya, sementara aku dan temen-temen ini uda pensiun, nih OSIS periode 11/12 lagi beraksi di tongklek'an



Ahh, mereka modal banget pake bawa motor Tosan -_____-

By the way, rasanya kagak ada habisnya ngomongin nih tongklek'an.
Silahkan ente lihat sendiri dah hasil foto-foto di bawah ~

Ini ada Van dari sponsor utama,


Ini penampilan beberapa peserta...






Beberapa ada yang nengok belakang. Itu berarti mereka lagi berhenti (ya jelas, blok)
Biasanya itu memastikan aja sih supaya jarak antar rombongan tidak terpaut jauh dan keindahan barisan masih bisa tetap dipertahankan.

Ini ada juga makhluk yang bangga ngangkat batu nisan -_-
Entah, tanggal ulang tahunnya siapa itu yang ditulis.


Ini juga ada topeng monyet urakan yang... gak ada gemes-gemesnya sih :|
Tapi asik, soalnya pertunjukan jadi makin variatif. Apalagi liat noh bagian roda belakangnya dijahilin sama temennya yang dibelakang. Roda dua tambahannya diangkat, tinggal nunggu jatuhnya aja *eh


Ini juga ada aksi dari duta aiemtri yang membaur dengan peserta lainnya.


Emang sih, banyak yang nyorakin...
"Tai, sinyale elek!"
"Trobelan!"
"Pendingan!" 
"Bujuki thok!"
dan lama-lama mereka yang nyorakin ini jadi semacam orang galau yang curcol gara-gara koneksinya pending sampek gak bisa move on dari mantan.
Kasihan.
*kabur *sabarsabar

Lagian, duta-duta yang tidak berdosa ini juga jadi semacam customer care berjalan ya kalo ngeladenin teriakan-teriakan semi-ndak penting itu. -__-

Well, at least,
Pengalaman nonton festival tongklek sama temen-temen manos ini berkesan lah,
aku juga bisa menuliskan artikel tentang ini di blog (meskipun geje)
hahahaha

Semoga tahun depan festivalnya lebih seru dan pesertanya lebih kreatif lagi!

Kamis, 19 Juli 2012

Welutan di Tuban: 3 Hari, 3 Lokasi, dan 3 Situasi


"Ora wong Tuban nek durung tau mangan welut Tuban."

Dari dulu, tiap aku nyempetin pulang ke Tuban, yang bikin kangen itu ya welutnya. Pedes, pedes, dan super pedes, adalah tiga kata yang bisa nggambarin tiga varian welut yang aku tahu di Tuban: Bagong, Jangkar, dan Cemplon.

Welut itu sendiri adalah masakan olahan belut khas Tuban yang diracik dengan rempah-rempah dan bumbu pedas dengan rasa yang khas di tiap penjual yang berbeda. Bagong, adalah welut yang pedasnya nomor tiga. Nomor dua adalah Jangkar. Dan jawara pedasnya adalah Cemplon. Penilaian ini subyektif dari aku sendiri, kalau ada orang Tuban lainnya yang gak sependapat ya memang lidah gak bisa sama. Lagian, masih ada beberapa penjual welut lagi di Tuban yang aku belum tahu di mana dan bagaimana rasa welutnya. Buat yang lebih tahu mengenai urusan welut-welutan di Tuban, bagi infonya yaa ~

Cerita tentang 'Welutan di Tuban: 3 Hari, 3 Lokasi, 3 Situasi', adalah ceritaku tentang tiga hari berturut-turut makan siang dengan welut di tiga lokasi yang berbeda, dengan situasi yang berbeda pula.

---

Hari Selasa, 17 Juli 2012.
Lokasi Warung Welut Bagong
Situasi Ditemani Tia, mantanku saat masih kelas XII SMA

Setelah sekian lama tidak makan Welut Bagong, akhirnya hari ini aku makan juga. Diantara ketiga welut yang aku ceritakan di atas, Welut Bagong adalah yang paling ngangenin karena rasanya yang paling gurih dan paling enak, sayang harganya mahal. -_-

Aku menghabiskan 15.000 Rupiah untuk satu porsi Welut Bagong dengan satu bungkus nasi jagung dan segelas es dengan minuman bersoda. Estimasiku, Welut Bagong ini harganya 10.000 Rupiah, nasi jagungnya 1.000 Rupiah, dan es-nya 4.000 Rupiah.

Mahal?

POL, JEDUG

Tapi setidaknya rasa Welut Bagong ini sesuailah sama harganya yang mahal itu.

