Twitter

Tampilkan postingan dengan label OSIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OSIS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2012

Catatan Lebaran H-6 = Buber, Buber Everywhere...

Yeah,
H-6 lebaran itu...
buber, buber everywhere :|

H-6 lebaran, seminggu penuh dengan jadwal buka puasa di luar. Dan semuanya secara nggak sengaja bisa runtut menimpa daku yang bingung dengan buber-buber ini -____-

Senin 13 Agustus, aku iseng ngajak keluar adik kelasku, Mirra. Dan doi ternyata juga lagi pengen keluar gara-gara suntuk di rumah. Yaudah jadi dah sore hari aku jalan-jalan motoran keliling kota Tuban sama doi, dan berhenti di pantai Boom untuk jalan-jalan lagi, pake kaki. Dulu, aku pernah ngajak doi ke sini buat hunting foto, sayangnya doi ada latihan dance dan alhasil aku pun hunting sendiri. Dan sore itu pun akhirnya kami habiskan dengan bercerita-cerita sambil foto-foto geje di pantai. Sampai akhirnya pukul 17.15, kami cabut dari sana dan pergi ke warung lesehan dekat PGRI untuk berbuka makan penyetan. Lumayan, gara-gara doi bentar lagi ulang tahun, aku dibayarin jadinya. Hahaha ~ *mukanebeng


Selasa 14 Agustus, sesuai dengan SMS yang dikirim bro Gecol bahwa doi bakal main ke Tuban hari ini, jadilah aku, Gecol dan Fandy jalan-jalan sore ke pantai depan klenteng untuk sekedar berbagi cerita satu sama lain. Udah lama gak ketemu mereka, by the way. Makanya aku sendiri juga betah ngobrol lama sama sohib-sohib yang satu ini. Kami akhirnya buka bersama di soto ayam Lamongan jalan Basuki Rahmat.


Rabu, 15 Agustus, gara-gara Danes baru ngasih tau Gecol sorenya kalo doi besok mau main ke Tuban, hari ini pun aku kembali bergumul dengan Gecol dan Fandy lagi. Tapi kali ini lengkap sama Danes. Gecol sendiri yang rencananya mau pulang tanggal ini ke Jombang pun bela-belain menunda sehari kepulangannya demi bisa sama temen-temen lamanya ini, terharu please :') Oh iya, segmen Selasa dan Rabu ini gak perlu aku jelasin panjang lebar. Selengkapnya baca aja ulasan khususnya di artikel yang berjudul Reuni Kopi Darat.


Kamis, 16 Agustus, buka bersama OSIS beberapa generasi di aula SMA Negeri 1 Tuban. Di sini nih, asik. Ketemu sama mas-mas angkatan OSIS yang lebih tua, jadi berasa lebih muda *eh. Di sini enak makannya prasmanan. Dan yang paling penting adalah suasana sharing malam harinya setelah shalat tarawih dan witir, membahas beberapa hal, dan yang terpenting tentang permasalahan yang sedang dialami OSIS SMA Negeri 1 Tuban periode terbaru. Karena, seperti kabar yang sudah beredar, tahun ini tidak ada pasca MOS di SMA Negeri 1 Tuban. Padahal pasca MOS sendiri adalah momen pamungkas penutup rangkaian acara MOS yang bisa mengakrabkan seluruh siswa dan menyisakan kenangan yang takkan terlupakan hingga lulus nanti. Sayangnya tahun ini tidak ada. Dan di forum sharing ini pun masalah dibahas menyeluruh sampai ke akar-akarnya dan berbagi solusi untuk MOS tahun depannya.


Jumat, 17 Agustus, rencananya hari ini mau buka bersama dengan XII IPA 3, namun sayang sekali Bapak dan Ibuk sorenya ngajak mudik langsung ke Padangan. Padahal, aku udah janji sama Tia buat mbantuin doi dan keluarganya nyiapin buka bersama ini di rumahnya. Aku jadi ngerasa bersalah terus gara-gara ini -___- mana yang datang buka bersama dikit, jadi semakin merasa eman. Mau nggak mau, ya aku akhirnya menikmati buka bersama keluarga besar di rumah Kuncen ini yang akhirnya tetep bikin aku kepikiran teman-teman lama yang sedang berkumpul dan bernostalgia masa SMA dulu. Ini ada foto XII IPA 3 saat rekreasi dulu, diambil di bus, dan... goyang :|


