Twitter

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

“Karena Ada ‘Indah’ dalam Setiap ‘Pindah’”



Well, quote bagus ini adalah milik orisinil dari buku kumpulan cerpen “Pindah”, yang dipinjamkan seseorang ke aku. Aku sedang tidak menulis resensi buku itu sih. Tetapi hanya sekedar membagi pengalamanku ketika berpindah – pindah kosan. Sampe ke kos yang sekarang dan aku rasa berhenti di sini sampai aku lulus. Dan quote dari buku “Pindah” ini adalah yang paling tepat menggambarkan pengalamanku pindah kosan dua kali.
Anyway, let’s get the story done.

Aku pertama kali ngekos adalah di Gubeng Kertajaya 7L, di mana di situ adalah tempat aku memulai, mengalami dan mencerna banyak sekali pelajaran akademik dan non akademik. Di kos Gubeng Kertajaya itu juga-lah tempat aku dipertemukan dengan seorang partner in crime dari Balikpapan, Tyan Ristanto.

Cerita ketika aku bisa sekosan sama sahabatku yang satu itu, adalah dimulai dari saat aku masih ngekos sendirian. Ada kamar kosong di lantai satu, dan aku sudah menawarkan ke hampir semua teman sejurusan dan tidak ada yang mengiyakan. Dan Tyan, adalah teman terakhir yang aku tawari kamar kosong di kosanku itu. Tentu saja, seperti kebanyakan yang lain, ia juga menolak tawaranku. Sampai suatu malam di awal semester, aku sedang bermain DotA dengan Tatit, Bima, dan Gebi, kawan – kawan DotA-ku di kampus. 

Malam itu tiba – tiba Tyan meneleponku, dan kemudian aku kaget karena suaranya dia terdengar panik. Ternyata, malam itu dia tiba – tiba berubah pikiran dan mau ambil kamar kosong yang ada di kosanku. Awalnya dia menolak karena alasan dia sudah dicarikan kosan sama Budhenya. Tapi karena kejauhan, dia akhirnya mau cari kosan yang dekat kampus saja. Dan tawaranku adalah yang paling bisa dipertimbangkan Tyan saat itu.

Aku langsung cabut dari warnet dan menuju kosan. Tyan nggugupi. Karena dia sudah membatalkan kontrak dengan kosan yang dicariin Budhenya. Kalau tidak segera mendapatkan kosan baru, Tyan bakal kena marah besar. Karena itu dia sedikit panik ketika memintaku untuk segera balik ke kosan dan memastikan kamar yang kosong itu belum dibooking orang.

And praise the Lord, kamar itu masih kosong. Cuman ada masalah baru: Motor.
Bu Sum, yang punya kosan, gak mau kalau penghuni baru kamar itu nanti bawa motor. Karena kapasitas parkir motor di kosan itu terbatas. Akhirnya aku membujuk Bu Sum kalau motornya Tyan nanti bisa ditaruh di sana atau sini atau gimana aja lah yang penting Tyan-nya dapet tempat di kosan. Setelah sedikit lama berpikir, akhirnya Bu Sum mengiyakan.

At last, aku akhirnya punya teman sekosan yang juga sejurusan untuk pertama kali. Tyan Ristanto.
Aku ngekos di Gubeng Kertajaya itu sudah lumayan lama sekali. Banyak sekali cerita dan berbagi pengalaman hidup dengan teman – teman sekosan di sana. Barok, Amik, Kakaknya Amik, dan Tyan. Dan akhirnya, pada suatu kejadian, regulasi Bu Sum tiba – tiba saja berubah.

Aku suka menempel nota dan catatan apa pun di dinding kosanku saat itu. Sekedar untuk pengingat bahwa ada kenangan dari tiap kertas yang aku tempel. Tapi pada suatu hari setelah aku pulang dari bermain futsal, tiba – tiba dinding kamarku bersih. Aku langsung menanyai Bu Sum ke mana kertas – kertasku itu. Ia bilang menyimpannya, dan ia juga memarahiku karena aku dianggapnya bandel dan susah dibilangi. Katanya, ia sudah memperingatkanku untuk melepas kertas – kertas itu dari tembok. Padahal, aku sudah melakukan kebiasaan menempel kertas di tembok itu sejak semester satu. Dan baru semester empat ini tiba – tiba Bu Sum berbuat demikian. Aku tidak ingin menduga macam – macam atau mengatainya sedang terkena masalah atau bagaimana. Tapi ya mau bagaimanapun juga aku kesal, karena dengan membredel isi kamarku artinya Bu Sum sudah memberikan pertanda insecure untuk tinggal di situ.

Aku akhirnya menjadi tidak suka berada di situ. Bu Sum terlalu ikut campur dalam isi dan ‘ornamen’ kamarku. Yang paling membuatku marah adalah ada sketch gambarku yang ku tempel di tembok dan Bu Sum melepasnya dengan sembarangan hingga kertasnya robek. Dalam semalam, bukti – bukti empirikku melakukan sesuatu yang berharga untuk dikenang ke mana – mana jadi porak poranda. Ah, aku selalu kesal ketika mengingatnya.

Anyway, itu akhirnya menjadi awal perpindahanku. Aku mengemasi barang – barangku berhari – hari. Dengan tetap bertahan di kamar Gubeng Kertajaya karena urusan barang – barangku yang belum selesai ter-packing. Aku menyempatkan waktu sebelum kuliah dengan mencari kosan di daerah lain yang dekat Universitas Airlangga Kampus B.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah rumah sederhana yang menempelkan tulisan “Terima Kost Pria” di gang Gubeng Jaya. And, I take it anyway.

Perpindahanku dari Gubeng Kertajaya ke Gubeng Jaya ini benar – benar tidak pernah aku bayangkan. Aku dari awal ngekos sudah ada bayangan kalau aku bakal di Gubeng Kertajaya terus sampai lulus. Tapi pada akhirnya, aku pindah juga. Ya sudahlah. Akhirnya aku berpamitan dan meminta maaf ke semua rekan yang ada di kos lama. Termasuk Bu Sum. And thanks a lot for Tim CSR Oposisi, aku akhirnya bisa pindah dengan barang – barang banyak ini ke kosan yang baru. Hahaha.

Kosan baru, pengalaman baru. Di Gubeng Jaya ini aku hanya bertahan satu semester. Tapi sudah lumayan membekas pengalaman berada di sini. Aku mengenal nenek yang baik hati, yang sering memasakkan sesuatu bila beliau melihatku ada dan lagi nganggur di kamar kosan. Ada juga ibu kos sekeluarga yang baik, yang menawariku kasur tambahan, dan selalu bersikap baik pada semua penghuni kosan. Kamar sebelahku diisi oleh mahasiswa Farmasi yang sudah menjalani profesi, dan sebelahnya lagi adalah suami istri yang punya seorang anak kecil laki – laki yang lucu. Aku menjalani suasana yang tenang di sini. Tapi saking tenangnya, aku juga tidak nyaman sendiri. Aku jarang sekali di kamar. Kamarku aku biarkan berantakan apa adanya. Karena entah kenapa firasatku bilang aku gak bakal lama di sini.

Akhirnya memasuki semester 6, firasatku benar. Kawanku Lukman, mengatakan kalau ada kamar kosong di kosan yang ia juga tempati. Tanpa pikir panjang aku mengiyakannya.

Finally, second moving, and the last moving.

Kali ini aku pindah lagi, untuk yang kedua dan terakhir, dibantu teman –temanku Bima, Ayiph, dan Luqman. Aku juga dibantu Tatit untuk menyusun dan membuat rak – rak buku di kamarku yang baru.

Well, I’m feeling blessed to have such good friends around me.