Aku baru saja pulang dari melayat di rumah temanku yang dulu juga OSIS, Ahmad Dimasqi. Selasa pagi mendadak ada kabar Ayahnya meninggal. Dan aku, yang Senin malam sudah janjian dengan Tia untuk beli Welut Bagong pada Selasa jam 10 pagi pun harus menunda janji ini dulu.

Setibanya di rumah Dimas, aku kembali merasakan atmosfir kehilangan dari salah satu dari kedua orang tua. Dulu, ketika aku melayat ke rumah Luqman, sohibku yang di Surabaya, aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang Ibu. Dan sekarang, aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang Ayah. Aku hanya bisa menyemangati Dimas. Tapi setidaknya, Dimas telah menunjukkan kepada Ayahnya bahwa dia mampu menembus pendaftaran Holcim dan saat ini dia sedang bersiap untuk menjalani pendidikan Holcim di Jawa Barat nanti. Aku tidak ikut ke pemakaman Ayahnya. Karena pemakaman Ayahnya, katanya menunggu adiknya yang dari Malang dulu sampai tiba di rumah Tuban. Apalagi banyak dari rombongan Manos juga pada pamitan pulang. Maka dari itu, akhirnya pukul 12.00 aku memutuskan untuk beranjak dari rumahnya Dimas.

Melihat jam sudah siang, aku ragu apakah masih sempat membeli Welut Bagong atau tidak. Masalahnya, Welut Bagong ini biasanya habis kalau sudah siang. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, karena aku juga sudah di kota, akhirnya aku putuskan untuk tetap membeli Welut Bagong. Dan syukurlah, sesampainya di Warung Welut Bagong aku dan Tia tidak kehabisan welut. Akhirnya kami makan di sana, dan aku bungkuskan satu untuk Ibuku di rumah.

---


Hari Rabu, 18 Juli 2012.
Lokasi Warung Welut Jangkar
Situasi Bersama dua dari empat sekawan: Simbah dan Mencret, minus si Sapi

Welut Jangkar adalah welut yang paling jarang aku makan. Dari SMA dulu, kalau mau welutan, ya kalau nggak Bagong ya Cemplon. Tapi rasanya juga enak kok welut ini. Nggak se-garing dan se-gurih Bagong, tapi tetep pedesnya mantap dan rasa rempah-rempahnya juga kerasa. Lagipula, alasan aku jarang makan Welut Jangkar ini juga gara-gara warungnya berada tepat di belakang Welut Bagong. Jadi kalau aku sempat beli welut, ya pasti aku belinya Welut Bagong sekalian. Harganya sama-sama mahal, sih -_-

Aku menghabiskan 16.000 Rupiah untuk satu porsi Welut Jangkar, dua bungkus nasi jagung, dan segelas es minuman bersoda. Dan sama dengan Welut Bagong, estimasiku Welut Jangkar ini harganya 10.000 Rupiah, dua bungkus nasi jagung 2.000 Rupiah, dan segelas es minuman bersoda 4.000 Rupiah.

Sama mahalnya dengan Welut Bagong -_-
Tapi setidaknya porsi welutnya yang besar dan banyak, sesuai lah dengan harganya itu.

Selasa sore HP-ku berbunyi, ternyata ada pesan dari Simbah. "Sesok nyemplon* jam 8:32" (*nyemplon = istilah untuk makan Welut Cemplon) Aku pun mengiyakan ajakan Simbah itu. Karena aku juga kangen sama pedesnya Welut Cemplon.

Rabu pagi, aku disuruh kakakku melegalisirkan ijasah SMA-nya. Aku pun mengirim pesan ke Simbah kalau aku mau ke SMA Negeri 1 Tuban dulu. Dan dia bilang kalau sudah selesai urusan di SMA langsung ke rumah Mencret saja. Perkiraanku sih bakalan ngantri lama ini kalau mau legalisir soalnya kelas XII periode 2011/2012 kan baru lulus. Tapi Simbah optimis kalau aku nggak akan lama-lama di SMA. Dan benar saja, hari ini SMA Negeri 1 Tuban lagi ada outbond untuk kelas X. Aku langsung menuju ruang Tata Usaha, dan di situ tidak ada siswa baru lulus yang mengantri untuk legalisir. Ngantri sih, enggak. Tapi fotokopian ijasah SMA mbakku yang ditolak. Gara-gara nggak membawa ijasah aslinya sih. Dan setelah aku telepon kakakku, ternyata ijasah aslinya malah ada di Blitar -_-

