Twitter

Tampilkan postingan dengan label Geje. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geje. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Maret 2013

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter V : Goa Jepang


Goa Jepang, adalah salah satu objek wisata tersembunyi yang bisa dijumpai di tengah perjalanan ke Teluk Hijau. Dan gak tau kenapa pas aku, Bima, dan Elsa kembali ke pos penjagaan dengan selamat, Goa Jepang ini lagi jadi trending topic guyonannya temen-temen. Dan itu membuatku sedikit penasaran tentang goa ini.

Well, meskipun begitu, pas kita ngelewatin persimpangan antara Goa Jepang dan jalan ke Teluk Hijau, kami milih skip dan lanjut ke jalan Teluk Hijau.

Jadi ceritanya aku, Bima, dan Elsa sampai di pos jam setengah satu malam. Di situ semuanya masih banyak yang belum tidur. Malahan Mandor, Jemblunk, Tatit, Mas Gimon, Kang Uman, Banjer, Makrom, dan 
Kecenk masih main kartu di teras dan ruang tengah. Dan kontan saja aku dan Bima yang baru datang langsung disoraki... gay. Oh, meen.

No offense, by the way.

But I’m not a gay -_-



Anyway, aku males mikirin macem-macem soal goa Jepang. Jadi aku langsung aja tidur. Meskipun sempet juga kebangun gara-gara guyonannya temen-temen, dan posisi tidur yang lucu oleh Ayip dan Dianto, hahahaha.

Sayangnya yang motret posisi tidur absurd itu bukan aku. Pfft.

Hambar.


Sore ini aku habiskan dengan mengetik cerita tentang Commcamp jilid dua yang sudah berlalu sejak tanggal 20 Februari Kemarin. Rasanya, aku kembali bersemangat, seperti ketika mau berangkat ngecamp saat itu. Hehe.

Tapi ada sedikit yang hambar.

Ya, aku menulis cerita tentang Commcamp ini pada hari ini, Jumat 8 Maret 2013, tepat setelah beberapa hari lalu aku ada masalah kecil di kampus yang membuatku ada di rumahku hari ini.

Well, harusnya aku menulis kisah Commcamp ini dari dulu, tanpa harus berselang beberapa minggu.

Sekarang rasanya aku hanya sedang mencoba memeras ingatan. Dan sekenanya mencoba menghidupkan kembali cerita yang berkesan itu.

Satu-satunya yang masih sangat menempel di otakku adalah malam ketika aku, Bima, dan Elsa, duduk dihadapan ombak yang berderu keras, dan saat itu juga rasanya nyawaku ikut melayang ke hamparan lautan. Di situ, aku menemukan damai yang aku cari.

Tapi ya apa boleh buat, waktu dan angin tidak bersahabat. Aku harus segera pergi tengah malam itu sebelum ombak dan kegelapan menelanku.

Suatu saat aku ingin menemukan kembali kedamaian itu.

Suatu saat nanti.

Rabu, 06 Maret 2013

Resep Bungkam

Pernah merasa kalah dalam pembicaraan?
Pernah mengalah dalam hal bercandaan?
Pernah mengesampingkan diri demi melihat tawa-tawa yang lebar?
Pernah berdiam, memperhatikan, dan tetap dipersalahkan?
Pernah menumpuk tanah dan dirusak, diluluhlantakkan sampai rata kembali?

Renungkan dan resapi rasanya.

Campur aduk jadi satu.
Seduh dengan air hangat dari mata 10 mL.
Aduk kembali di atas loyang hati.
Diamkan sejenak, letakkan di ruang hujan yang bebas sinar matahari.

Jika adonan sudah mengembang, kubur dalam-dalam.

Silahkan diinterpretasi!


Kosong, Selongsong

Halo, blog. Lama tak jumpa. *ambil penyedot debu*

Memang ya, kalo punya blog dan lama nggak nulis lagi itu rasanya kayak kenak cultural shock. Yang tadinya banyak banget yang mau ditulis, merosot jadi nggak tau mau nulis apa. Jadinya yang di otak cuma kosong, padahal cerita yang menunggu untuk ditulis itu isinya lebih dari peluru selongsong.

Well, so where should I start?


