Twitter

Tampilkan postingan dengan label Teluk Hijau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teluk Hijau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2013

"Misi Menaklukkan Kawah Ijen" Chapter II : Titik Awal Pendakian!

Ah, akhirnya.
Setelah sekian lama tidak melanjutkan cerita Commcamp 2 yang ke Kawah Ijen, akhirnya aku merasa berdosa dan seperti merasa harus menulis kelanjutan ceritanya. Hup hup!

Jadi, saat itu kami rombongan commcamp meninggalkan pos penjagaan Teluk Hijau. Kami berangkat menuju pos check point (aku lupa nama posnya) Kawah Ijen, dengan estimasi sampai di tempat pukul 21:00. Well, as usual. Ada aja yang seru, yang gak bakal kepikiran buat ditemu di jalan. Mulai dari cerita si Jemblung yang ditanya orang gila di depan masjid tempat kami beristirahat, terus ada lagi pak supir yang sempet beli handphone pas kami lagi istirahat, sampai akhirnya ketika jalan sudah dekat dengan pos check point, kami harus melewati jalan hutan tanpa penerangan dan naik turunnya 'ndewa'. Well, kata-kata yang aku tulis nggak bisa nggambarin gimana seremnya jalan yang dilewatin bis kami. :|

Kira-kira, sudah seperempat jalan di bukit dekat pos check point, hawa dingin mulai menyerang. Beberapa diantara kami mulai mengenakan sarung tangan dan pakaian pelindung dingin lainnya. Well, di sini aku melihat pemandangan bulan yang lumayan sayang bila dilewatkan. Cantik. Jendela atas bis terbuka. Namun akhirnya kemudian ditutup, karena pertimbangan hawa dingin yang semakin banyak masuk. Brr.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di pos check point. Yah, lumayan. Setidaknya masih ada satu warung yang berjualan di pintu masuk. Kopi hangat pun mengawali kegiatan malam hari ini. Sayangnya aku lupa, jam berapa saat kami touch down di pos ini. Nggak lama kemudian, kami mulai mendirikan tenda di sebuah pendopo. Sebenernya lebih asik dan kerasa nuansa kempingnya kalo di atas rumput sih. Tapi sayangnya saat itu rumput sedang basah. Dan kami nggak mau ambil resiko kedinginan saat beristirahat.

Dengan semangat kerjasama, mengandalkan senter dan tangan satu sama lain, kami berhasil mendirikan sejumlah tenda di atas pendopo yang kami jadikan 'rumah' untuk istirahat sebelum pendakian dini hari kami. Nah, ini adalah salah satu tenda yang mengisi sudut pendopo, yang dibuat dapur perapian oleh si Mandor dan kawan-kawan.


Coba hitung, berapa jumlah tenda yang kami dirikan, hahaha. Jadi, ini seperti ada pembagian kubu. Kubu yang pertama Mandor dkk memasak nasi sampek kenyang. Kubu kedua di seberang memasak nasi goreng, lengkap dengan mentega, sosis, dan segala sesuatu yang nikmat untuk disantap di alam liar. :|
Otomatis, aku ikut kubu kedua. hehe.


Kelihatan terang soalnya aku pake flash sih motretnya. Kalo kondisi yang sebenarnya ya gelap, peteng dedet. :|
Hal-hal biasa pun menjadi unik, seperti buang air kecil ketemu kunang-kunang, jalan kaki tanpa penerangan kadang harus berhati-hati. Biasa ya? haha, buat aku ini unik. Berkumpul dengan banyak kawan di satu tempat, saling membantu untuk bisa survive dan punya tujuan yang sama: mencapai Kawah Ijen!