Akhirnya legalisir gagal, aku langsung menuju rumah Mencret, dan ternyata si Mencret lagi nyuci baju sama Ibunya. Biasanya, kalau Empat Sekawan mau ngadain acara dan ngumpulnya di rumahnya Mencret, kami nggak ngasih tahu si Mencret dan langsung main ngumpul aja. Karena itu aku pikir Mencret belum tahu tentang rencana nyemplon hari ini. Tapi ternyata si Mencret sudah diberitahu Simbah. Dan nggak sampai 15 menit aku di rumah Mencret, Simbah datang. Namun sayang sekali hari ini Empat Sekawan nggak bisa formasi lengkap. Sapi masih di Surabaya, dan sepertinya dia lagi berjuang untuk menempuh semester pendek. Aku hanya bisa mendoakan dari sini, semoga semester pendeknya si Sapi sukses dan bisa ngumpul bareng berempat lagi.

Jadi, cerita sebenarnya, aku, Simbah, dan Mencret mau nyemplon hari ini. Tapi ketika jam menunjukkan pukul 09.45 dan kami sampai di Warung Welut Cemplon di Merakurak, ternyata warungnya masih tutup -_-
Kami pun memutar jalan, dan karena kemarin aku udah mbagong* (istilah untuk makan Welut Bagong) aku akhirnya menyarankan untuk makan di Warung Welut Jangkar saja.

Setibanya di Warung Welut Jangkar, kami makan, dan menghabiskan waktu hampir satu setengah jam untuk ngobrol-ngobrol tentang berbagai macam hal. Mulai dari kuliah masing-masing sampai membahas angkatan dari tiap jurusan kami sendiri. Namanya juga udah lama gak ketemu, kami ngobrol sepuasnya sampai mbak-mbak yang di Warung Welut Jangkar ngasih kode non-verbal berupa bersih-bersih meja kami dan ngelihatin kami terus yang lagi cekikikan dan meramaikan warung itu. Aku yang ngebaca bahasa non-verbal mbak itu, akhirnya ngajak Simbah dan Mencret untuk pulang.

Dan ketika kami bertiga tidak bersuara lagi, ternyata seisi warung itu hening. Hanya suara bibir orang-orang yang lagi ngecap-ngecap makan saja di situ. Bisa jadi, orang-orang di warung itu sedari tadi ndengerin obrolan dan suara berpolusi kami bertiga saja.

Oalah.

---


Hari Kamis, 19 Juli 2012.
Lokasi Warung Welut Cemplon
Situasi Sendiri

Ini dia. Jawara masakan welut pedas di Tuban. Kalau sebelumnya aku bercerita bahwa aku udah lama nggak mbagong, aku sendiri juga udah lama nggak nyemplon. Dan tepat hari ini juga aku baru nyadar, tiga hari berturut-turut aku makan siang dengan Welut melulu. Tapi kalau hari ini nggak nyemplon, aku juga gak bakal kepikiran buat nulisin ini di blog, dan nyempetin ngefoto Welut Cemplon ini sebelum aku makan. Hahaha.





Aku menghabiskan 10.000 Rupiah untuk satu porsi Welut Cemplon, sepiring nasi, dan segelas es minuman bersoda. Estimasiku, Welut Cemplon ini harganya 4.000 Rupiah, sepiring nasi 2.000 Rupiah, dan segelas es minuman bersoda-nya 4.000 Rupiah.

Diantara ketiga masakan welut yang aku tahu, Cemplon adalah yang paling pedas, dan paling murah. Karena harganya yang murah, porsinya pun sedikit. Tapi bumbunya, dijamin ciamik dan bikin lidah gak nahan pedesnya sampai perjalanan pulang dari Warung Welut Cemplon. Aku pesen sepiring nasi ini juga buat tombo pedes. Kalau pesen nasi di sini, pasti dikasih banyak, sepiring penuh. Sesuai lah sama pedes welutnya  yang butuh tombo pedes yang lebih.

Gak tahu kenapa, hari ini aku tiba-tiba pengen nyemplon sendiri. Semalam kemarin di Twitter, Bagus Awaluddin ngemensyen aku dan Kamali dan ngajakin nyemplon hari ini. Tapi setelah hari Kamis ini nggak ada kabar gimana lanjutan ajakannya, akhirnya aku putuskan buat berangkat nyemplon sendiri. Itung-itung muasin perut pake welut sebelum puasa. Karena pas puasa nanti gak mungkin lah makan welut yang rata-rata warungnya buka jam 10 pagi-1 siang. Kalau mbungkus pun, pedes welutnya yang gak nahan, bisa-bisa bikin sakit perut ntar. Karena perut selama bulan puasa kan cuman diisi pas maghrib sama sahur doang.