Di kosan baru di Jojoran ini, aku benar – benar feeling the living. Dibandingkan dua kos yang pernah aku tempati, ini yang terbesar dengan sepuluh kamar, atau lebih dikit. Dan di sini temannya asik – asik. Mereka punya hobi bermain DotA, dan banyak juga yang hobi musik. Di sini juga ada Lukman teman sejurusan yang bisa jadi teman sharing kuliah. Dekat dengan warung giras, untuk sekedar ngopi atau cari makan. Dan akhirnya kamarku kembali sering dikunjungi teman – teman lagi. Feeling so alive.

At least, aku juga tidak akan pernah melupakan waktu – waktu yang udah aku habiskan di kos – kos sebelumnya. Tyan masih jadi sahabat, my partner in crime. Aku juga masih sering tanya gimana keadaan kosnya Bu Sum dan kabar kamarku dulu. Kata Tyan, semenjak aku pergi, kosan Bu Sum jadi lebih sepi. Kamarku gonta – ganti yang ngisi. Tapi ya sudahlah, mungkin itu lebih baik untuk mereka yang di sana. Aku juga masih sering ke daerah kosan Gubeng Jaya. Ada tempat ngeprint yang murah dan laundry yang baik juga di sana, hehe.


Time change, dua kata ini benar – benar terasa buatku ketika bercerita tentang perpindahan. Banyak yang aku dapat dari dua kali perpindahan. Dan memang benar – benar ada ‘indah’ dalam setiap ‘pindah’. J

Senin, 13 Mei 2013

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #8: Hari Untuk Pulang dan Kembali




Hari ini, Jumat 10 Mei 2013, Ibu akhirnya bisa kembali ke rumah Tuban. Kemarin dokter sudah memberi izin untuk pulang. Sebenarnya, tenaga Ibu masih belum 100% pulih. Tapi semangat Ibu untuk sembuh dan rajin melatih ototnya bergerak itu yang membuat dokter yakin kalau Ibu pasti bisa sembuh dari penyakit GBS meskipun sudah tidak rawat jalan lagi. Setelah ini, Ibu hanya diwajibkan kontrol seminggu sekali. Tapi itu lebih baik, daripada harus berada di kamar pesakitan dan jauh dari orang-orang rumah. Lagian, bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang disayangi itu menurutku sudah menjadi obat tersendiri bagi Ibu. Hehe.

Well, kalau hari ini Ibu pulang, berarti ini saatnya juga aku untuk kembali. Aku sudah terlalu lama menghilang dari peredaran kampus. Setidaknya aku harus mulai aktif kembali untuk menyesuaikan dengan semua yang di sini.

Tepat pukul 12.30 siang, usai berkemas dengan Bapak dan dibantu Mbak Lia sepupuku, Ibu pun diantar sampai duduk di kursi mobil. Aku pun menyalami Ibu, dan pamit kembali ke Surabaya, dilanjutkan dengan berpamitan ke Bapak. Pintu mobil sudah ditutup, aku berjalan menuju parkiran motor dengan Mbak Lia, dan aku lihat mobil Bapak dan Ibu keluar dari gerbang rumah sakit. Aku pun mengucapkan terima kasih ke Mbak Lia karena sudah dibantu, dan akhirnya aku menuju motorku yang ku letakkan sedikit jauh di pojokan. Lega rasanya, Ibu sudah sembuh.

Sembari mengencangkan slayer di hidung dan mengenakan sarung tangan, pikiranku mulai terhenyak sedikit. Aku tiba-tiba seperti merasa asing dengan motorku, bahkan pikiranku sendiri. Entah, aku mungkin hanya berlebihan. Akhirnya aku hentikan paksa pikiran untuk berpikir macam-macam. Lekas aku gas motorku dan keluar dari rumah sakit, menuju Surabaya ibu kota Jawa Timur.

Singkat cerita, aku sampai di kos pukul 4 sore hari. Dan sepertinya waktunya tepat dengan waktu keberangkatanku ke Gresik, yang itu berarti aku sudah meninggalkan Surabaya 2 minggu lamanya. Benar saja, di parkiran motor rumah sakit aku sedikit merasa aneh. Di kosanku apalagi, aku malah merasa seperti alien di sini.

Pikiranku kacau. Aku seperti nggak tahu harus apa. Orang-orang tidak ada di kos, hanya ada Buk Sum yang sedang bersih-bersih kamar. Aku pun sempat ditanyai tentang Ibuku oleh Buk Sum ini. Ternyata Tyan, temen sejurusan yang juga sekosanku ngasih tahu Buk Sum kalau aku ke luar kota karena Ibuku sakit. Well, pembicaraan singkat ini tidak membantuku lepas dari rumitnya pikiranku. Aku menuju kamar, dan akhirnya aku bersihkan sedikit barang-barang di kamarku. Karena pikiranku yang masih ‘jetlag’, aku menuju balkon lantai dua untuk mencoba mencari udara segar.

Aku kembali. Itu yang ada di pikiranku. Tapi kemudian beberapa pertanyaan menyertai.

Bisakah aku mengikuti agenda kegiatan bulan ini?

Bisakah aku membantu progress usaha teman-temanku di sini?

Bisakah aku kembali berkoordinasi dengan yang lain?

Bisakah aku berguna?

Ah, I’m overthinked. Kemudian aku putuskan untuk kembali ke kamar dan rebahan. Akhirnya, aku perintahkan badan ini untuk tidur. Dan aku paksakan pikiranku untuk ‘sehat’, hingga ada satu kesimpulan yang bisa membuatku tidur nyenyak. Apapun yang terjadi saat ini, entah aku benar-benar bisa kembali atau tidak, aku tetap harus melakukan apa yang harusnya aku lakukan, dan membantu apa yang bisa aku bantu di sini.

Berpikir saja tidak akan membawa tubuh ke mana-mana.

Semangat!

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #7: How To Be A Good Mom’s Keeper




Aku bukan orang yang rajin, apalagi telaten. Tapi sekarang mau nggak mau ya aku harus bisa rajin dan telaten untuk membantu Ibu melakukan aktivitas. Seperti makan, sikat gigi, minum obat, hingga melatih tangan dan kakinya supaya bisa bergerak lagi. Okey, sebagai seorang anak laki-laki yang (berusaha) berbakti, aku harus bisa menunjukkan kalau aku telaten membantu Ibu di sini.

Aturan yang pertama, rajin.

Ibu adalah seorang pekerja keras. Dulu bahkan Ibuku seorang atlit voli. Tapi karena GBS ini, Ibu jadi lemah sendi dan otot-ototnya. Semua aktivitas mau nggak mau ya harus dibantu.

Aku adalah anak yang pemalas, suka bangun kesiangan, nggak pernah rapi dan serba berantakan. Tapi kalau sudah berhadapan sama urusan ginian ya aku harus bertransformasi jadi alterego-ku yang sebaliknya. Okey, maksa sih. Tapi otakku ini tahu situasi kok. Aku di kosan sering bangun kesiangan gara-gara ga dengar alarm bunyi pagi-pagi. Di rumah sakit ini, aku bisa segera bangun hanya dengan panggilan “Le..” dari Ibu, bahkan meskipun dengan suara rendah. Telingaku seperti kemasukan radar dengan sensitivitas suara yang tinggi. Wow deh. Pokoknya aku di sini sekarang mendadak jadi lebih rajin. Oke, meskipun kesimpulan ini sedikit tidak nyambung antara rajin, pemaparan contoh tentang bangun kesiangan dan panggilan Ibu,  tapi memang suara panggilan dari Ibu adalah alarm alami yang nggak bakal tergantikan seumur hidup.

Aturan yang kedua, telaten.