Oke, setelah puas ikut menyantap hidangan dari dapur kubu kedua, mataku mulai tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya aku harus merebahkan diri di salah satu tenda, mencoba tidur, walau aku sendiri nggak percaya kalau bisa tidur dengan kondisi seperti ini. Tapi akhirnya tidur juga, hehe. Cerita tidur yang unik nggak ngalahin cuman si Dianto. Tidur di tenda cewek, berenam, dia cowok sendiri. Untungnya si Dianto anak baik-baik sih, meskipun rada absurd, sehingga ia kayaknya malah jadi satpam yang jagain cewek-cewek tidur. Hahaha.

Mataku terbangun. Aku lupa jam berapa.
Aku cuma melihat beberapa anak terlihat bersiap-siap meninggalkan perkemahan. Kemudian sembari mengumpulkan nyawa, aku mulai menyadari. Ini sudah waktunya mendaki!

Sekitar dini hari pukul 01:00 (kalau tidak salah), kami serentak meninggalkan perkemahan kami. Membawa bekal dan peralatan seperlunya, kami siap menuju Kawah Ijen!

Kamis, 21 Maret 2013

"Misi Menaklukkan Kawah Ijen" Chapter I : Sampai Berjumpa Lagi, Teluk Hijau!

Ahoy! Sorry telat ngelanjutin cerita, hehe.

so, sampe di mana ya kita kemarin-kemarin... *buka buka posting*

Jadi, ceritanya kami tim Commcamp 2 sedang dalam perjalanan kembali ke pos penjagaan dari Teluk Hijau. 

Well, perjalanan pulang ini tidak se-lelah berangkatnya sih. Yaa soalnya kami berangkat ndak tau seberapa jauh tujuannya, hehe. Sepanjang jalan pulang ini juga lebih melelahkan sih sebenernya.

Matahari lebih menyengat. Kami harus menapaki jalan kembali dengan sisa tenaga yang sebelumnya sudah hampir kami habiskan di Teluk Hijau. Well, awalnya sih kami semua berniat meninggalkan Teluk Hijau bersama-sama. Singkat cerita kami akhirnya terpisah-pisah lagi. Kelompok yang ngebet mandi dan ganti baju sudah jauh di depan. Dan itu cewek semua. Kecuali Reyhan, Dianto dan Kang Uman :|

Aku menapaki jalan pulang dengan Ayip, Bima, dan Rendy. Selama perjalanan pulang, kami sesekali berhenti untuk istirahat. Matahari siang dan medan yang berliku-liku benar-benar semakin terasa 'sensasi'-nya sekarang. Pfft.

Well, ujung-ujungnya aku berjalan sendiri menyusuri jalan pulang ketika sampai di perkampungan. -_-
Ini foto ketika Bima, Kecenk, dan Ayip meninggalkan aku di belakang -_-


Aku ketinggalan di belakang ini sebenernya juga gak rugi-rugi amat sih. Aku sendiri lagi pengen menikmati alam yang di sekitar bukit ini. Well, ini aku ada pemandangan yang sempet aku foto dari bukit,




Sampai di pos penjagaan, pasukan-pemberani-yang-ingin-mandi-yang-berangkat-lebih-dulu-tadi sudah ramai mengantri di kamar mandi. Yah, aku sendiri juga tidak memungkiri... Aku butuh mandi :|

Melelahkan, memang. Tapi itu semua sepadan dengan apa yang kami dapatkan di Teluk Hijau. Deru ombak yang segar, miniatur air terjun yang sejuk, serta pasir yang bersahabat membuat kami betah berlama-lama di sana. Aku sendiri masih tidak ikhlas meninggalkan Teluk Hijau yang mendamaikan ini.

Tapi, perjalanan masih panjang.

Kawah Ijen menanti di garis depan.

Sabtu, 09 Maret 2013

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter IX : Liburan Yang Sebenarnya


HUU YEAH!

TELUK HIJAU J



Ternyata jarak antara Teluk Batu dan Teluk Hijau itu cuman sejengkal dua jengkal doang!