Sepulang dari Warung Welut Cemplon, aku nyempetin foto-foto pemandangan yang aku temui di jalan. Karena di Surabaya, aku nggak akan pernah menemui pemandangan seperti ini :)






Sesampainya aku di rumah, aku ditanyain ibu, "Ben dino kok welutan ae?" (tiap hari kok makan welut terus?)
dan aku cuman bisa njawab "Lagi pengen, hehe."


Senin, 16 Juli 2012

Karnaval, dan Ceritaku Tentang Karnaval Dari SMP Hingga SMA

Baru saja hari ini, Senin 16 Juli 2012, kota Tuban melangsungkan sebuah karnaval.



Karnaval di Tuban itu semacam pameran variasi adat dan budaya Indonesia (khususnya daerah Tuban) yang ditonjolkan secara visual, seperti yang terlihat dari foto di atas (diambil dari barisan tengah SMA Negeri 1 Tuban) dan pesertanya berjalan kira-kira sejauh 10 kilometer dari Alun-Alun Kota Tuban sampai Gedung Olahraga yang ada di daerah Patung. 

Well, acara akbar yang diadakan rutin tiap tahun sekali pada bulan pertengahan tahun ini diikuti oleh SMA, SMP, dan sederajat se-kota Tuban dengan tema-tema tertentu tiap sekolah.

Seperti biasa, karena karnaval diadakan sore, orang-orang yang mau menonton karnaval harus berangkat sedari siang. Biasanya jam 12 sampai jam 2 siang. Karena di atas jam segitu, jalanan sudah ramai dan sulit dilewati. Hari ini aku juga telah janjian sama teman-teman Manos (Mantan OSIS) untuk berkumpul di rumah Ayu sebelum bersama-sama menonton karnaval di jalan raya dekat rumahnya Ayu. Aku datang jam 2 siang, karena sebelumnya ngurusin trailer video COMMCAMP ON SEMPU dan makan dulu di rumah. Dan sesampainya di rumahnya Ayu, aku bertemu lagi dengan Tia, Cipenk, Ayu, Sandy, dan Mamat yang kemarin malam sudah bernostalgia sembari makan martabak dan terang bulan yang dibelikan Fredy. Sayangnya, Fredy nggak ikut nonton karnaval. Aku juga bertemu dengan Youngky, A'an, Shelma, Ipeh dan adiknya, serta dari Manos angkatan atas ada Mas Aldio dan Mas Bayu.

Kami pun berangkat nonton karnaval pukul 3 sore dan berjalan kaki melewati gang-gang sempit untuk sampai ke jalan Basuki Rahmat. Dan sesampainya di sana, jalanan sudah padat, penuh dengan orang-orang dari berbagai penjuru kota yang berkumpul untuk sekedar menonton kerabatnya yang ikut karnaval ataupun memang berniat menonton karnaval dari awal sampai akhir.

Selang beberapa menit, akhirnya muncul barisan pertama yang diawali oleh barisan Garuda dari SMK Pelayaran Tuban. Lalu disusul barisan kedua oleh SMP Negeri 1 Tuban.



Dulu, aku mengenyam pendidikan tingkat menengah di sini. Dan sayangnya aku nggak pernah ikut karnavalnya waktu itu gara-gara badanku yang tinggi dan kurus, maybe. Hahaha. Tahun ini SMPN1 ngambil tema Toeban Tempo Doeloe, dimana cewek-cowok barisan depannya berdandan ala pasukan jaman kompeni dengan sepeda tua-nya.



Dan tahun ini, SMPN1 nggak ngeluarin band buat karnaval. Nggak kayak jamanku dulu, dikit-dikit band, dikit-dikit band. Sampe pas karnaval suatu tahun aja pernah ngeluarin band-band doang buat andalan tontonan masyarakat.