Menyuapi makan, memijat kaki dan tangan, dan memakaikan pampers adalah hal yang harus aku lakukan selama Ibu masih dalam tahap awal pemulihan. Okey, mungkin aku nggak jago menyuapi makan Ibu. Tapi percayalah, nggak ada kaitannya antara jomblo sama nggak jago nyuapi makan. Yang penting, telaten. Terus soal pijat memijat, aku mewarisi sedikit, atau mungkin secuil, ilmu mbah kakung-ku yang dulunya orang ‘pinter’. Oke, lagi-lagi mungkin nggak nyambung ya, antara ilmu orang ‘pinter’ sama bakat mijet, tapi seriously, memijat ini harus telaten. Hal yang nggak kalah kudu telaten, adalah memakaikan pampers. Well, anggap saja aku adalah calon ayah yang baik. Belum punya istri, bahkan pacar, tapi sudah belajar memakaikan pampers...meskipun ke orang tua. Hehe.

Anyway, semua hal yang harus dilakukan secara telaten ini mengingatkan aku pada masa kecilku dulu. Aku akui, dulu aku adalah anak yang rewel, makan susah, sering minta dipijet, dan ngompolan...oke aku bener-bener akuin itu. Dan membantu Ibu dengan menyuapinya makan, memijat, dan mengenakan pampersnya, aku jadi mengerti bahwa dulu Ibu pasti berusaha keras melakukan semua hal itu ke aku. Dan ini adalah waktunya aku membalas kebaikan Ibu yang tidak terhingga itu.

Aturan yang ketiga, sabar.

Kalau sabar adalah mata kuliah, aku pasti sudah dapat E. Hanya saja kali ini berkat otakku yang tahu situasi, aku jadi berusaha lebih sabar dan mencoba menahan semua emosiku yang berlebihan, dalam hal apapun. Misalnya ketika Ibu sedikit cerewet dalam mengingatkanku untuk mandi, makan, dan lain-lain. Dulu, sampai sekarang sih, aku sedikit malas kalau orang lain mengatur-atur jadwal pribadiku, bahkan Ibu sekalipun. Tapi ya aku dengarkan saja apapun yang Ibu ucapkan soal lekas mandi dan segera makan. Meskipun sedang sakit, tapi Ibu masih tetap rajin kalau mengingatkanku tentang macam-macam. Well, aku memang malas diingatkan terus-terusan, tapi hal ini juga yang membuatku kangen sama Ibu kalau sedang di kos. Hehe.

Intinya, kudu rajin, telaten, dan sabar. Yauda sih gitu aja.

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #6: Kangen Obrolan Kampus




Okay, ini cuma sekedar curhatan aja sih.

Baru kali ini aku ngerasa aku kangen obrolan kampus, padahal satu sisi aku juga ingin liburan. Tapi ya karena aku sekarang tidak sedang liburan, mungkin itu yang menyebabkan aku kangen sama obrolan dan teman-teman di kampus.

Harusnya beberapa hari ini aku ikut membantu acara Hutkom, launching Himakom, sampe ongkrah-ongkrah laboratorium, dan bantuin temen-temen yang ada di Sinematografi. Tapi ya sudahlah. Aku di sini punya misi yang lebih penting. J

But it’s a relief. Ada Tatit dan Kopler, kedua teman jurusanku, yang bela-belain jauh-jauh dari Surabaya, gak pake ngomong mau mampir, langsung menuju kamarnya Ibuku. Dan kehadiran kedua makhluk ini lumayan mengobatiku ngobrol bicara seputar kampus.

Beberapa hari kemudian, ada Reyhan, sobatku dari Riau yang berkendara seorang diri dari rumah neneknya langsung menuju sini, kemudian disusul Agung, temanku yang aseli Gresik, meramaikan suasana di kamar pasien ini. Terlebih lagi aku dibelikan mie setan malamnya, dan mie ini sukses membuat perutku panas sepanjang jam tidur berlalu. Pfft.

Aku senang, masih ada beberapa teman yang sempat ke sini walau ada kesibukan juga di Surabaya. Tapi bukan berarti aku menilai yang lain tidak peduli. Aku mengerti, di Surabaya pada bulan Mei ini memang sedang banyak acara. Dan harusnya aku memang tidak menyusahkan mereka semua. Doa yang mereka ucapkan untuk Ibuku sudah lebih daripada cukup.

Terima kasih teman-teman. J

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #5: Infeksi yang Tak Terdeteksi




Aku menulis ini hari Rabu, 8 Mei 2013. Dan sampai sekarang infeksi yang menyebabkan GBS pada Ibu belum diketahui. Hanya saja aku bersyukur, hari ini tepat 2 minggu Ibuku masuk rumah sakit, dan alhamdulillah Ibu sudah bisa berdiri dan berjalan sendiri, walau masih tertatih dikit-dikit. Beda sekali dengan kondisi Ibu ketika awal masuk rumah sakit.

Ibu masuk Rumah Sakit Semen Gresik, Tuban, pada hari Rabu 24 April 2013. Kondisi Ibu di sini semakin memburuk. Atas rujukan dokter, Ibu dibawa ke Rumah Sakit Semen Gresik (RSSG), Gresik, pada hari Jumat 26 April 2013 agar bisa ditangani langsung oleh dokter Yusuf, dokter syaraf yang ada di RSSG Gresik.

Dari awal Ibu sudah difoto ronsen bermacam-macam. Bahkan sampai di RSSG Gresik, Ibu masih difoto lagi. Tapi kali ini fokusnya ke paru-paru. Karena dokter mencurigai adanya infeksi di bagian situ. Aku pun ikut meyakini, karena setahun yang lalu kalau tidak salah, Ibu sempat batuk-batuk parah. Tapi sama dokter cuma dikasih obat batuk biasa. Asumsiku, barangkali itu batuk ada kaitannya sama infeksi di paru-paru. Hingga akhirnya dokter syaraf bekerja sama dengan dokter paru-paru, kemudian Ibu di-USG dan foto lagi, eh, ternyata dokter paru-paru menyatakan tidak ada infeksi di bagian situ.

Aku menjadi semakin heran. Lantas di mana infeksinya?

Liver pun dicek oleh dokter Yusuf, tetapi hasilnya juga nihil. Lantas aku ingat Ibu sempat operasi patah tulang di kaki beberapa bulan lalu, dan Ibu pernah sambat jahitannya kebuka. Akhirnya aku sampaikan itu ke dokter, dan dokter pun saat ini sedang menelitinya.

Well, di mana pun infeksinya, aku harap tidak ditemukan di bagian vital. Aku cuma ingin infeksinya segera ditemukan dan Ibu bisa lekas memperoleh penyembuhan yang maksimal.

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #4: Guillain Barre Syndrome



Penyakit ini adalah salah satu dari beberapa penyakit langka yang membuat syaraf gerak bermasalah. Well, aku share sedikit pemahamanku mengenai penyakit ini. Jika ada yang salah, mohon koreksinya ya.

Sepemahamanku, penyakit ini adalah penyakit ‘nebeng’ yang perlu diwaspadai. Karena penyakit ini sebetulnya disebabkan oleh adanya infeksi di dalam tubuh terlebih dahulu. Jadi, sistemasi timbulnya penyakit ini diawali oleh infeksi di dalam tubuh (bisa juga disebabkan bekas operasi yang tidak beres) kemudian virus menyebar di peredaran darah pasien. Nah, imun dari tubuh pasien tidak bisa membedakan sel syaraf dan virus yang harus dilawan. Imun justru menyerang sel syaraf penggerak, dan ini berakibat syaraf penggerak jadi bermasalah sehingga beberapa anggota tubuh seperti tangan dan kaki jadi tidak bisa digerakkan.

Selengkapnya tentang GBS, aku baca di www.camar25.com/2012/11/radang-syaraf-penyebab-kelumpuhan.html

Ngeri, sebenernya. Kalau sampai tahap yang fatal bisa menyerang pernafasan. Selain itu penyembuhannya memakan waktu lama. Tergantung sudah seberapa parah penyakitnya ketika dibawa ke rumah sakit sih. Untung, ibuku cepat dilarikan ke rumah sakit.