Selasa, 09 Oktober 2012

Karena Kapal Karam Harus Diderek Kembali ke Dermaga

"Ibarat kapal, aku sempat terisi, ternahkoda-i, tapi langsung hilang begitu saja." ujar Luqman, salah satu sohib karibku malam ini yang sedang mengumpamakan dua kehidupan individu yang berbeda, dengan ilustrasi sebuah kapal.
"Dan ibarat kapal, aku adalah Titanic, yang terisi penuh, megah, mewah, tapi menubruk es, hancur, karam, musnah tenggelam di lautan." timpalku dengan wajah menyamakan Leonardo Dicaprio.

Malam ini aku kembali 'bermasturbasi' dengan pikiranku sendiri. Bermonolog. Berbicara dengan langit dan bulan di kala petang, menikmati kesuntukan dan kejenuhan yang ada di pikiranku. Kalau biasanya aku habiskan dengan mendengarkan lagu dan sebatang kawan asap, kali ini aku alihkan pikiranku ke arah buntu yang produktif. Yaitu menulis puisi. Dan hasilnya adalah empat puisi yang sudah aku posting barusan. Semuanya adalah karya yang lahir begitu saja di balkon kos-kosan dengan tinta dan lembar binder catetan kuliah yang aku secara gak sengaja aku jadikan korban coret-menyoret diksi malam ini.

Tapi tak lama setelah aku menyelesaikan keempat puisi itu, Luqman menghampiriku. Ia menanyakan, dan lebih tepatnya khawatir sama kondisiku yang akhir-akhir ini emang lebih kelihatan kayak korban bencana alam gak niat kuliah daripada akademisi yang aktif dan berprestasi. Aku luapkan aja semua yang aku rasain, mulai dari suntuk, buntu, jenuh karena kebanyakan kegiatan, dan lain sebagainya, sampai dia juga membalas meluapkan sesuatu. "Oke, sek yo, ngeseng disek." katanya sembari melengos pergi ke kamar mandi.

Tak lama setelahnya, ia kembali, dan kami pun kembali terlibat dalam pembicaraan absurd bin sliut sliut.

Sebenarnya, inti dari pembicaraan ini adalah curhat dan saling bertukar pikiran saja satu sama lain. Luqman menceritakan kondisi pribadinya ke aku, dan aku pun demikian. Tapi yang paling aku ingat adalah pembicaraan tentang pengandaian kapal, aku, dan dia dalam lautan arus kehidupan.

Jika ia seperti kapal yang aku sebutkan di atas, maka aku juga, seperti Titanic, seperti yang aku sebut di atas juga.
Tapi aku sekarang tahu, jika aku seperti demikian, maka yang perlu aku lakukan agar 'kapal'ku yang karam bisa berlayar kembali di lautan luas adalah mengembalikannya ke daratan, memperbaiki, dan menambahi muatannya dengan barang-barang yang diperlukan, baru setelahnya melanjutkan ekspedisi ke seluruh isi dunia.

Yang jadi persoalan sekarang, semua yang di atas adalah tak lebih sekedar sebuah abstraksi.
Lantas, bagaimana perwujudan dan eksekusi yang harus aku lakukan?
Nah, itu dia yang harus aku temukan sendiri.
Aku sadar malam ini, dan harusnya sadar dari dulu jauh-jauh hari. Bahwa tidak ada seorang pun kecuali diri sendiri yang bisa menolong diri sendiri.

Memang kadang itu semua tak semudah bagaimana aku mengatakan atau menuliskannya. Tapi dengan membuat semuanya terbiasa, dan menjalaninya dengan biasa, who knows?

I'll fix my ship, and go back to a voyage that I've been delayed. Soon, after I finish with all.

Thanks, Man.

Hello, Nice to Meet You (again)

Halo, para pelayar Kertas Bercerita.
Nice to meet you, again.

Sebulan sudah, aku nggak ngeposting apa-apa di blog ini.
Well, banyak yang pengen aku share dan aku ceritain, tapi aku sendiri gatau harus mulai dari mana.

Aku udah ngelewatin banyak momen dan acara, banyak yang aku ikutin, dan ada juga yang aku tinggalin.

Commersale 2 sebagai koordinator dekorasi, HUT Sinematografi ke-10 sebagai koordinator perlengkapan, Baur Sedhalu Komunikasi sebagai anggota keamanan dan perizinan, PUKM Sinema 2012 sebagai ketua... dan aku pernah njalanin ke-empat-empatnya berbarengan.

Okay, mungkin kelihatannya nggak seberapa beban dan aku aja yang berlebihan mikirinnya, tapi kalo aku sendiri yang ngerasain ya mau gimana-gimana pikiranku cuman ngerasain satu hal: JENUH.