Bukannya aku benci atau alergi sama band. Tapi gak tau rasanya suntuk aja kalau karnaval diisi sama band. Mungkin gara-gara aku dulu pas SMP keseringan nonton aksi temen-temenku sendiri yang sering muncul juga di mana-mana sih. Tapi emang harus aku akuin, angkatanku di SMP dulu banyak yang berbakat di bidang musik. Jadi, untuk ukuran seorang sepertiku yang cuma bakat masang senar gitar dan masukin kabel microphone ke mixer, sangat tidak diperhitungkan untuk masuk ke jajaran manusia-manusia bersuara emas, dewa-dewa gitar dan raja-raja drummer. Oleh karena itu, jujur, aku rada gak suka ada band di karnaval itu juga karena ada sedikit rasa cemburu sama mereka yang punya bakat bisa tampil di atas mobil pick-up dan dipelototin orang banyak sepanjang jalan Veteran-Basuki Rahmat-GOR. Tapi ya sudahlah, itu hanya kepingan kecil dari sebuah keinginan besar yang aku punya dari masa SMP: membentuk sebuah band, rekaman bikin lagu sendiri, dan menjadi terkenal bukan karena mengikuti pasar tetapi pasar-lah yang mengikuti style kami. Hahaha.

Skip,

SMA Negeri 1 Tuban ada di urutan ketiga.



Untunglah.

Jadi nggak perlu nunggu lama untuk menyaksikan penampilan sekolahku tercinta ini di karnaval.
Mengusung tema Ronggolawe dan Sri Huning, SMA-ku masih dengan tradisinya yaitu 'mengorbankan' siswa kelas X yang baru masuk untuk dijadikan pasukan karnaval dari barisan depan sampai akhir. Lihat aja ekspresi mereka yang didandani ala kesatria jaman dulu ini



Ada pula yang didandani dengan pakaian adat seperti ini,



Awalnya, pengalaman di angkatanku sih, banyak yang ogah-ogahan masuk squad karnaval, dan siswa kelas X yang gak kepilih pada sorak sorai bergembira ria. Tapi akhirnya, justru yang tidak ikut banyak yang iri karena cuman bisa ndengerin cerita-cerita dan pengalaman teman-teman yang ikut karnaval, apalagi pengalaman ikut karnaval ini bakalan jadi kenangan sampai kuliah dan mungkin bahkan sampai tua nanti. Rugi maksimal dah yang SMA-nya nggak pernah susah ikut karnaval macem gini. Termasuk juga untuk pengalaman masa MOS nih. Haha. Oke, itu lain cerita. Kembali ke tahun 2008, dimana ingatanku masih tersimpan cerita saat aku ikut mengisi barisan depan SMA Negeri 1 Tuban, menjadi Putra dari Aceh, dan berpasangan dengan Dyah, temanku SMA yang sekarang kuliah di FK Unair.


Saat itu aku ingat betapa susahnya mencari pinjaman baju yang cocok di salon-salon dan tukang jahit. Bahkan, aku juga ingat, H-2 sebelum karnaval aku dan sahabatku Adi Sapies mengalami insiden kecelakaan di jalan dekat SMA, yang mengakibatkan jari kelingking Adi cacat hingga sekarang. Aku hanya cacat sedikit di bagian tulang telapak tangan kanan. Tapi Adi, dia harus operasi dan memasang pen di jari kelingkingnya .
I still remember that moment. And I feel sorry, deeply sorry for that accident, brother. Aku masih bisa mengikuti karnaval karena berhasil memperoleh pinjaman baju dari suatu salon. Sedangkan Adi harus terbaring di rumah sakit. Sungguh, pengalaman ini gak akan aku lupakan sampai tua nanti.


Biasanya sih, tiap tahun karnaval itu pasti selesainya maghrib. Dan tahun ini pun demikian. Hanya saja, gak tau kenapa tahun ini lebih membosankan daripada tahun-tahun sebelumnya aku nonton karnaval. Apa karena sekarang aku nontonnya sama teman-teman yang jumlahnya lebih sedikit? Atau, karena delay barisan  antar sekolah yang terlalu lama? Karena sampai jam setengah 5 sore, barisan masih berkutat di urutan 14-16 diantara 30 sekolah yang jadi peserta. Aku dan teman-temanku akhirnya memutuskan untuk pulang pada pukul 04.45 sore.

Setidaknya, aku masih sempat mengabadikan beberapa foto dari barisan karnaval SMP dan SMA Negeri 1 Tuban. :]


Dibawah ini adalah mobil yang disulap jadi semacam minatur stereofoam rumah tempo dulu dari SMP Negeri 1 Tuban,  

Dan yang ini juga ada beberapa mobil dari SMA Negeri 1 Tuban yang dipermak dengan bahan stereofoam menjadi mobil hias dengan logo SMA yang mentereng di depan.

  

Semoga karnaval tahun depan lebih ramai, meriah, dan tidak terkesan membosankan seperti tahun ini.
Amin.