Kronologisnya, Ibu sempat terjatuh di restoran pada hari Minggu 21 April 2013, tapi jatuhnya nggak parah sih, tapi sempet curiga ini penyebabnya. Senin 22 April 2013, Ibu menemani Bapak pergi ke Batam. Ibu tidak merasakan apapun yang aneh awalnya. Hingga Selasa 23 April 2013, Ibu merasakan kesemutan di tangan dan kaki. Tapi ibu masih sanggup berjalan dari hotel sampai ke gedung acara yang jaraknya lumayan jauh. Kemudian Rabu 24 April 2013, kesemutan di tangan dan kaki Ibu sudah luar biasa rasanya. Akhirnya Bapak yang membawa dan mengurus semua barang-barang yang dibawa mereka ke Batam. Pokoknya Ibu tidak boleh terbebani apapun. Sampai akhirnya tiba di bandara Ibu sudah lemas. Tepat Rabu malam, Ibuku sampai di rumah, kemudian langsung dilarikan ke Rumah Sakit Semen Gresik yang di Tuban.

Jadi, tidak ada jeda sama sekali di kasusnya Ibuku. Aku rasa, penanganan di Ibuku sudah benar-benar cepat. Jadi spekulasiku, Ibu tidak akan memakan waktu berbulan-bulan, seperti contoh penyembuhan GBS yang aku baca di internet.

Penyakit ini bisa dibantu penyembuhannya dengan suntikan Immuno Globulin. Semacam cairan tubuh manusia. Kalo yang diinjeksikan ke Ibuku, mereknya Gammaraas. Beruntung, Ibu ini sakitnya masih tanggungan perusahaan. Kalau tidak mungkin kami bakal berpikir dua kali untuk mengiyakan suntikan Immuno Globulin ini. Bayangkan saja, satu botol kecil itu harganya sekitar 3 jutaan! Sedangkan Ibuku harus diinjeksi obat ini 2 kali sehari, tiap sore dan maghrib, selama 5 hari berturut-turut. Total buat Immuno Globulin doang bisa sampe 30 jutaan. Fyuh.

Untuk obat-obatan yang diminum, aku kurang tahu. Pokoknya ada 2 hingga 4 jenis pil yang biasa diminum Ibu dari pagi sampai malam. Dan Ibu sama Bapak pake nambahin obat penyembuhan dengan membeli obat cina, yang mereknya Niwana (yang katanya Ibuku rasanya kayak pasir) sama Super Green Food (pil yang diminum 10 butir sekali masuk, baunya kayak pakan ikan).

Well aku nggak begitu percaya sama obat cina ini. Tapi ya sudahlah, Bapak dan Ibuku yang percaya obat ini bisa membantu. Jadi aku hanya membantu Ibu mengembalikan kepercayaan dirinya untuk sembuh dengan turut mendukung penggunaan obat-obat sodaranya Binahong ini.

Ada lagi, Ibu percaya sama cerita mas Andik, suami kakak pertamaku, kalau makan pisang bisa membantu nyembuhin otot-otot yang kaku. Kalau ceritanya mas Andik sih ekstrim ya. Katanya ada orang di desa, stroke, terus gak pake obat cuma makan pisang tiap hari uda sembuh sehat wal afiat. Well, tapi akhirnya nambah lagi daftar obat tambahan yang bakal dikonsumsi Ibu: “pisang”.

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #3: Penyakit Langka



Penyakit yang menyerang orang tua di usia lanjut memang variasi, dan rata-rata sedikit berbahaya. 1-2 hari di sini, dokter masih belum bisa mengetahui apa penyakit Ibuku ini. Yang jelas, dokter hanya menyatakan, Ibuku menderita penyakit langka. Aku jadi bertanya-tanya, kalau bukan stroke, lantas apa yang diderita Ibu?
Aku surfing di internet menggunakan handphone android-ku yang sinyal-nya mripit-mripit. Aku ketik keyword di Google, “Penyakit syaraf langka”. Well, loading lama, membuatku kudu sabar. Entahlah, ini rumah sakit sudah di kota tapi tiap masuk kamar ini sinyal jadi rada mbambet. Kalau keluar baru 3G-nya kerasa. Dan di sini aku cuma bisa menggantungkan nasib konektivitas email dan browser ke handphone android yang bersinyal EDGE nanggung ini.

“Guillain Barre Syndrome”, “Progressive Multifocal Leukoencephalopathy”, “Spinal Muscular Atrophy”....
Ketiga penyakit ini ciri-cirinya hampir persis dengan apa yang dialami Ibuku. Tapi dugaanku mengerucut ke “Guillain Barre Syndrome”, yang ciri-cirinya paling persis. Dan benar saja, sore hari Minggu 29 April 2013 dokter melakukan ‘lumbal’ (operasi kecil pengambilan cairan tulang belakang), kemudian hasilnya keluar Senin pagi hari berikutnya, dokter mengatakan, “GBS.”

Aku menjadi semakin gencar googling dan mengabari kakak-kakakku tentang penyakit ini. Kami berusaha  mencari informasi cara penyembuhan di mana-mana. Yang penting, kami ikhtiar dan berdoa semoga Ibu lekas sembuh dari penyakit GBS ini.

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #2: Pulang yang Tidak Pulang




Di perjalanan menuju rumah sakit yang ada di pikiranku hanya Ibu. Aku masih tidak percaya, beliau yang enerjik dan biasa bekerja dengan porsi berat di dapur mendadak terserang penyakit yang membuatnya setengah lumpuh. Bapak hanya menceritakan sedikit bahwa ibu ada radang syaraf di tulang belakang. Dan ini menyebabkan ibu tidak bisa menggerakkan kaki dan tangannya karena kaku. Aku jadi menerka-nerka, apa mungkin ini stroke?

Usia ibuku sudah tidak muda. Stroke, adalah penyakit mainstream yang biasa aku dengar di kalangan orang-orang yang mau pensiun. Well, ya, Bapakku pensiun bulan September. At least, aku dan sekeluarga bersyukur Ibu sakit pas Bapak belum pensiun, jadi ini masih tanggungan perusahaan.

Aku sampai di rumah sakit. Di sini, di kamar 217 ini, aku bertemu dengan kedua orang tuaku. Biasanya mereka menyambutku dengan senyum yang mengembang. Kali ini, ada yang menghambat senyum itu berkembang dari wajah mereka. Ya, bisa dikatakan aku ‘pulang’, karena bertemu dengan kedua orang tuaku. Tapi sayangnya, aku pulang tapi tidak untuk pulang. Aku punya misi untuk mendampingi Ibuku sampai beliau sembuh.

Pukul 8 malam hari, Bapak meninggalkan aku dan Ibuku di kamar ini. Sempat terlintas dalam benakku bahwa aku akan betah di sini. AC, kamar mandi dengan air hangat, serta televisi kabel, semuanya adalah fasilitas langka yang jarang aku rasakan sebagai anak kos (I admit it, though). Well, tapi siapa yang mau betah di rumah sakit? Aku marah sama pikiranku yang membetahkan diri di sini. Aku harus berusaha membantu dan mendampingi Ibu agar bisa lekas keluar dari tempat ini.

Cerita dari Kasur Pendamping Pasien #1: Skala Prioritas




Jumat, 26 April 2013. Aku terkejut mendapati kabar dari Bapak kalau Ibu masuk Rumah Sakit. Apalagi kali ini penyebabnya tidak sama dengan operasi patah tulang kaki beberapa bulan lalu. Ini beda lagi. Katanya radang syaraf tulang belakang. Dan itu membuat ibu tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Seketika seharian itu pikiranku jadi tidak fokus karena memikirkan ibu.

Aku hari ini ada jadwal latihan band dengan teman sejurusan dan rapat di sekre Sinematografi UA, selain itu aku juga meminta tolong Mandor, temanku sejurusan untuk membenahi laptopku. Aku sedikit  kebingungan mengatur waktu. In the end, aku berakhir mengorbankan jadwal latihan band. Padahal aku sudah ngempet pengen gebuk-gebuk drum atau genjreng-genjreng gitar pake distorsi. Tapi ya sudahlah, aku nggak punya waktu banyak.