Oh iya, aku juga sempat bekerja sebagai content writer di KusukaNetwork, divisi KusukaGadget, tapi sayang hanya bertahan 2 bulan dan aku berhenti karena tidak bisa lagi mengikuti ritme kerja yang dituntut cepat, tepat, dan sempurna. Aku juga kebanyakan kegiatan dan tugas kuliah, sih.
Tapi setidaknya aku beruntung, andai aku masih kerja, pasti aku bakal lebih stress dan bisa-bisa makan indomie mentah sekarung saking depresinya. Cuman ya gitu, aku masih tetep aja ngerasa jenuh, dan pengen bisa rehat sebentar dari kesibukan.

Pengen rasanya aku lari ke gunung, dan sebagian dari ini uda kesampaian di BSK yang terlaksana di Cuban Rais, Batu. Aku sempat motret bukit dan sekitarnya yang tempatnya sedikit jauh dari camp, dan di situ kedengeran suara air terjun yang bikin hati adem ayem. Sayangnya waktu balik ke camp aku malah roboh dan sempat kumat pusing berlebihannya.
Well, ntar habis ini aku posting dah foto di bukit itu yang paling bagus. Sekalian, aku juga pengen ngeshare puisi yang gak sengaja aku bikin pake ketikan di hape doang, dan aku selesaikan di mobilnya temenku Camad, Rabu malam, tepat pas on the way ke Cuban Rais, jadi pioneer dadakan.

Sekarang tanggunganku cuman satu sih. Screening film PUKM tanggal 13 Oktober 2012 di Propadause. Tapi gatau kenapa, mungkin karena kejenuhan yang aku rasain udah terakumulasi dalam pikiran, jadinya masih kerasa beban, beban, dan beban.

Untuk sementara ini, aku lagi gak pengen mikir banyak-banyak. Tapi karena udah kadung jadi tanggung jawab, ya mau gimana lagi, jalani ajalah dulu.

Buat yang gak sengaja baca, sorry ya, kalo tulisanku malah bikin yang baca juga tambah mbeban.

Semangat ae lah,

Salam,
Nahkoda kapal senja.

Rabu, 15 Agustus 2012

Festival Tongklek di Tuban: Warna-Warni Keramaian Kota di Tengah Malam

"Dung klek dung klek dung klek!"
"Tung ting tang ting ting tang ting tung"



----Foto-foto di atas adalah peserta-peserta yang kreatif mengkloningkan nuansa drumband tujuh belasan dengan tongklek bulan Ramadhan.

Tepat 14 Agustus 2012 kemarin, ada festival tahunan di Tuban yang disebut festival tongklek. Dan event ini hanya diadakan saat bulan Ramadhan. Buat yang pengen tahu gimana kota Tuban kalo rame di tengah malam, event ini wajib buat ditonton. Nggak perlu susah-susah mikir gimana nontonnya. Cukup naik motor, sedia keripik dan cemilan, cari rute yang dipenuhi orang (karena ini berarti tongkleknya lewat jalan situ) terus udah cari aja trotoar ato emperan toko yang bisa didudukin. Kalo nggak kebagian, yauda numpang spot orang lain aja, asal jangan sok asik dan masang muka teroris. *brb *cukurjenggot

Ini ada beberapa screenshot dari peserta-peserta yang nunjukkin brand timnya di barisan depan



Cuman di sini ente bisa ngelihat orang-orang pada rebutan tempat kosong di trotoar buat dijadiin spot nonton. Bunyi riuh rendah dari peserta festival yang pada mbunyiin alat musik kreatifnya masing-masing juga turut menyemarakkan suasana malam yang dingin. Ada juga semacam orang joged-joged semi-kesurupan yang bikin ketawa dan geleng-geleng kepala di sini. Yang di foto di bawah ini, adalah rombongan wanita berbulu kaki yang tongklek'an sambil menirukan upacara bendera



Yang di bawah ini, merupakan salah satu kreativitas peserta. Tetapi kasihan yang anak kecil, badannya segede toge tapi gentongnya segede Mike Mohede *skip


Ada juga nih, nggak ada icik-icik, cakram sepeda pun jadi,


Di festival ini, tongklek bukan sekedar dibunyiin bareng-bareng buat mbangunin orang sahur doang. Di sini, ada estetika seni dan penampilan yang bisa dinilai, disaksikan, dan dinikmati orang-orang seisi kota. Dari foto yang aku upload, lihat sendiri noh, gimana pocong melakukan 'aksi' mogok di jalan, waria-waria keranjingan joged, topeng monyet urakan, dan para pemuda brutal yang menjunjung tinggi nasionalisme. Nggak ketinggalan ada kostum-kostum aktraktif dan perlengkapan yang eye catching juga bisa dilihat di sini. 