Sabtu, 18 Agustus, hari ini pun rencananya ada buka bersama kelas XD. Tapi jauh hari sebelumnya aku sudah mengabarkan ke temanku yang ikut membantu mengadakan buber bahwa kecil kemungkinan aku bisa ikut buber yang satu ini. Gimana ndak, ini H-1 lebaran :| apalagi biasanya Bapak ngajak mudik H-3 kalo H-2. Buber IPA 3 yang Jumat aja akhirnya gak jadi, ya sudah hari ini aku hanya bisa membayangkan suasana teman-teman lama yang sedang berkumpul bersama dan berbagi ceritanya masing-masing. Aku juga udah lama gak ngumpul dan ketemu sama teman-teman kelas X di SMA ini. Tapi mau gimana lagi, ya sudah lah. Semoga tahun depan bisa bertemu dengan mereka. Hari ini aku nikmati dengan buka bersama keluarga besar di Kuncen lagi, dengan suasana khidmat H-1 lebaran yang diiringi takbiran di mana-mana, dan... petasan :|

Rabu, 15 Agustus 2012

Festival Tongklek di Tuban: Warna-Warni Keramaian Kota di Tengah Malam

"Dung klek dung klek dung klek!"
"Tung ting tang ting ting tang ting tung"



----Foto-foto di atas adalah peserta-peserta yang kreatif mengkloningkan nuansa drumband tujuh belasan dengan tongklek bulan Ramadhan.

Tepat 14 Agustus 2012 kemarin, ada festival tahunan di Tuban yang disebut festival tongklek. Dan event ini hanya diadakan saat bulan Ramadhan. Buat yang pengen tahu gimana kota Tuban kalo rame di tengah malam, event ini wajib buat ditonton. Nggak perlu susah-susah mikir gimana nontonnya. Cukup naik motor, sedia keripik dan cemilan, cari rute yang dipenuhi orang (karena ini berarti tongkleknya lewat jalan situ) terus udah cari aja trotoar ato emperan toko yang bisa didudukin. Kalo nggak kebagian, yauda numpang spot orang lain aja, asal jangan sok asik dan masang muka teroris. *brb *cukurjenggot

Ini ada beberapa screenshot dari peserta-peserta yang nunjukkin brand timnya di barisan depan



Cuman di sini ente bisa ngelihat orang-orang pada rebutan tempat kosong di trotoar buat dijadiin spot nonton. Bunyi riuh rendah dari peserta festival yang pada mbunyiin alat musik kreatifnya masing-masing juga turut menyemarakkan suasana malam yang dingin. Ada juga semacam orang joged-joged semi-kesurupan yang bikin ketawa dan geleng-geleng kepala di sini. Yang di foto di bawah ini, adalah rombongan wanita berbulu kaki yang tongklek'an sambil menirukan upacara bendera



Yang di bawah ini, merupakan salah satu kreativitas peserta. Tetapi kasihan yang anak kecil, badannya segede toge tapi gentongnya segede Mike Mohede *skip


Ada juga nih, nggak ada icik-icik, cakram sepeda pun jadi,


Di festival ini, tongklek bukan sekedar dibunyiin bareng-bareng buat mbangunin orang sahur doang. Di sini, ada estetika seni dan penampilan yang bisa dinilai, disaksikan, dan dinikmati orang-orang seisi kota. Dari foto yang aku upload, lihat sendiri noh, gimana pocong melakukan 'aksi' mogok di jalan, waria-waria keranjingan joged, topeng monyet urakan, dan para pemuda brutal yang menjunjung tinggi nasionalisme. Nggak ketinggalan ada kostum-kostum aktraktif dan perlengkapan yang eye catching juga bisa dilihat di sini. 

Nih, ada foto dari pemuda-brutal-cinta-nasionalisme,


Ada juga yang edisi pemuda soleh seperti ini,



Ato pasukan dugem patrol kayak gini :| ....


Yang di bawah ini malah anak-anak dandan ala orang naik haji,


Dan ini... NGAPAIN Ondel-ondel nyasar ke Tuban??? (-______-)


Hem, tapi jangan salah,
Justru ini menandakan bahwa masyarakat Tuban ini memang masyarakat yang menghargai pluralisme kebudayaan. Jadi adat betawi pun juga boleh dong ikut nampil di tongkek'an ini, hehe.