Baru aja aku menapakkan kaki di jalan yang aku kira awalnya bakal masuk hutan lagi. Eh ternyata, aku cuman perlu ngelewatin semak-semak dikit untuk sampai ke Teluk Hijau!

Dan, aku setuju dengan katanya Sitha, "YOIKI LIBURAN TEMENAN", atau ini dia LIBURAN YANG SEBENARNYA, hehe.

Di sini, semua kepenatan dan kejenuhan yang dirasakan selama di perkuliahan dan perkotaan rasanya amblas semua! Kami sangat menikmati waktu berharga kami di sini.

Ada yang mancing ikan macem Jemblunk, sayang gak dapet, hahaha.

Ada yang menuju ke ujung teluk macem mas Bontang dan mas Ejak, disusul rombongan wanita commcampers.

Ada yang bikin istana pasir macem Bima, Elsa, Dianto dan aku. Meskipun harus menangis karena dihancurkan godzilla Gimon.

Ada yang mendirikan markas dan memulai masak-masak macem Mandor dkk.

Ada yang main di air terjun, main air di laut, dan akhirnya, gak di Sempu, gak di sini. Aku tetep jadi manusia pasir asusila yang dibikinin susu dan titit yang gede dari pasir dan kayu. Pfft.


Well, intinya di sini kami bersenang-senang dengan bahagia. Berasa Teluk Hijau ini cuma punya kami saja.

Aku, Sitha, Banjer, Elsa, Kang Uman, Ermeyta, dan beberapa temen lainnya akhirnya bermain air laut bersama. Gelombang ombak yang kadang meninggi itu bikin kami tertawa-tertawa sendiri ketika kami terkena air dan sensasi ‘tarikannya’. Sumpah, ini arusnya deres. Aku aja yang nekat ke tengah tipis-tipis, hampir tenggelam karena terbawa arus. Tapi untungnya aku berenang tepat pas arusnya mengarah ke sungai, akhirnya aku berhasil menyelamatkan diriku sendiri.

Tapi... akhirnya aku kenak batu karang. Punggungku lecet dikit. Yaweslah, maybe itu peringatan buat aku yang sok-sokan ngelawan arus. Padahal arusnya deres bangets, fyuh.


Setelah kami semua puas bermain dengan ombak, kami membersihkan diri di air terjun kecil yang bisa dijumpai di tempat yang agak menyudut di Teluk Hijau.

Oh meen, airnya tawar, dan ini SEGER PUOL. Hahaha.

Setelah membersihkan diri dari pasir dan asinnya air laut di sini, kami bergabung dengan teman-teman yang sudah menyiapkan tenda dan tempat masak-masak untuk mengisi perut sambil bersantai.

Well, aku ngerasa bersalah di sini. Aku baru numpahin susu coklat anget yang udah susah-susah dibuat sama temen-temen. Hiks.

Ada lagi yang seru di sini. Mas Gimon bikin minuman dari campuran nutrisari, air, dan alkohol. Yep, alkohol 70% -_-

Minuman ini ditujukan untuk monyet yang ternyata udah ngintipin aktivitas kami dari atas pohon. Karena dicurigai akan mengganggu, akhirnya Mas Gimon mbikinin minum racikan ini, and....

Voila!

Monyetnya sukses dibuat mabuk K

Setelah puas memabukkan seekor monyet dan kami juga sudah cukup mengisi tenaga, akhirnya sekitar jam 12an kami putuskan untuk kembali ke pos penjagaan.

Duh, sebenernya aku juga masih belum ikhlas ninggalin Teluk Hijau yang asri ini. Tapi ya mau gimana lagi, sebentar lagi kami semua akan menuju ke tujuan utama kami, yang tentunya kami juga harus menyiapkan tenaga lebih.

Kawah Ijen! We'll coming soon!

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter VIII : Teluk... Batu


TELUK BATU!

Ya ini, tetangganya Teluk Hijau.