Setelah laptopku kembali sehat dari sakit Blue Screen Of Dead, aku berterimakasih kepada Mandor, dan menyegerakan diri untuk ke rapat di sekre sinema kampus C. Sebelumnya, aku meminta maaf dulu kepada teman-temanku yang sudah terlanjur aku ajak latihan band. Karena gak enak sama mereka. Aku yang inisiatif ngajak latihan tapi aku sendiri yang mengacaukan.

Sore pukul empat. Aku mempercepat langkahku menuju sekre sinema. Berharap aku bisa segera mengkoordinasi teman-teman divisiku untuk mengadakan 2 acara les edukasi esok dan beberapa hari ke depan. And, voila. Aku justru mendapati rasa sungkan di sekre. Teman-teman sedang mengadakan bersih-bersih sekre. Dan tentu saja, aku sebagai orang yang baru datang dan yang butuh segera bergegas pergi lagi, jadi tidak enak hati. Tapi ya sudahlah. Aku sendiri berusaha menenangkan diriku dan akhirnya bisa mengkoordinasikan semua yang aku rasa perlu didiskusikan sebelum aku cabut. Well, aku nggak pandai menyampaikan pesan. Aku nggak mau alasan ibuku sakit jadi penghambat koordinasiku dengan orang-orang di sini. Tapi at least teman-temanku mengerti dan memahami situasiku saat ini, aku jadi sedikit lega.

Aku mempercepat laju motorku ke kosan. Aku memasukkan barang-barang dan pakaian seperlunya, dengan estimasi aku belum akan kembali ke Surabaya kira-kira seminggu ke depan. Entah, instingku berkata demikian. Tidak ada maksud untuk lari dari rutinitas, ini tentang prioritas!

I still remember a quote from anonymous: “Family is number one.”

Rabu, 06 Maret 2013

Foto: I'm Flying!






Oke, agak ndeso bin kampung dikit kali ya.
Tapi ini pengalaman pertama naik pesawat sih, dan berhasil mengambil beberapa gambar menggunakan 650D-ku ketika pesawat sedang melangit.
Aku terbang ke Jakarta, saat itu. Lagi pengen main ke rumah Fais, Upan, Naufal, sodara-sodara yang biasanya ketemunya cuman pas Idul Fitri doang.
Jadi, hari Rabu tanggal 13 Februari 2013 saat itu, aku ke Jakarta naik pesawat, jalan-jalan di Jakarta sampai ke museum sejarah dan kota tua, ngerasain riwehnya busway, dan sibuknya ibukota.
Tapi perjalanan liburan belum selesai.
Minggu 17 Februari 2013 aku balik ke Surabaya, ikut ngurusin Commcamp sedikit di kampus, packing malamnya bersama si Sompret Reyhan...

Aaaaaaand, Senin 18 Februari adventure begins! :)
(to be continued)

Kamis, 23 Agustus 2012

Catatan Lebaran H-6 = Buber, Buber Everywhere...

Yeah,
H-6 lebaran itu...
buber, buber everywhere :|

H-6 lebaran, seminggu penuh dengan jadwal buka puasa di luar. Dan semuanya secara nggak sengaja bisa runtut menimpa daku yang bingung dengan buber-buber ini -____-

Senin 13 Agustus, aku iseng ngajak keluar adik kelasku, Mirra. Dan doi ternyata juga lagi pengen keluar gara-gara suntuk di rumah. Yaudah jadi dah sore hari aku jalan-jalan motoran keliling kota Tuban sama doi, dan berhenti di pantai Boom untuk jalan-jalan lagi, pake kaki. Dulu, aku pernah ngajak doi ke sini buat hunting foto, sayangnya doi ada latihan dance dan alhasil aku pun hunting sendiri. Dan sore itu pun akhirnya kami habiskan dengan bercerita-cerita sambil foto-foto geje di pantai. Sampai akhirnya pukul 17.15, kami cabut dari sana dan pergi ke warung lesehan dekat PGRI untuk berbuka makan penyetan. Lumayan, gara-gara doi bentar lagi ulang tahun, aku dibayarin jadinya. Hahaha ~ *mukanebeng


Selasa 14 Agustus, sesuai dengan SMS yang dikirim bro Gecol bahwa doi bakal main ke Tuban hari ini, jadilah aku, Gecol dan Fandy jalan-jalan sore ke pantai depan klenteng untuk sekedar berbagi cerita satu sama lain. Udah lama gak ketemu mereka, by the way. Makanya aku sendiri juga betah ngobrol lama sama sohib-sohib yang satu ini. Kami akhirnya buka bersama di soto ayam Lamongan jalan Basuki Rahmat.


Rabu, 15 Agustus, gara-gara Danes baru ngasih tau Gecol sorenya kalo doi besok mau main ke Tuban, hari ini pun aku kembali bergumul dengan Gecol dan Fandy lagi. Tapi kali ini lengkap sama Danes. Gecol sendiri yang rencananya mau pulang tanggal ini ke Jombang pun bela-belain menunda sehari kepulangannya demi bisa sama temen-temen lamanya ini, terharu please :') Oh iya, segmen Selasa dan Rabu ini gak perlu aku jelasin panjang lebar. Selengkapnya baca aja ulasan khususnya di artikel yang berjudul Reuni Kopi Darat.


Kamis, 16 Agustus, buka bersama OSIS beberapa generasi di aula SMA Negeri 1 Tuban. Di sini nih, asik. Ketemu sama mas-mas angkatan OSIS yang lebih tua, jadi berasa lebih muda *eh. Di sini enak makannya prasmanan. Dan yang paling penting adalah suasana sharing malam harinya setelah shalat tarawih dan witir, membahas beberapa hal, dan yang terpenting tentang permasalahan yang sedang dialami OSIS SMA Negeri 1 Tuban periode terbaru. Karena, seperti kabar yang sudah beredar, tahun ini tidak ada pasca MOS di SMA Negeri 1 Tuban. Padahal pasca MOS sendiri adalah momen pamungkas penutup rangkaian acara MOS yang bisa mengakrabkan seluruh siswa dan menyisakan kenangan yang takkan terlupakan hingga lulus nanti. Sayangnya tahun ini tidak ada. Dan di forum sharing ini pun masalah dibahas menyeluruh sampai ke akar-akarnya dan berbagi solusi untuk MOS tahun depannya.


Jumat, 17 Agustus, rencananya hari ini mau buka bersama dengan XII IPA 3, namun sayang sekali Bapak dan Ibuk sorenya ngajak mudik langsung ke Padangan. Padahal, aku udah janji sama Tia buat mbantuin doi dan keluarganya nyiapin buka bersama ini di rumahnya. Aku jadi ngerasa bersalah terus gara-gara ini -___- mana yang datang buka bersama dikit, jadi semakin merasa eman. Mau nggak mau, ya aku akhirnya menikmati buka bersama keluarga besar di rumah Kuncen ini yang akhirnya tetep bikin aku kepikiran teman-teman lama yang sedang berkumpul dan bernostalgia masa SMA dulu. Ini ada foto XII IPA 3 saat rekreasi dulu, diambil di bus, dan... goyang :|


Sabtu, 18 Agustus, hari ini pun rencananya ada buka bersama kelas XD. Tapi jauh hari sebelumnya aku sudah mengabarkan ke temanku yang ikut membantu mengadakan buber bahwa kecil kemungkinan aku bisa ikut buber yang satu ini. Gimana ndak, ini H-1 lebaran :| apalagi biasanya Bapak ngajak mudik H-3 kalo H-2. Buber IPA 3 yang Jumat aja akhirnya gak jadi, ya sudah hari ini aku hanya bisa membayangkan suasana teman-teman lama yang sedang berkumpul bersama dan berbagi ceritanya masing-masing. Aku juga udah lama gak ngumpul dan ketemu sama teman-teman kelas X di SMA ini. Tapi mau gimana lagi, ya sudah lah. Semoga tahun depan bisa bertemu dengan mereka. Hari ini aku nikmati dengan buka bersama keluarga besar di Kuncen lagi, dengan suasana khidmat H-1 lebaran yang diiringi takbiran di mana-mana, dan... petasan :|

Kamis, 16 Agustus 2012

Kopi Darat, Reuni Sahabat dan Nostalgia Masa Berempat

"Mbiyen kene wes onok rencana gawe rekaman ngono kok." ujarku kepada Fandy, sahabatku yang dulu ku kenal di masa SMP.