Buat yang phobia lihat pocong, disarankan untuk segera menutup blog ini.
Karena... INI DIA BARISAN POCONG DAN KAWAN-KAWAN, huhuahahaha






Serem. Asik. Kreatif. Sayangnya unsur tongklek'annya malah yang menurutku sedikit kurang, hehe.

Ini juga ada barisan pemuda yang pake nunjukin atraksi nyembur api. Sayangnya waktu melintas aku ndak sempet meng-capture momen mereka beratraksi :|


Ngomong-ngomong, sistem dalam festival ini tuh, pesertanya terdiri dari 10-20an orang per tim kalo ndak salah. Tiap tahun aturannya beda sih. Terus ada lagu wajib yang harus dibawain selang-seling sama lagu sendiri di rute jalanan yang harus dilewati. Misalnya, lagu sholawatan. Rutenya di tahun 2008, 2009 dan 2010 sih dimulai dari deket RS Muhammadiyah, seingatku. Dan tahun 2012 ini rutenya dimulai dari alun-alun. Finishnya ya juga di tempat awal pemberangkatan. Sistematika penilaian pemenangnya aku yang belum tahu. Apakah sekedar penampilan, musik dan kerapiannya, atau seni yang diusungnya, aku ndak tahu mana yang paling menentukan. Tapi katanya yang beberapa tahun lalu pemenangnya yang pake kostum pocong rame-rame. Bisa jadi penampilan juga mendominasi penilaian, sih. Mengingat ndak ada peserta yang 100% memainkan musik sepanjang perjalanan dari awal sampai akhir. Pasti lah di tengah jalan ada puncak capek dan suntuknya. Tapi meskipun begitu, para peserta tahu kok kapan harus memainkan musik dan kapan harus berhenti ketika lewat jalan yang penontonnya sepi.

Terus, ada lagi. Biasanya kalo tongklek'an, pesertanya juga ada tim official yang ngurusin logistik (baca: dus aqua) kayak ini,


Mending sih ini, si official bawa dus sambil motoran. Kadang pesertanya sendiri yang bawa dus air minum dan dibawa gantian. Atau bisa juga manfaatin kayak rombong, becak, dan sebagainya yang mereka gunakan untuk mengangkut peralatan tongklek.

Well, gara-gara festival ini, Tuban berasa kayak ibukota yang masih rame di tengah malam.
Bahkan, macet. :|
Kayak gini,


Tapi macetnya cuman di tengah kota doang sih. Sampe di rada pinggiran dikit uda leluasa lagi kok.

Cuman ada nih, yang sedikit disayangkan dari festival ini...


Sampah air minum kemasan dimana-mana. Jalan jadi kotor. Berceceran sampah.
Jadi ini semacam pekerjaan rumah yang membutuhkan kerja keras bagi para pembersih kota besok.

Festival ini juga merupakan kenangan tersendiri buat aku.
Di sini aku pernah ikut jadi peserta bareng-bareng sama OSIS SMA Negeri 1 Tuban, bahkan aku ikut di tiga periode sekaligus. (silahkan bilang WOW)

Aku masih inget, dulu aku ikut festival tongklek pas aku masih kelas X. Di sini kalo gak salah aku masih baru jadi anggota OSIS. Di sini mbantuin mas-mas senior periode 07/08 Nona-Meo buat mbunyiin tongklek dan nyanyi-nyanyi di jalanan. Dan gara-gara aku cupu dan belum akrab sama mas-masnya, aku sendiri jadi canggung mau ikut mbunyiin bambu yang ta pegang. Salah-salah ntar merusak suasana dan tiba-tiba hening seisi kota. *...hening beneran*

Terus ada lagi yang sama 08/09 Eigto-Neno. Di sini baru aku gak begitu canggung, soale uda lumayan akrab sih sama mas-mase yang lebih tua satu tingkat doang dari aku. Kita mbunyiin tongklek awur-awuran, nyanyi-nyanyi gak jelas di jalanan... Oke mungkin itu aku doang sih, laine niat kok :|
Kita sampe belain nyewa becak loh buat ngangkut alat-alat dan perlengkapan, hehe.