Ternyata kami harus menapaki Teluk Batu ini dulu sebelum ke Teluk Hijau.

Di sini kami istirahat, dan ternyata barisan paling depan telah menunggu kami tim paling belakang di sini. Alhasil, akhirnya kami berkumpul dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Hijau.



Well, setelah beberapa saat memulihkan tenaga, akhirnya kami siap untuk pergi ke Teluk Hijau.

Di Teluk Batu ini ada aliran air tawar loh yang menuju ke laut. Aku sempatkan untuk minum airnya, dan memang airnya ini jernih banget. Oke, meskipun gak menutup kemungkinan airnya ada bekas be’ol atau pipis orang, tapi setidaknya ini bener-bener seger loh, hehe.

Well, setelah berekspektasi macam-macam, ternyata...
jalan ke Teluk Hijau tidak sesuai perkiraan.

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter VII : Perjuangan Mbak Hutami


“Bismillahirrahmanirrahim..”

Aku dan tim terakhir menapaki tangga bebatuan menuju Teluk Hijau. Mbak Hutami diduluin sih, dengan si Bima yang mengambil alih posisi terdepan. Well, awal yang sukses sih. Kami semua berhasil melewati tangga batu-batu itu.

Tapi kemudian...

“ADUH!”

Sambat-sambatan pun bersahut-sahutan. Yak, jalanan yang kami lewati tak semulus paha cherrybelle.

Sebelah kiri kami langsung tanjakan menurun yang sangat terjal. Sedang sebelah kanan adalah tanah tanjakan naik. Ya intinya posisi kami lagi miring 45 derajat gitu dah. Dan jalan setapaknya ini dipaksakan datar diantara kemiringan itu.

Ditambah dengan tanah yang becek dan tumbuhan liar yang kadang menutupi jalan, lengkap sudah petualangan menjelajahi hutan ini.

Sesekali kami berhenti, sembari menunggu Mbak Hutami menuruni jalanan yang ekstrim, dan kadang juga kami sendiri kesusahan dalam menapaki jalan-jalan itu. FYI, Mbak Hutami ini bobotnya juga ekstrim. Jadi suatu kehebatan tersendirilah ketika melihat Mbak Hutami berjuang menaklukkan medan-medan berat.

Bima yang berada di depan selalu stand by juga buat ngulurin tangan kalo butuh bantuan. Sedang Mas Gimon selalu di belakang untuk memastikan semua aman-aman saja.

Well, perjuangan Mbak Hutami memang tidak mudah. Dan ditambah sepanjang perjalanan, jalan setapaknya juga sering PHP. Kadang terjal, kadang datar, kadang naik, kadang turun, dan seringkali membuat kami berpikir kalo pantai udah dekat. Dan dekat sih dekat sama pantai, tapi itu di bawah banget, dan itu bukan Teluk Hijau yang kami tuju.


--foto dari kamera Ayip: salah satu pemandangan yang bisa dilihat dari samping, kalo jatuh bisa langsung ke pantai beroooh....--

Kira-kira perjalanan di hutan bukit ini hampir sejam kali ya. Pokoknya luama beuds deuh.

Dan akhirnya, suara ombak membesar, ada aliran sungai yang terlewati... dan ternyata kami sampai!

Tapi...

Jumat, 08 Maret 2013

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter VI : The Adventure Begins


Oke. Semalam kita udah ngomongin soal Goa Jepang dan pantai tengah malam. Jadi langsung aja loncat ke pagi. *kucek-kucek mata*

“Hoaahh...” aku baru bangun, dan ternyata seisi pos penjagaan sudah ribet sana-sini nyiapin sarapan dan packing dikit buat berangkat ke Teluk Hijau. Mandor, Kikik dan divisi perdapuran sudah menyiapkan mie, nasi, dan sarden buat sarapan. Yah, 11 12 sama menu semalem lah. Yang jelas paginya kami sarapan dan bersiap buat berangkat!



