Twitter

Tampilkan postingan dengan label Sesuatu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sesuatu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2013

Kosong, Selongsong

Halo, blog. Lama tak jumpa. *ambil penyedot debu*

Memang ya, kalo punya blog dan lama nggak nulis lagi itu rasanya kayak kenak cultural shock. Yang tadinya banyak banget yang mau ditulis, merosot jadi nggak tau mau nulis apa. Jadinya yang di otak cuma kosong, padahal cerita yang menunggu untuk ditulis itu isinya lebih dari peluru selongsong.

Well, so where should I start?


Jumat, 12 Oktober 2012

Putri Tosca

Semu,
Tak pernah bisa sama persis.
Tapi bayangannya selalu mendesis.

Untuk dia yang berwarna hijau dan bergores merah,
Untuk Putri Mawar yang berdiam di tiap sudut segala arah.

Selasa, 09 Oktober 2012

Karena Kapal Karam Harus Diderek Kembali ke Dermaga

"Ibarat kapal, aku sempat terisi, ternahkoda-i, tapi langsung hilang begitu saja." ujar Luqman, salah satu sohib karibku malam ini yang sedang mengumpamakan dua kehidupan individu yang berbeda, dengan ilustrasi sebuah kapal.
"Dan ibarat kapal, aku adalah Titanic, yang terisi penuh, megah, mewah, tapi menubruk es, hancur, karam, musnah tenggelam di lautan." timpalku dengan wajah menyamakan Leonardo Dicaprio.

Malam ini aku kembali 'bermasturbasi' dengan pikiranku sendiri. Bermonolog. Berbicara dengan langit dan bulan di kala petang, menikmati kesuntukan dan kejenuhan yang ada di pikiranku. Kalau biasanya aku habiskan dengan mendengarkan lagu dan sebatang kawan asap, kali ini aku alihkan pikiranku ke arah buntu yang produktif. Yaitu menulis puisi. Dan hasilnya adalah empat puisi yang sudah aku posting barusan. Semuanya adalah karya yang lahir begitu saja di balkon kos-kosan dengan tinta dan lembar binder catetan kuliah yang aku secara gak sengaja aku jadikan korban coret-menyoret diksi malam ini.

Tapi tak lama setelah aku menyelesaikan keempat puisi itu, Luqman menghampiriku. Ia menanyakan, dan lebih tepatnya khawatir sama kondisiku yang akhir-akhir ini emang lebih kelihatan kayak korban bencana alam gak niat kuliah daripada akademisi yang aktif dan berprestasi. Aku luapkan aja semua yang aku rasain, mulai dari suntuk, buntu, jenuh karena kebanyakan kegiatan, dan lain sebagainya, sampai dia juga membalas meluapkan sesuatu. "Oke, sek yo, ngeseng disek." katanya sembari melengos pergi ke kamar mandi.

Tak lama setelahnya, ia kembali, dan kami pun kembali terlibat dalam pembicaraan absurd bin sliut sliut.

Sebenarnya, inti dari pembicaraan ini adalah curhat dan saling bertukar pikiran saja satu sama lain. Luqman menceritakan kondisi pribadinya ke aku, dan aku pun demikian. Tapi yang paling aku ingat adalah pembicaraan tentang pengandaian kapal, aku, dan dia dalam lautan arus kehidupan.

Jika ia seperti kapal yang aku sebutkan di atas, maka aku juga, seperti Titanic, seperti yang aku sebut di atas juga.
Tapi aku sekarang tahu, jika aku seperti demikian, maka yang perlu aku lakukan agar 'kapal'ku yang karam bisa berlayar kembali di lautan luas adalah mengembalikannya ke daratan, memperbaiki, dan menambahi muatannya dengan barang-barang yang diperlukan, baru setelahnya melanjutkan ekspedisi ke seluruh isi dunia.

Yang jadi persoalan sekarang, semua yang di atas adalah tak lebih sekedar sebuah abstraksi.
Lantas, bagaimana perwujudan dan eksekusi yang harus aku lakukan?
Nah, itu dia yang harus aku temukan sendiri.
Aku sadar malam ini, dan harusnya sadar dari dulu jauh-jauh hari. Bahwa tidak ada seorang pun kecuali diri sendiri yang bisa menolong diri sendiri.

Memang kadang itu semua tak semudah bagaimana aku mengatakan atau menuliskannya. Tapi dengan membuat semuanya terbiasa, dan menjalaninya dengan biasa, who knows?

I'll fix my ship, and go back to a voyage that I've been delayed. Soon, after I finish with all.

Thanks, Man.

Senin, 23 Juli 2012

Bulan Sabit

Bulan sabit.
Begitu aku menyebut malam ini yang penuh dengan pikiran yang menyelimuti angan.
Bahkan saat shalat tarawih pun pikiranku tidak bisa fokus dan terbang melayang kemana-mana.
Tuhan, aku kenapa?
Malam ini seperti biasa aku berjalan kaki menuju masjid untuk shalat tarawih. Sekilas aku menatap langit, dan aku saksikan sebentuk bulan sabit yang sempurna. Yang entah benar atau tidak, membawa suatu aura jingga dalam pikiranku.

Sebenarnya, seharian ini juga pikiranku random. Aku menjadi bukan aku yang biasanya. Aku tiba-tiba ingin kembali ke Surabaya. Tidak, bukan maksud apa-apa. Tapi aku memang ingin menyendiri. Menenangkan diri dan menyatukan kembali pikiran dengan raga. Mengkolaborasikan kembali jiwa dengan mata. Menyusun nyawa yang saat ini seperti terpecah belah.

Di satu sisi aku menginginkan sesuatu. Tapi di satu sisi aku menolaknya untuk berkeinginan seperti itu.
Di satu sisi aku memikirkan sesuatu. Tapi di satu sisi aku menepisnya untuk berpikir seperti itu.
Di satu sisi aku menahan sesuatu. Tapi di satu sisi aku menahannya untuk bertahan seperti itu.
Rumit.

Tapi aku masih cukup sadar untuk menyadarinya. Seberkas bias aku temukan dalam lamunan. Bias yang ingin aku pertemukan dengan kedua lensa mata ini. Untuk sekedar menikmati waktu dan menghabiskan masa dengan bias itu semalam.
Mungkinkah..?

Untuk saat ini, tidak.
Bias itu kini sedang diujung nyaman. Sedang aku baru akan sampai di tanah rawan.

Aku ingin kembali sejenak ke perantauan.
Entah kapan memberangkatkannya, atau terbesit kembali untuk memulangkannya.
Aku hanya ingin pergi. Mungkin besok, atau lusa.
Dan berharap membiaskan kembali apa yang ingin aku nikmati.

Semoga aku lekas menemukan jawaban, dari serpihan yang ku sebut hilang.

Selamat malam.