Aku lupa, diantara periode 07/08 kalo gak 08/09, aku sampe dicariin Bapak ke sekolah (padahal aku di jalanan) gara-gara aku lupa ndak ngasih tau Bapak kalo festival tongklek ini acaranya sampe mualem. Aku baru pulang jam satu kalo gak salah. Padahal Bapak nyariin aku dari jam 11 sampe jam 12. Aku jadi merasa berdosa telah membuang bensin Bapak dengan percuma karena dibuat muter-muter nyari aku doang yang gak ada hasil.

Eh, aku inget, di periode 07/08 ding. Soalnya aku inget aku masih canggung sama mas-masnya dan nyari alasan supaya bisa cepet pulang, hehe.

Nah, terus... Akhirnya aku jadi angkatan yang dituakan di OSIS #halah.
Periode 09/10 Seicoo-Logo, di sini mau-gak mau ya yang senior harus nyontohin yang baik juga kerja paling greng buat nyiapin konsep tongklek'annya dengan matang #tsahh
Kalo gak salah, yang jadi ketua si Edy. Dan ketika giliran kami di depan panitia membunyikan musik, kami dipanggil seperti ini...
"Ini lah dia, sakrifice kosong sembilan sepuluh, seico logo, bimbingan Bapak Edy"
Sontak kami shock untuk beberapa saat.
Pertama, panitia ini emang ndak bisa nyebutin bahasa Inggris "Sacrifice" dengan benar atau disengaja salah omong biar lucu, kami juga ndak tau.
Kedua, BIMBINGAN BAPAK EDY INI APA? ._.
Jadi, apakah Edy mendaftarkan kelompok tongklekan kami dengan atas namanya sendiri atau Edy diam-diam sudah menjadi Bapak-Bapak, ini semua masih menjadi misteri ~

Dan sekarang, aku uda kuliah, baru masuk semester tiga. Dan aku cuma bisa lihat dari trotoar bersama manos-manos (mantan OSIS) lainnya, yang juga tinggal sedikit jumlahnya yang mau nonton festival ini.

Ini waktu lagi nonton di trotoar, ada Mamat, Sandy, Ayuk, Tia, dan Ayak.


Yang di bawah ini hasil jepretan Mamat waktu ada Edy dan Punky ikut sekalian difoto


Dan yang ini waktu di rumah Ayu, siap-siap mau berangkat nonton ~


ada Sandy, Ayuk, Rara, aku dan Ayak. Yang motret si Mamat. Dan lucunya di sini itu, si Rara uda pulang duluan jam 10 malem sebelum nonton tongkleknya. Padahal, waktu ngumpul tuh yang dateng aku duluan dan Rara setelah aku. Tapi pulange Rara malah duluan daripada semuane :|

Oh iya, sementara aku dan temen-temen ini uda pensiun, nih OSIS periode 11/12 lagi beraksi di tongklek'an



Ahh, mereka modal banget pake bawa motor Tosan -_____-

By the way, rasanya kagak ada habisnya ngomongin nih tongklek'an.
Silahkan ente lihat sendiri dah hasil foto-foto di bawah ~

Ini ada Van dari sponsor utama,


Ini penampilan beberapa peserta...






Beberapa ada yang nengok belakang. Itu berarti mereka lagi berhenti (ya jelas, blok)
Biasanya itu memastikan aja sih supaya jarak antar rombongan tidak terpaut jauh dan keindahan barisan masih bisa tetap dipertahankan.

Ini ada juga makhluk yang bangga ngangkat batu nisan -_-
Entah, tanggal ulang tahunnya siapa itu yang ditulis.


Ini juga ada topeng monyet urakan yang... gak ada gemes-gemesnya sih :|
Tapi asik, soalnya pertunjukan jadi makin variatif. Apalagi liat noh bagian roda belakangnya dijahilin sama temennya yang dibelakang. Roda dua tambahannya diangkat, tinggal nunggu jatuhnya aja *eh


Ini juga ada aksi dari duta aiemtri yang membaur dengan peserta lainnya.


Emang sih, banyak yang nyorakin...
"Tai, sinyale elek!"
"Trobelan!"
"Pendingan!" 
"Bujuki thok!"
dan lama-lama mereka yang nyorakin ini jadi semacam orang galau yang curcol gara-gara koneksinya pending sampek gak bisa move on dari mantan.
Kasihan.
*kabur *sabarsabar

Lagian, duta-duta yang tidak berdosa ini juga jadi semacam customer care berjalan ya kalo ngeladenin teriakan-teriakan semi-ndak penting itu. -__-

Well, at least,
Pengalaman nonton festival tongklek sama temen-temen manos ini berkesan lah,
aku juga bisa menuliskan artikel tentang ini di blog (meskipun geje)
hahahaha

Semoga tahun depan festivalnya lebih seru dan pesertanya lebih kreatif lagi!