Dua hari kemarin, Selasa dan Rabu (14-15 Agustus 2012) aku seakan kembali lagi ke masa SMPku dulu. Kebetulan, Tuhan mempertemukanku kembali dengan sahabat sekaligus rekan bermusik jaman SMP, Gecol (Rizki Nurrachman), Fandy (M. Affandy), dan Danes (Danes Putra K.)

Dulu aku pernah membentuk band dengan orang-orang ini. Dan saat itu ya kami hanya bermain musik sekenanya, sebisa kami. Lalu perjalanan bermusik kami pun dipenuhi cerita penuh warna, intrik, bahkan kadang juga ada konflik. Namanya juga anak baru gede masa SMP. Ketika itu kami tidak bisa mengontrol emosi dengan baik.

Ada cerita di mana Gecol ndak mau ngeband lagi gara-gara gak cocok sama Danes. Terus ada juga rencana mau ngeluarin si Danes dari band dan Danes ngotot ingin Fandy dikeluarkan juga kalo dia jadi dikeluarin. Lalu ada bergabungnya personil baru, Faruq dan Marvel, yang akhirnya saat itu hanya Marvel yang bertahan hingga kami membentuk band dengan nama "Save Ozone."

Panjang ceritanya kalau mau dijelasin di bagian sini. Ntar aja deh kalo ada waktu aku mau posting lagi tentang "Save Ozone Band" *brb *minum teh

Oke, kembali ke cerita kopi darat dan nostalgia sahabat.

Jadi, berkumpulnya aku dengan orang-orang ini lagi itu awalnya berkat rencana Gecol yang pengen kumpul bareng lagi sama Aku dan Fandy yang kebetulan juga lagi ada di Tuban. Yang perlu dicatatkan di sini, Gecol sudah pindah ke Jombang. Dia ke Tuban cuman kalo ada perlu, macem bikin SIM dan ngurus surat-surat dan se-tetek bengeknya. Nah, kebetulan Selasa minggu ini dia lagi bikin SIM di Tuban, dan doi ngabarin aku mau ngajak main-main ke kota ke rumahnya Fandy, sekalian ngabuburit dan buka bersama.

Singkat cerita, aku dan Geccol ketemu di rumah Fandy, dan setelah bercerita sebentar di sini, kami memutuskan untuk pergi ke pantai dulu sembari nunggu jam lima sore. Dan di pantai ini lah, kami melanjutkan bercerita tentang kehidupan masing-masing.

Banyak yang berubah dari mereka.

Fandy, dulu dia berpostur kecil, dan sekarang... tetep yang berpostur paling kecil seh :|
Mungkin dari foto dibawah gak kelihatan, tapi..
surely, he's still the same, ahahahaha~


Entah bagaimana awal kejadiannya, doi ternyata uda jadian sama temen SMAku, Cicin. Dan ternyata doi emang kalo pacaran itu ndak jauh-jauh dari lingkungan SMA Negeri 1 Tuban -__________-
dia sih ceritanya uda lebih dari empat sampai lima anak, se angkatanku sak adik kelasku, yang pernah dipacarin dan mbulet di sekitar sini aja. Padahal, Fandy yang dari SMP 3 ini melanjutkan ke SMK Negeri 1 Tuban, dan itu jaraknya ya lumayan dari SMA 1 -_-
Well, soal asmara, yang penting sekarang Fandy udah nemuin orang buat njalin hubungan serius.

Yang aku kagum dari seorang Fandy, dia nggak ngelanjutin kuliah, tapi dia adalah satu-satunya diantara kami  yang sudah mampu membiayai hidupnya sendiri. Dia kini bekerja membangun usaha sebagai desainer grafis. Dan pekerjaan utamanya adalah mendesain LKS yang dikirimkan ke sekolah-sekolah per semesternya. Sungguh, aku iri sama doi yang sedari muda sudah membangun usaha. Sedangkan aku, cuman mahasiswa perkuliahan yang lagi nyari kerjaan sampingan :|


Gecol, masih tetap getol dalam dunia musik.
Di bawah ini fotonya yang aku ambil saat kopi darat dengan Danes malam hari, sih.


By the way, diantara kami ya cuman Gecol yang masih sering ngeband. Dulu, doi adalah keyboardist karbitan yang aku rekrut buat ngisi bagian piano di band. Tapi aku sendiri juga gak tau gimana, seiring berjalannya waktu, doi malah jago ngedrum dan sekarang lagi seneng-senengnya bikin video self-titled yang ngelihatin tampangnya lagi gitaran dan nyanyi-nyanyi sendiri di YouTube.

Emang sih, kemampuan keyboard-nya dulu biasa-biasa aja. Terus pas SMA, kebetulan satu SMA juga sama aku, skill main drumnya yang malah menonjol. Dan akhirnya, aku membentuk band lagi di SMA sama Gecol dengan formasi aku di vokal dan doi ngedrum, dengan nama "YowWest Band". Sekedar untuk tahu aja sih, band bentukanku sama Gecol ini semacam band yang anti-kelas RSBI. Jadi, di band ini itu ada personil dari IPA 2 (Youngki Yudha), IPA 3 (Aku dan Yanto), IPA 4 (Yopi), IPA 5 (Anul), dan IPS (Gecol) sedangkan di SMAku itu kelas RSBI adalah IPA 6, IPA 7 dan IPA 8 Aksel. Hahahahah. ~

Di pantai ini, aku, Gecol dan Fandy pernah menghabiskan Minggu pagi bersama, jaman SMP dulu. Sama Marvel juga sebenernya. Sayangnya hari ini gak ketemu dan uda lama doi gak ada kabar.

Aku, Gecol, dan Fandy menghabiskan waktu di pantai hingga pukul lima sore.
Nyempetin foto bertiga juga di sini, hehe



dan kami akhirnya berbuka bersama di soto ayam lamongan jalan basuki rahmat depan bank Mandiri.

Oh iya, saat cerita di pantai itu, ternyata ada kabar bahwa si Danes mau ke Tuban esok harinya. Akhirnya Gecol yang tadinya mau balik ke Jombang Rabu, jadi mengundurkan hari kepulangannya sampai Kamis demi berkumpul dengan sahabat-sahabatnya ini. Aku, Gecol dan Fandy pun sepakat mengakhiri perjumpaan kami hari ini setelah selesai sholat maghrib di masjid Darussalam, dan berjanji untuk bertemu lagi esok harinya, bersama Danes juga.

Singkatnya, Rabu, pukul 17.00....
Akhirnya aku berkumpul lagi dengan Gecol dan Fandy, dan sekarang ditambah Danes.

Ngomong-ngomong tentang Danes, doi adalah temanku dari TK.
Ini foto dia yang aku ambil waktu kopi darat malam hari,


Dari masa di mana aku masih mengalami diskriminasi sosial berbau rasis karena kulit hitamku. Aku juga sering berantem sama nih anak dari kecil, hehe. Pas SD perutnya pernah aku tinju gara-gara gregetan sama sikapnya dulu yang suka laporan ke orang tua kalo dia lagi kenapa-kenapa. Dan bener aja, waktu itu juga aku langsung dimarahin ibu habis-habisan gara-gara ibunya Danes bilang ke ibuku kalo aku habis menganiaya dia di mobil jemputan. Hahahaha~

Dulu badannya kurus, sekarang dia yang paling subur diantara kami berempat. Dia sekarang juga lagi kuliah satu universitas sama aku. Cuman beda fakultas aja. Dia di FEB, Ekonomi Pembangunan, sedangkan aku di FISIP.