Nih, ada foto dari pemuda-brutal-cinta-nasionalisme,


Ada juga yang edisi pemuda soleh seperti ini,



Ato pasukan dugem patrol kayak gini :| ....


Yang di bawah ini malah anak-anak dandan ala orang naik haji,


Dan ini... NGAPAIN Ondel-ondel nyasar ke Tuban??? (-______-)


Hem, tapi jangan salah,
Justru ini menandakan bahwa masyarakat Tuban ini memang masyarakat yang menghargai pluralisme kebudayaan. Jadi adat betawi pun juga boleh dong ikut nampil di tongkek'an ini, hehe.

Buat yang phobia lihat pocong, disarankan untuk segera menutup blog ini.
Karena... INI DIA BARISAN POCONG DAN KAWAN-KAWAN, huhuahahaha






Serem. Asik. Kreatif. Sayangnya unsur tongklek'annya malah yang menurutku sedikit kurang, hehe.

Ini juga ada barisan pemuda yang pake nunjukin atraksi nyembur api. Sayangnya waktu melintas aku ndak sempet meng-capture momen mereka beratraksi :|


Ngomong-ngomong, sistem dalam festival ini tuh, pesertanya terdiri dari 10-20an orang per tim kalo ndak salah. Tiap tahun aturannya beda sih. Terus ada lagu wajib yang harus dibawain selang-seling sama lagu sendiri di rute jalanan yang harus dilewati. Misalnya, lagu sholawatan. Rutenya di tahun 2008, 2009 dan 2010 sih dimulai dari deket RS Muhammadiyah, seingatku. Dan tahun 2012 ini rutenya dimulai dari alun-alun. Finishnya ya juga di tempat awal pemberangkatan. Sistematika penilaian pemenangnya aku yang belum tahu. Apakah sekedar penampilan, musik dan kerapiannya, atau seni yang diusungnya, aku ndak tahu mana yang paling menentukan. Tapi katanya yang beberapa tahun lalu pemenangnya yang pake kostum pocong rame-rame. Bisa jadi penampilan juga mendominasi penilaian, sih. Mengingat ndak ada peserta yang 100% memainkan musik sepanjang perjalanan dari awal sampai akhir. Pasti lah di tengah jalan ada puncak capek dan suntuknya. Tapi meskipun begitu, para peserta tahu kok kapan harus memainkan musik dan kapan harus berhenti ketika lewat jalan yang penontonnya sepi.

Terus, ada lagi. Biasanya kalo tongklek'an, pesertanya juga ada tim official yang ngurusin logistik (baca: dus aqua) kayak ini,


Mending sih ini, si official bawa dus sambil motoran. Kadang pesertanya sendiri yang bawa dus air minum dan dibawa gantian. Atau bisa juga manfaatin kayak rombong, becak, dan sebagainya yang mereka gunakan untuk mengangkut peralatan tongklek.

Well, gara-gara festival ini, Tuban berasa kayak ibukota yang masih rame di tengah malam.
Bahkan, macet. :|
Kayak gini,


Tapi macetnya cuman di tengah kota doang sih. Sampe di rada pinggiran dikit uda leluasa lagi kok.

Cuman ada nih, yang sedikit disayangkan dari festival ini...


Sampah air minum kemasan dimana-mana. Jalan jadi kotor. Berceceran sampah.
Jadi ini semacam pekerjaan rumah yang membutuhkan kerja keras bagi para pembersih kota besok.

Festival ini juga merupakan kenangan tersendiri buat aku.
Di sini aku pernah ikut jadi peserta bareng-bareng sama OSIS SMA Negeri 1 Tuban, bahkan aku ikut di tiga periode sekaligus. (silahkan bilang WOW)

Aku masih inget, dulu aku ikut festival tongklek pas aku masih kelas X. Di sini kalo gak salah aku masih baru jadi anggota OSIS. Di sini mbantuin mas-mas senior periode 07/08 Nona-Meo buat mbunyiin tongklek dan nyanyi-nyanyi di jalanan. Dan gara-gara aku cupu dan belum akrab sama mas-masnya, aku sendiri jadi canggung mau ikut mbunyiin bambu yang ta pegang. Salah-salah ntar merusak suasana dan tiba-tiba hening seisi kota. *...hening beneran*

Terus ada lagi yang sama 08/09 Eigto-Neno. Di sini baru aku gak begitu canggung, soale uda lumayan akrab sih sama mas-mase yang lebih tua satu tingkat doang dari aku. Kita mbunyiin tongklek awur-awuran, nyanyi-nyanyi gak jelas di jalanan... Oke mungkin itu aku doang sih, laine niat kok :|
Kita sampe belain nyewa becak loh buat ngangkut alat-alat dan perlengkapan, hehe.