Senin, 16 Juli 2012

Karnaval, dan Ceritaku Tentang Karnaval Dari SMP Hingga SMA

Baru saja hari ini, Senin 16 Juli 2012, kota Tuban melangsungkan sebuah karnaval.



Karnaval di Tuban itu semacam pameran variasi adat dan budaya Indonesia (khususnya daerah Tuban) yang ditonjolkan secara visual, seperti yang terlihat dari foto di atas (diambil dari barisan tengah SMA Negeri 1 Tuban) dan pesertanya berjalan kira-kira sejauh 10 kilometer dari Alun-Alun Kota Tuban sampai Gedung Olahraga yang ada di daerah Patung. 

Well, acara akbar yang diadakan rutin tiap tahun sekali pada bulan pertengahan tahun ini diikuti oleh SMA, SMP, dan sederajat se-kota Tuban dengan tema-tema tertentu tiap sekolah.

Seperti biasa, karena karnaval diadakan sore, orang-orang yang mau menonton karnaval harus berangkat sedari siang. Biasanya jam 12 sampai jam 2 siang. Karena di atas jam segitu, jalanan sudah ramai dan sulit dilewati. Hari ini aku juga telah janjian sama teman-teman Manos (Mantan OSIS) untuk berkumpul di rumah Ayu sebelum bersama-sama menonton karnaval di jalan raya dekat rumahnya Ayu. Aku datang jam 2 siang, karena sebelumnya ngurusin trailer video COMMCAMP ON SEMPU dan makan dulu di rumah. Dan sesampainya di rumahnya Ayu, aku bertemu lagi dengan Tia, Cipenk, Ayu, Sandy, dan Mamat yang kemarin malam sudah bernostalgia sembari makan martabak dan terang bulan yang dibelikan Fredy. Sayangnya, Fredy nggak ikut nonton karnaval. Aku juga bertemu dengan Youngky, A'an, Shelma, Ipeh dan adiknya, serta dari Manos angkatan atas ada Mas Aldio dan Mas Bayu.

Kami pun berangkat nonton karnaval pukul 3 sore dan berjalan kaki melewati gang-gang sempit untuk sampai ke jalan Basuki Rahmat. Dan sesampainya di sana, jalanan sudah padat, penuh dengan orang-orang dari berbagai penjuru kota yang berkumpul untuk sekedar menonton kerabatnya yang ikut karnaval ataupun memang berniat menonton karnaval dari awal sampai akhir.

Selang beberapa menit, akhirnya muncul barisan pertama yang diawali oleh barisan Garuda dari SMK Pelayaran Tuban. Lalu disusul barisan kedua oleh SMP Negeri 1 Tuban.



Dulu, aku mengenyam pendidikan tingkat menengah di sini. Dan sayangnya aku nggak pernah ikut karnavalnya waktu itu gara-gara badanku yang tinggi dan kurus, maybe. Hahaha. Tahun ini SMPN1 ngambil tema Toeban Tempo Doeloe, dimana cewek-cowok barisan depannya berdandan ala pasukan jaman kompeni dengan sepeda tua-nya.



Dan tahun ini, SMPN1 nggak ngeluarin band buat karnaval. Nggak kayak jamanku dulu, dikit-dikit band, dikit-dikit band. Sampe pas karnaval suatu tahun aja pernah ngeluarin band-band doang buat andalan tontonan masyarakat.

Bukannya aku benci atau alergi sama band. Tapi gak tau rasanya suntuk aja kalau karnaval diisi sama band. Mungkin gara-gara aku dulu pas SMP keseringan nonton aksi temen-temenku sendiri yang sering muncul juga di mana-mana sih. Tapi emang harus aku akuin, angkatanku di SMP dulu banyak yang berbakat di bidang musik. Jadi, untuk ukuran seorang sepertiku yang cuma bakat masang senar gitar dan masukin kabel microphone ke mixer, sangat tidak diperhitungkan untuk masuk ke jajaran manusia-manusia bersuara emas, dewa-dewa gitar dan raja-raja drummer. Oleh karena itu, jujur, aku rada gak suka ada band di karnaval itu juga karena ada sedikit rasa cemburu sama mereka yang punya bakat bisa tampil di atas mobil pick-up dan dipelototin orang banyak sepanjang jalan Veteran-Basuki Rahmat-GOR. Tapi ya sudahlah, itu hanya kepingan kecil dari sebuah keinginan besar yang aku punya dari masa SMP: membentuk sebuah band, rekaman bikin lagu sendiri, dan menjadi terkenal bukan karena mengikuti pasar tetapi pasar-lah yang mengikuti style kami. Hahaha.