Dari rumah Fandy, kami langsung cus ke mie ayam depan istana disc. Melanjutkan bercerita di warung ini. Dan ternyata Danes itu juga baru aja beli kamera Nikon D90. Aku sama dia pun terlibat pembicaraan sedikit tentang kamera.

Ada yang lucu, dan hanya berubah sedikit dari kebiasaan kami berempat.

Tiap kami kumpul, kalo ada cewek di sekitar kami, pasti langsung kami jadikan bahan pembicaraan dan main nggojloki satu sama lain. Dulu, yang paling sering godain cewek itu si Gecol. Parahnya doi itu kayak gak punya urat malu. Tiap ada cewek cakep lewat di depan, pasti dia langsung spontan teriak "Cewek!"
Dan sayang sekali, tiap cewek yang digituin pasti cuman melengos aja, hahahaha.
Tapi alhamdulillah, sekarang mungkin dia udah operasi urat malu dan cenderung lebih pendiam daripada dulu.

Setelah berbuka puasa di warung mie ayam, kami melanjutkan sholat di masjid Darussalam. Lalu malamnya, aku, Danes dan Gecol mengantar Fandy pulang karena Fandy tidak bisa meninggalkan sholat tarawih di lingkungannya. Sedangkan aku, Danes dan Gecol lagi meliburkan diri dari tarawih malem ini, hehe.

Ah, hampir kelupaan.

Reuni hari ini semakin terasa lengkap gara-gara waktu ngisi bensin di Sleko kami berempat bertemu dengan Bayu, bassist Save Ozone Band formasi baru. Bayu ini dulu partnernya Adin, gitaris Save Ozone Band formasi baru yang sudah lama tidak terdengar kabar tentangnya. Rumah mereka berdua juga dekat, sama-sama di Rengel, tapi Bayu sendiri bilang kalo dia juga uda lama gak denger kabar dari Adin...

Sayang sekali perjumpaan dengan Bayu ini sangat singkat. Doi lagi keluar sama pacarnya. Jadi kami berempat ndak mau ganggu dulu waktu pribadinya. Hahaha.

Akhirnya aku, Gecol, dan Danes memutuskan untuk kopi darat di pantai sembari nyantai dan melanjutkan berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.


Oke, foto di atas diambil dengan self-timer 10sec dengan aku yang kebetulan pose inosen.

Oh iya, cerita tentang Danes... doi itu menghabiskan masa SMP di Tuban. SMA dia pindah ke Gresik, dan akhirnya bertemu lagi denganku di jenjang universitas.
Doi banyak main futsal, ceritanya sih. Aku dan doi ngobrol banyak juga tentang futsal. Akhirnya aku sama doi pun juga sepakatan mau sparring antara jurusanku versus jurusannya doi, suatu hari nanti.

Aku, Gecol dan Danes mengenang jaman SMP dulu bareng-bareng. Kami juga saling menceritakan satu sama lain tentang jurusan dan perkuliahan masing-masing. Sampai akhirnya pukul 21.00, kami memutuskan untuk pulang dan mengakhiri reuni kecil ini.

Satu hal yang aku cerna dari dua hari perjumpaan dengan teman lama ini,

Bertemu dengan sahabat lama itu serasa menemukan kembali diri ini ke dalam pribadi yang semula.

Aku berharap, suatu hari nanti Tuhan mempertemukan aku lagi dengan sahabat-sahabat lamaku ini, dengan keadaan masing-masing yang telah berkembang dan membawa cerita kesuksesan.

Amin.

Rabu, 15 Agustus 2012

Festival Tongklek di Tuban: Warna-Warni Keramaian Kota di Tengah Malam

"Dung klek dung klek dung klek!"
"Tung ting tang ting ting tang ting tung"



----Foto-foto di atas adalah peserta-peserta yang kreatif mengkloningkan nuansa drumband tujuh belasan dengan tongklek bulan Ramadhan.

Tepat 14 Agustus 2012 kemarin, ada festival tahunan di Tuban yang disebut festival tongklek. Dan event ini hanya diadakan saat bulan Ramadhan. Buat yang pengen tahu gimana kota Tuban kalo rame di tengah malam, event ini wajib buat ditonton. Nggak perlu susah-susah mikir gimana nontonnya. Cukup naik motor, sedia keripik dan cemilan, cari rute yang dipenuhi orang (karena ini berarti tongkleknya lewat jalan situ) terus udah cari aja trotoar ato emperan toko yang bisa didudukin. Kalo nggak kebagian, yauda numpang spot orang lain aja, asal jangan sok asik dan masang muka teroris. *brb *cukurjenggot

Ini ada beberapa screenshot dari peserta-peserta yang nunjukkin brand timnya di barisan depan



Cuman di sini ente bisa ngelihat orang-orang pada rebutan tempat kosong di trotoar buat dijadiin spot nonton. Bunyi riuh rendah dari peserta festival yang pada mbunyiin alat musik kreatifnya masing-masing juga turut menyemarakkan suasana malam yang dingin. Ada juga semacam orang joged-joged semi-kesurupan yang bikin ketawa dan geleng-geleng kepala di sini. Yang di foto di bawah ini, adalah rombongan wanita berbulu kaki yang tongklek'an sambil menirukan upacara bendera



Yang di bawah ini, merupakan salah satu kreativitas peserta. Tetapi kasihan yang anak kecil, badannya segede toge tapi gentongnya segede Mike Mohede *skip


Ada juga nih, nggak ada icik-icik, cakram sepeda pun jadi,


Di festival ini, tongklek bukan sekedar dibunyiin bareng-bareng buat mbangunin orang sahur doang. Di sini, ada estetika seni dan penampilan yang bisa dinilai, disaksikan, dan dinikmati orang-orang seisi kota. Dari foto yang aku upload, lihat sendiri noh, gimana pocong melakukan 'aksi' mogok di jalan, waria-waria keranjingan joged, topeng monyet urakan, dan para pemuda brutal yang menjunjung tinggi nasionalisme. Nggak ketinggalan ada kostum-kostum aktraktif dan perlengkapan yang eye catching juga bisa dilihat di sini. 

Nih, ada foto dari pemuda-brutal-cinta-nasionalisme,


Ada juga yang edisi pemuda soleh seperti ini,



Ato pasukan dugem patrol kayak gini :| ....


Yang di bawah ini malah anak-anak dandan ala orang naik haji,


Dan ini... NGAPAIN Ondel-ondel nyasar ke Tuban??? (-______-)


Hem, tapi jangan salah,
Justru ini menandakan bahwa masyarakat Tuban ini memang masyarakat yang menghargai pluralisme kebudayaan. Jadi adat betawi pun juga boleh dong ikut nampil di tongkek'an ini, hehe.

Buat yang phobia lihat pocong, disarankan untuk segera menutup blog ini.
Karena... INI DIA BARISAN POCONG DAN KAWAN-KAWAN, huhuahahaha






Serem. Asik. Kreatif. Sayangnya unsur tongklek'annya malah yang menurutku sedikit kurang, hehe.