Aku lupa, diantara periode 07/08 kalo gak 08/09, aku sampe dicariin Bapak ke sekolah (padahal aku di jalanan) gara-gara aku lupa ndak ngasih tau Bapak kalo festival tongklek ini acaranya sampe mualem. Aku baru pulang jam satu kalo gak salah. Padahal Bapak nyariin aku dari jam 11 sampe jam 12. Aku jadi merasa berdosa telah membuang bensin Bapak dengan percuma karena dibuat muter-muter nyari aku doang yang gak ada hasil.

Eh, aku inget, di periode 07/08 ding. Soalnya aku inget aku masih canggung sama mas-masnya dan nyari alasan supaya bisa cepet pulang, hehe.

Nah, terus... Akhirnya aku jadi angkatan yang dituakan di OSIS #halah.
Periode 09/10 Seicoo-Logo, di sini mau-gak mau ya yang senior harus nyontohin yang baik juga kerja paling greng buat nyiapin konsep tongklek'annya dengan matang #tsahh
Kalo gak salah, yang jadi ketua si Edy. Dan ketika giliran kami di depan panitia membunyikan musik, kami dipanggil seperti ini...
"Ini lah dia, sakrifice kosong sembilan sepuluh, seico logo, bimbingan Bapak Edy"
Sontak kami shock untuk beberapa saat.
Pertama, panitia ini emang ndak bisa nyebutin bahasa Inggris "Sacrifice" dengan benar atau disengaja salah omong biar lucu, kami juga ndak tau.
Kedua, BIMBINGAN BAPAK EDY INI APA? ._.
Jadi, apakah Edy mendaftarkan kelompok tongklekan kami dengan atas namanya sendiri atau Edy diam-diam sudah menjadi Bapak-Bapak, ini semua masih menjadi misteri ~

Dan sekarang, aku uda kuliah, baru masuk semester tiga. Dan aku cuma bisa lihat dari trotoar bersama manos-manos (mantan OSIS) lainnya, yang juga tinggal sedikit jumlahnya yang mau nonton festival ini.

Ini waktu lagi nonton di trotoar, ada Mamat, Sandy, Ayuk, Tia, dan Ayak.


Yang di bawah ini hasil jepretan Mamat waktu ada Edy dan Punky ikut sekalian difoto


Dan yang ini waktu di rumah Ayu, siap-siap mau berangkat nonton ~


ada Sandy, Ayuk, Rara, aku dan Ayak. Yang motret si Mamat. Dan lucunya di sini itu, si Rara uda pulang duluan jam 10 malem sebelum nonton tongkleknya. Padahal, waktu ngumpul tuh yang dateng aku duluan dan Rara setelah aku. Tapi pulange Rara malah duluan daripada semuane :|

Oh iya, sementara aku dan temen-temen ini uda pensiun, nih OSIS periode 11/12 lagi beraksi di tongklek'an



Ahh, mereka modal banget pake bawa motor Tosan -_____-

By the way, rasanya kagak ada habisnya ngomongin nih tongklek'an.
Silahkan ente lihat sendiri dah hasil foto-foto di bawah ~

Ini ada Van dari sponsor utama,


Ini penampilan beberapa peserta...






Beberapa ada yang nengok belakang. Itu berarti mereka lagi berhenti (ya jelas, blok)
Biasanya itu memastikan aja sih supaya jarak antar rombongan tidak terpaut jauh dan keindahan barisan masih bisa tetap dipertahankan.

Ini ada juga makhluk yang bangga ngangkat batu nisan -_-
Entah, tanggal ulang tahunnya siapa itu yang ditulis.


Ini juga ada topeng monyet urakan yang... gak ada gemes-gemesnya sih :|
Tapi asik, soalnya pertunjukan jadi makin variatif. Apalagi liat noh bagian roda belakangnya dijahilin sama temennya yang dibelakang. Roda dua tambahannya diangkat, tinggal nunggu jatuhnya aja *eh


Ini juga ada aksi dari duta aiemtri yang membaur dengan peserta lainnya.