Aku, seperti biasa jadi juru dokumentasi. Tapi buat kali ini aku gak mau ambil ribet. Pokoknya yang ada di deketku ya itu yang sering masuk kamera, hehe.

Jadi kami dibagi kelompok-kelompok kecil sebelum berangkat. Tapi kayaknya pembagian ini gak mempan buat Jemblunk dan Kikik yang sebenernya udah diatur jadi satu kelompok *ups*

Oke, misi perjodohan gagal. Wes pokoke budal lah.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, nek gak salah.

Kami pun berangkat membentuk barisan. Awalnya sih rapi, tapi lama-lama barisannya pecah juga.



Di jalan kami menjumpai jalanan becek dengan kolam lokal, lagi. Selain itu sebelum menempuh jalanan hutan, kami harus melewati perkampungan warga dulu. Kanan kiri kami lihat warga yang sudah sibuk dengan aktivitas pagi hari. Tak jarang ada juga anak-anak sekolah yang siap berangkat menuju SD yang ada di kampung itu.

“Kayaknya kita kalo KKN ya di tempat kayak gini ini ya.” ujarku yang kemudian diamini Ayip, yang kebetulan jadi rekan sekelompokku.

Di depan aku lihat ada bukit besar membentang. “Kayaknya mesti ngelewatin bukit ini dulu deh” gumamku dalam hati. Dan benar saja, kami berjalan terus, dan nggak kerasa sampai di kaki bukit yang kemudian jalannya jadi naik turun dari sini.

Well, kalo mbaca dari tulisan ini kayaknya nggak begitu jauh ya. Tapi kalo kamu jalanin sendiri, weh, sumpah, JAUH. Disaranin pakek sepatu yang tahan pelesetan dan anti batu grunjalan.

Akhirnya seperempat perjalanan, kami sudah lumayan berkeringat.

Kami sampai di persimpangan Goa Jepang, Habitat Rafflesia dan jalan ke Teluk Hijau.

Well, kami nyempetin foto-foto dikit sambil nungguin barisan belakang. Dan setelah mbak Hutami dkk nyampek persimpangan, kami lanjut mengambil jalan ke Teluk Hijau.

Selama perjalanan, sesekali aku melihat kanan-kiri. Yang paling aku suka adalah ketika melihat sebelah bukit yang langsung bisa kelihatan pantai yang semalam aku jamah dengan Bima dan Elsa. Rasanya masih pengen semalam lagi duduk di pantai itu dan menikmati suara ombaknya. Hehe.

Okey, jadi kami jalan, jalan, jalan, berhenti! Kami sampai di...istilahnya sih, ‘entrance’ sebelum ke jalan hutan-hutan.

Ada tangga buatan dari batu, di hadapan kami. Well, di sini keringat kami sudah lumayan sih. Dan ini belum sampai setengah perjalanan. Mungkin 7/21 kali yak.

Kami rehat sebentar, dan sambil nungguin barisan belakang juga.

Selang beberapa menit, akhirnya beberapa dari kami memutuskan untuk berangkat duluan. Sampai akhirnya yang tersisa tinggal aku, Bima dan Elsa lagi yang angkatan 2011. Dan akhirnya kami bergabung dengan tim Mas Gimon, Mas Eces, Mbak Hutami, dan Makrom.

Setelah tenaga kami sudah 8/10 pulih, kami akhirnya memberangkatkan diri menuju tangga bebatuan yang kami percayai sudah dekat dengan Teluk Hijau itu.

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter V : Goa Jepang


Goa Jepang, adalah salah satu objek wisata tersembunyi yang bisa dijumpai di tengah perjalanan ke Teluk Hijau. Dan gak tau kenapa pas aku, Bima, dan Elsa kembali ke pos penjagaan dengan selamat, Goa Jepang ini lagi jadi trending topic guyonannya temen-temen. Dan itu membuatku sedikit penasaran tentang goa ini.