Ini juga ada barisan pemuda yang pake nunjukin atraksi nyembur api. Sayangnya waktu melintas aku ndak sempet meng-capture momen mereka beratraksi :|


Ngomong-ngomong, sistem dalam festival ini tuh, pesertanya terdiri dari 10-20an orang per tim kalo ndak salah. Tiap tahun aturannya beda sih. Terus ada lagu wajib yang harus dibawain selang-seling sama lagu sendiri di rute jalanan yang harus dilewati. Misalnya, lagu sholawatan. Rutenya di tahun 2008, 2009 dan 2010 sih dimulai dari deket RS Muhammadiyah, seingatku. Dan tahun 2012 ini rutenya dimulai dari alun-alun. Finishnya ya juga di tempat awal pemberangkatan. Sistematika penilaian pemenangnya aku yang belum tahu. Apakah sekedar penampilan, musik dan kerapiannya, atau seni yang diusungnya, aku ndak tahu mana yang paling menentukan. Tapi katanya yang beberapa tahun lalu pemenangnya yang pake kostum pocong rame-rame. Bisa jadi penampilan juga mendominasi penilaian, sih. Mengingat ndak ada peserta yang 100% memainkan musik sepanjang perjalanan dari awal sampai akhir. Pasti lah di tengah jalan ada puncak capek dan suntuknya. Tapi meskipun begitu, para peserta tahu kok kapan harus memainkan musik dan kapan harus berhenti ketika lewat jalan yang penontonnya sepi.

Terus, ada lagi. Biasanya kalo tongklek'an, pesertanya juga ada tim official yang ngurusin logistik (baca: dus aqua) kayak ini,


Mending sih ini, si official bawa dus sambil motoran. Kadang pesertanya sendiri yang bawa dus air minum dan dibawa gantian. Atau bisa juga manfaatin kayak rombong, becak, dan sebagainya yang mereka gunakan untuk mengangkut peralatan tongklek.

Well, gara-gara festival ini, Tuban berasa kayak ibukota yang masih rame di tengah malam.
Bahkan, macet. :|
Kayak gini,


Tapi macetnya cuman di tengah kota doang sih. Sampe di rada pinggiran dikit uda leluasa lagi kok.

Cuman ada nih, yang sedikit disayangkan dari festival ini...


Sampah air minum kemasan dimana-mana. Jalan jadi kotor. Berceceran sampah.
Jadi ini semacam pekerjaan rumah yang membutuhkan kerja keras bagi para pembersih kota besok.

Festival ini juga merupakan kenangan tersendiri buat aku.
Di sini aku pernah ikut jadi peserta bareng-bareng sama OSIS SMA Negeri 1 Tuban, bahkan aku ikut di tiga periode sekaligus. (silahkan bilang WOW)

Aku masih inget, dulu aku ikut festival tongklek pas aku masih kelas X. Di sini kalo gak salah aku masih baru jadi anggota OSIS. Di sini mbantuin mas-mas senior periode 07/08 Nona-Meo buat mbunyiin tongklek dan nyanyi-nyanyi di jalanan. Dan gara-gara aku cupu dan belum akrab sama mas-masnya, aku sendiri jadi canggung mau ikut mbunyiin bambu yang ta pegang. Salah-salah ntar merusak suasana dan tiba-tiba hening seisi kota. *...hening beneran*

Terus ada lagi yang sama 08/09 Eigto-Neno. Di sini baru aku gak begitu canggung, soale uda lumayan akrab sih sama mas-mase yang lebih tua satu tingkat doang dari aku. Kita mbunyiin tongklek awur-awuran, nyanyi-nyanyi gak jelas di jalanan... Oke mungkin itu aku doang sih, laine niat kok :|
Kita sampe belain nyewa becak loh buat ngangkut alat-alat dan perlengkapan, hehe.

Aku lupa, diantara periode 07/08 kalo gak 08/09, aku sampe dicariin Bapak ke sekolah (padahal aku di jalanan) gara-gara aku lupa ndak ngasih tau Bapak kalo festival tongklek ini acaranya sampe mualem. Aku baru pulang jam satu kalo gak salah. Padahal Bapak nyariin aku dari jam 11 sampe jam 12. Aku jadi merasa berdosa telah membuang bensin Bapak dengan percuma karena dibuat muter-muter nyari aku doang yang gak ada hasil.

Eh, aku inget, di periode 07/08 ding. Soalnya aku inget aku masih canggung sama mas-masnya dan nyari alasan supaya bisa cepet pulang, hehe.

Nah, terus... Akhirnya aku jadi angkatan yang dituakan di OSIS #halah.
Periode 09/10 Seicoo-Logo, di sini mau-gak mau ya yang senior harus nyontohin yang baik juga kerja paling greng buat nyiapin konsep tongklek'annya dengan matang #tsahh
Kalo gak salah, yang jadi ketua si Edy. Dan ketika giliran kami di depan panitia membunyikan musik, kami dipanggil seperti ini...
"Ini lah dia, sakrifice kosong sembilan sepuluh, seico logo, bimbingan Bapak Edy"
Sontak kami shock untuk beberapa saat.
Pertama, panitia ini emang ndak bisa nyebutin bahasa Inggris "Sacrifice" dengan benar atau disengaja salah omong biar lucu, kami juga ndak tau.
Kedua, BIMBINGAN BAPAK EDY INI APA? ._.
Jadi, apakah Edy mendaftarkan kelompok tongklekan kami dengan atas namanya sendiri atau Edy diam-diam sudah menjadi Bapak-Bapak, ini semua masih menjadi misteri ~

Dan sekarang, aku uda kuliah, baru masuk semester tiga. Dan aku cuma bisa lihat dari trotoar bersama manos-manos (mantan OSIS) lainnya, yang juga tinggal sedikit jumlahnya yang mau nonton festival ini.

Ini waktu lagi nonton di trotoar, ada Mamat, Sandy, Ayuk, Tia, dan Ayak.


Yang di bawah ini hasil jepretan Mamat waktu ada Edy dan Punky ikut sekalian difoto


Dan yang ini waktu di rumah Ayu, siap-siap mau berangkat nonton ~


ada Sandy, Ayuk, Rara, aku dan Ayak. Yang motret si Mamat. Dan lucunya di sini itu, si Rara uda pulang duluan jam 10 malem sebelum nonton tongkleknya. Padahal, waktu ngumpul tuh yang dateng aku duluan dan Rara setelah aku. Tapi pulange Rara malah duluan daripada semuane :|

Oh iya, sementara aku dan temen-temen ini uda pensiun, nih OSIS periode 11/12 lagi beraksi di tongklek'an



Ahh, mereka modal banget pake bawa motor Tosan -_____-

By the way, rasanya kagak ada habisnya ngomongin nih tongklek'an.
Silahkan ente lihat sendiri dah hasil foto-foto di bawah ~

Ini ada Van dari sponsor utama,


Ini penampilan beberapa peserta...






Beberapa ada yang nengok belakang. Itu berarti mereka lagi berhenti (ya jelas, blok)
Biasanya itu memastikan aja sih supaya jarak antar rombongan tidak terpaut jauh dan keindahan barisan masih bisa tetap dipertahankan.

Ini ada juga makhluk yang bangga ngangkat batu nisan -_-
Entah, tanggal ulang tahunnya siapa itu yang ditulis.


Ini juga ada topeng monyet urakan yang... gak ada gemes-gemesnya sih :|
Tapi asik, soalnya pertunjukan jadi makin variatif. Apalagi liat noh bagian roda belakangnya dijahilin sama temennya yang dibelakang. Roda dua tambahannya diangkat, tinggal nunggu jatuhnya aja *eh


Ini juga ada aksi dari duta aiemtri yang membaur dengan peserta lainnya.


Emang sih, banyak yang nyorakin...
"Tai, sinyale elek!"
"Trobelan!"
"Pendingan!" 
"Bujuki thok!"
dan lama-lama mereka yang nyorakin ini jadi semacam orang galau yang curcol gara-gara koneksinya pending sampek gak bisa move on dari mantan.
Kasihan.
*kabur *sabarsabar

Lagian, duta-duta yang tidak berdosa ini juga jadi semacam customer care berjalan ya kalo ngeladenin teriakan-teriakan semi-ndak penting itu. -__-

Well, at least,
Pengalaman nonton festival tongklek sama temen-temen manos ini berkesan lah,
aku juga bisa menuliskan artikel tentang ini di blog (meskipun geje)
hahahaha

Semoga tahun depan festivalnya lebih seru dan pesertanya lebih kreatif lagi!