Skip,

SMA Negeri 1 Tuban ada di urutan ketiga.



Untunglah.

Jadi nggak perlu nunggu lama untuk menyaksikan penampilan sekolahku tercinta ini di karnaval.
Mengusung tema Ronggolawe dan Sri Huning, SMA-ku masih dengan tradisinya yaitu 'mengorbankan' siswa kelas X yang baru masuk untuk dijadikan pasukan karnaval dari barisan depan sampai akhir. Lihat aja ekspresi mereka yang didandani ala kesatria jaman dulu ini



Ada pula yang didandani dengan pakaian adat seperti ini,



Awalnya, pengalaman di angkatanku sih, banyak yang ogah-ogahan masuk squad karnaval, dan siswa kelas X yang gak kepilih pada sorak sorai bergembira ria. Tapi akhirnya, justru yang tidak ikut banyak yang iri karena cuman bisa ndengerin cerita-cerita dan pengalaman teman-teman yang ikut karnaval, apalagi pengalaman ikut karnaval ini bakalan jadi kenangan sampai kuliah dan mungkin bahkan sampai tua nanti. Rugi maksimal dah yang SMA-nya nggak pernah susah ikut karnaval macem gini. Termasuk juga untuk pengalaman masa MOS nih. Haha. Oke, itu lain cerita. Kembali ke tahun 2008, dimana ingatanku masih tersimpan cerita saat aku ikut mengisi barisan depan SMA Negeri 1 Tuban, menjadi Putra dari Aceh, dan berpasangan dengan Dyah, temanku SMA yang sekarang kuliah di FK Unair.


Saat itu aku ingat betapa susahnya mencari pinjaman baju yang cocok di salon-salon dan tukang jahit. Bahkan, aku juga ingat, H-2 sebelum karnaval aku dan sahabatku Adi Sapies mengalami insiden kecelakaan di jalan dekat SMA, yang mengakibatkan jari kelingking Adi cacat hingga sekarang. Aku hanya cacat sedikit di bagian tulang telapak tangan kanan. Tapi Adi, dia harus operasi dan memasang pen di jari kelingkingnya .
I still remember that moment. And I feel sorry, deeply sorry for that accident, brother. Aku masih bisa mengikuti karnaval karena berhasil memperoleh pinjaman baju dari suatu salon. Sedangkan Adi harus terbaring di rumah sakit. Sungguh, pengalaman ini gak akan aku lupakan sampai tua nanti.


Biasanya sih, tiap tahun karnaval itu pasti selesainya maghrib. Dan tahun ini pun demikian. Hanya saja, gak tau kenapa tahun ini lebih membosankan daripada tahun-tahun sebelumnya aku nonton karnaval. Apa karena sekarang aku nontonnya sama teman-teman yang jumlahnya lebih sedikit? Atau, karena delay barisan  antar sekolah yang terlalu lama? Karena sampai jam setengah 5 sore, barisan masih berkutat di urutan 14-16 diantara 30 sekolah yang jadi peserta. Aku dan teman-temanku akhirnya memutuskan untuk pulang pada pukul 04.45 sore.

Setidaknya, aku masih sempat mengabadikan beberapa foto dari barisan karnaval SMP dan SMA Negeri 1 Tuban. :]


Dibawah ini adalah mobil yang disulap jadi semacam minatur stereofoam rumah tempo dulu dari SMP Negeri 1 Tuban,  

Dan yang ini juga ada beberapa mobil dari SMA Negeri 1 Tuban yang dipermak dengan bahan stereofoam menjadi mobil hias dengan logo SMA yang mentereng di depan.

  

Semoga karnaval tahun depan lebih ramai, meriah, dan tidak terkesan membosankan seperti tahun ini.
Amin.