Well, meskipun begitu, pas kita ngelewatin persimpangan antara Goa Jepang dan jalan ke Teluk Hijau, kami milih skip dan lanjut ke jalan Teluk Hijau.

Jadi ceritanya aku, Bima, dan Elsa sampai di pos jam setengah satu malam. Di situ semuanya masih banyak yang belum tidur. Malahan Mandor, Jemblunk, Tatit, Mas Gimon, Kang Uman, Banjer, Makrom, dan 
Kecenk masih main kartu di teras dan ruang tengah. Dan kontan saja aku dan Bima yang baru datang langsung disoraki... gay. Oh, meen.

No offense, by the way.

But I’m not a gay -_-



Anyway, aku males mikirin macem-macem soal goa Jepang. Jadi aku langsung aja tidur. Meskipun sempet juga kebangun gara-gara guyonannya temen-temen, dan posisi tidur yang lucu oleh Ayip dan Dianto, hahahaha.

Sayangnya yang motret posisi tidur absurd itu bukan aku. Pfft.

Rehat + Ralat

Sorry, kemarin postingnya baru sampai hari pertama Commcamp Jilid dua, hehe.

Pegel beroh ngetik sampek lebih dari 2.500 kata, belum upload dan ngecapture gambar dari video
*curcol



Oke, jadi hari ini kayaknya aku bakal posting cerita hari kedua Commcamp. Dan ada ralat sih soal penjudulan. Jadi yang seri kemarin pake judul "Misi Menaklukkan Kawah Ijen" aku judulin ulang jadi "Hari Keberangkatan" dengan dua chapter, dan "Misi Menapaki Teluk Hijau" yang masih beberapa chapter lagi, hehe.

yawes,
Stay tune berooh ~

Hambar.


Sore ini aku habiskan dengan mengetik cerita tentang Commcamp jilid dua yang sudah berlalu sejak tanggal 20 Februari Kemarin. Rasanya, aku kembali bersemangat, seperti ketika mau berangkat ngecamp saat itu. Hehe.

Tapi ada sedikit yang hambar.

Ya, aku menulis cerita tentang Commcamp ini pada hari ini, Jumat 8 Maret 2013, tepat setelah beberapa hari lalu aku ada masalah kecil di kampus yang membuatku ada di rumahku hari ini.

Well, harusnya aku menulis kisah Commcamp ini dari dulu, tanpa harus berselang beberapa minggu.

Sekarang rasanya aku hanya sedang mencoba memeras ingatan. Dan sekenanya mencoba menghidupkan kembali cerita yang berkesan itu.

Satu-satunya yang masih sangat menempel di otakku adalah malam ketika aku, Bima, dan Elsa, duduk dihadapan ombak yang berderu keras, dan saat itu juga rasanya nyawaku ikut melayang ke hamparan lautan. Di situ, aku menemukan damai yang aku cari.

Tapi ya apa boleh buat, waktu dan angin tidak bersahabat. Aku harus segera pergi tengah malam itu sebelum ombak dan kegelapan menelanku.

Suatu saat aku ingin menemukan kembali kedamaian itu.

Suatu saat nanti.

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter IV : “Damai... Yoiki Seng Jenenge Damai.”


Aku berjalan di belakang Bima dan Elsa, karena aku yang membawa senter di kepala. Otomatis aku lah yang jadi juru penerang jalan mereka, halah.

Jalan yang kami tempuh ternyata dipenuhi kolam-kolam lokal. Lengkap dengan bebatuan yang sangar-sangar grunjalannya.

Sepanjang jalan, kami bercerita absurd tentang kuliah dan hal-hal imajiner. Hingga akhirnya kami menjumpai gapura yang sama ketika kami pertama kali sampai di sini dengan bis. Oh meen, suara ombaknya cetar to the max. Kami lihat ke samping, dan ternyata memang ini pantai!

Kami pun bersemangat jalan kaki menuju pantai.

Tuhan, tempat ini benar-benar lapang. Langit kelihatan semakin meluas dengan gemerlapan bintang-bintang yang bertaburan di atas. Pantainya juga seperti hamparan pasir yang damai, tiada seorang pun di sana. Kami bertiga hanya menyaksikan ombak melambai-lambai, dan kepiting-kepiting kecil berkeliaran di sekitar kami.

Akhirnya, kami pun duduk menghadap ombak, dan lampu senter pun aku matikan.


--lukisan pake Paint, dari kiri: Elsa, Bima, dan aku. Suasana remang-remang. Tapi laut dan langit keliatan jelas--

“Damai... Yoiki seng jenenge damai...” dalam hati aku mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa, rasanya aku memang dibimbing sampai ke tempat ini. Pantai ini sebetulnya biasa. Tetapi entah saat malam itu, aku merasakan keindahan dalam sunyi dan gelap yang tidak pernah aku lihat dan rasakan sebelumnya.

Sepanjang malam itu, aku, Elsa, dan Bima bercerita tentang hal-hal absurd dan bermain dengan imajinasi kami masing-masing. Topiknya tetap, tentang kuliah. Tapi kami juga membicarakan tentang pertemanan dan hal absurd seperti perasaan. Kadang juga curcol dikit, dan dilanjut dengan membicarakan imajinasi masing-masing tentang berbagai hal.

Aku lupa tepatnya kami ngomongin apaan, yang jelas saat itu yang aku rasakan cuman damai, dengan suara ombak yang membahana di telinga kanan kiri.

Jam menunjukkan pukul 12 tengah malam.

Kami bertiga pun kembali ke pos penjagaan.

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter III : “Kita Nggak Akan Ambil Resiko.”


Sampai di pos penjagaan itu ternyata bukan berarti kami sudah dekat dengan Teluk Hijau.

Kata penjaganya, kami harus berjalan sekitar satu jam lebih menyusuri hutan agar sampai ke teluk yang airnya berwarna ijo itu.

Kami pun dilema. Antara mau nekat tetap lanjut jalan kaki dengan harapan kemping di Teluk Hijau, atau menuruti apa kata penjaga dengan menetap semalam di pos penjagaan dan jalan kaki pagi-pagi untuk sampai ke Teluk Hijau.

Diskusi yang panjang antara Mas Gimon, Mandor, Tatit, Banjer, dan Pak Penjaga pun tetap menghasilkan dua opsi yang sama: lanjut atau berhenti sementara.

“Kita nggak akan ambil resiko. Jalan yang kita tempuh masih jauh. Selain itu temen-temen kita yang cewek juga banyak. Aku sih budal tok. Tapi kalo jumlah kita yang banyak ini dipacul tetep jalan, resikonya terlalu besar.” ujar Mas Gimon ke semuanya.

Aku dalam hati sih tetap ingin nekat malam-malam menuju Teluk Hijau.

Tetapi, akhirnya setelah berpikir bersama sejenak, kami memutuskan untuk bermalam di pos penjagaan. 
Meskipun akhirnya kurang berkesan ‘ngecamp’ di hari pertama, tapi ya sudahlah, salah kami, terutama Banjer juga. Pakek nyasar segala. Pfft.

Akhirnya kami meletakkan barang-barang di pos penjagaan. Hampir sebagian dari kami menyempatkan untuk mandi. Tapi kalo aku sih ya meskipun bermalam di rumah, badan tetep ngecamp mode on: ANTI MANDI. Hahaha.

Dengan sedikit bau badan yang tidak menyengat, aku membantu teman-teman yang sudah bersemangat memasak di dapur. Tetap dengan komando Mandor, semuanya berhasil memasak nasi, sarden kalengan, dan mie untuk semua orang di sana, termasuk supir dan pak penjaga.

Demi menghidupkan suasana, kami yang di sana pun bersenda gurau, bermain kartu, dan ada yang tidur lebih awal. Si Banjer selaku warga sekitar juga berusaha bersosialisasi dengan pak Penjaga. Sedikit-sedikit terdengar kisah horor tentang adanya pasangan yang mesum yang lari pontang-panting dari sini karena melihat ‘sesuatu.’ Ada juga yang masih nggak percaya kalo kebo-nyante-dipinggir-pante itu tadi adalah nyata, bukan iblis atau jin semacamnya.

Aku yang sedikit kecewa dengan bermalam di pos penjagaan, berencana untuk berkespedisi sendiri dengan jalan-jalan malam, sendirian. Well, tapi akhirnya ada yang sepikiran. Bima, si Watu yang juga survivor commcamp 1 akhirnya jadi teman jalan malam. Selain itu, ada juga Elsa, commcampers baru yang ternyata sense of adventure-nya juga tinggi.

Akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk keluar dari pos penjagaan dan berjalan ke tempat yang kami sendiri tidak tahu mau ke mana.


--foto: tangan Kang Uman membredel kaleng sarden yang nahas di dapur--

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter II : “Kabut Akan Segera Turun, Jangan Nekat...”


Kami menemukan jalan yang maybe benar. Tetapi, jam telah menunjukkan pukul 17.00, nek gak salah.

Dan kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak di dekat toko warga sekitar dan bertanya tentang jalan ke Teluk Hijau.

“Kabut akan segera turun, jangan nekat...” samar-samar aku dengar ucapan itu dari salah satu warga. 

Memang sih, dari sini aja uda keliatan di depan kalo kabut dari bukit itu lagi otewe turun ke kampung. Akan tetapi, bukan commcampers namanya kalo nggak nekat. Setelah berdiskusi singkat, kami memutuskan untuk tetap lanjut menuju Teluk Hijau. Atau setidaknya sampai di pos penjagaannya lah.

Jalanan semakin gelap. Kami yang di bus berpelukan. Yo gak lah.

Sepanjang perjalanan yang diiringi langit yang semakin gelap, beberapa diantara kami masih ada yang bercanda untuk mencairkan ketegangan. Ada juga yang berdoa dengan sisa-sisa keimanan yang ada. Dan akhirnya kami melihat gapura, serta deburan suara ombak yang membahana.

Oh God, sepertinya jalan terang sudah di depan.

Kami melewati jalanan bebatuan yang membuat elep sampai kegembosan ban belakang. Well, guyonannya sih itu gara-gara mbak Hutami yang duduk di bangku sebelah kanan elep. Tapi ya rasional ajalah, itu gara-gara bebatuan yang kasarnya gak suopan...ditambah bobot mbak Hutami juga #eh

Oke, kita nemuin suatu padang rumput yang luas. Dengan kegelapan yang menyelimuti, kami, ya, kami semua, melihat ada siluet kerbau makan rumput. Ya, KERBAU. *jeng jeng*

Maybe konyol. Emang itu padang rumput. Tapi NGAPAIN KEBO DI DEKET PANTE??
Itu mungkin yang ada di benak temen-temen yang paranoid melihat kebo-nyante-dipinggir-pante.

Oke, singkat cerita, kita akhirnya sampai di pos penjagaan Teluk Hijau.

Aku sudah mencium bau petualangan di sini.

Jam menunjukkan sudah lewat maghrib. Dan kami semua menurunkan barang-barang kami di pos ini. 

Rencananya bis dan elep ditinggal di pos, dan kami jalan kaki menuju teluk hijau. Dan rencananya sih aku uda mbayangin kita semua bakal menyusur hutan malam-malam dan kemping di pantai sampai pagi.

Tapi semua tidak seindah yang dibayangkan...


--foto: Banjer sedang berkonsolidasi dengan Pak Penjaga, situasi sudah aman terkendali saat itu--