Emang sih, banyak yang nyorakin...
"Tai, sinyale elek!"
"Trobelan!"
"Pendingan!" 
"Bujuki thok!"
dan lama-lama mereka yang nyorakin ini jadi semacam orang galau yang curcol gara-gara koneksinya pending sampek gak bisa move on dari mantan.
Kasihan.
*kabur *sabarsabar

Lagian, duta-duta yang tidak berdosa ini juga jadi semacam customer care berjalan ya kalo ngeladenin teriakan-teriakan semi-ndak penting itu. -__-

Well, at least,
Pengalaman nonton festival tongklek sama temen-temen manos ini berkesan lah,
aku juga bisa menuliskan artikel tentang ini di blog (meskipun geje)
hahahaha

Semoga tahun depan festivalnya lebih seru dan pesertanya lebih kreatif lagi!

Senin, 23 Juli 2012

Iseng Bikin Desain buat Maba Komunikasi 2012

Buntu.
Tapi seenggak-enggaknya menghasilkan.

Gara-gara buntu di rumah habis tarawih, ini akhirnya kepikiran buat ikutan ndesain stiker dan pin buat maba komunikasi Unair 2012 nanti. Gak mau muluk-muluk konsepnya. Manfaatin foto terus di-workout aja, hahaha.

Monggo ditilik,

 Stiker

Pin
Narsis dikit sekali-sekali, hahahaha.

Sabtu, 21 Juli 2012

"Cari Ribut?"


View on YouTube

Iseng-iseng bikin di Sempu, pas lagi menyegarkan badan di Segoro Anakan.
Meskipun sekilas rada geje, tapi ide cerita sederhana ini sebenarnya punya makna implisit kok. Tinggal yang lihat aja, persepsi dan cara nangkep pesannya gimana. Hahaha :))
Enjoy, sob

Kamis, 19 Juli 2012

Kerpus


Dibeli setahun kemarin untuk (rencananya) dipakai saat BSK. Dan resmi menjadi teman setia kepalaku pada bulan ini.

Aku mulai nyaman mengenakan kerpus ini sepulang dari Sempu tanggal 8 Juli kemarin. Padahal, tahun kemarin aku risih mengenakannya. Tapi mungkin ini juga gara-gara rambutku yang uda panjang dan mbulet sekarang, aku jadi nyaman pake kerpus ini tiap aku keluar.

Aku sendiri juga gak begitu suka rambutku yang gak teratur ini semburat kemana-mana kalo lagi di luar -_-
Jadi, aku akan mengenakan kerpus ini kemana pun aku pergi untuk menjadi teman kepalaku, sampai nanti setelah BSK (ospek jurusanku) aku bisa potong rambut dan jadi risih lagi pake kerpus gara-gara rambut pendek.

By the way, kenapa aku baru bisa potong rambut setelah ospek jurusanku selesai?

Nanti saja ceritanya aku tulis setelah tanggal 5, 6, dan 7 Oktober :]

Hahaha.

Kamis, 12 Juli 2012

Nostalgia Sesaat Sebelum Tidur

Halo,
kartu Tanda Peserta Ujian Masuk Program Diploma III Kerjasama ITS dengan PT. PLN Persero.

Andai saja waktu itu aku memilih untuk melanjutkan tes psikologi di ITS, dan bukan memenuhi panggilan tes kesehatan dari Unair,

pasti sekarang aku sedang tidak menulis di blog ini.

Sekian.

Curcol Penulis Malam

Aku sedang melanjutkan cerita catatan perjalananku ke Sempu.
Tapi tiba-tiba, suasana ruang tengah menjadi gelap.
Lampu mati.
Hening.
...
Dan sebelah kananku terlihat sosok kecil yang terbaring tenang dengan sesekali bersuara lucu.
...
Ini memang sudah waktunya si Javier kecil bobo' -_-

jadi aku harus beradaptasi dengan mengetik dalam suasana gelap dan tidak bisa melihat huruf di keyboard.
Maaf bila terjadi typo atau posting sedikit terganggu.

Sekian.

Liburan Sambil Blogging Bakal Bikin Iri yang Liburan Sambil Jogging

Alasan:
1. Rajin blogging gak bikin badan pegel, cuman bikin jari keseleo
2. Blogging yang rutin membuat jari semakin berotot, membuat sentuhan semakin seksi
3. Blogging gak perlu beli sepatu jogging
4. Blogging bisa dilakukan dengan berbagai macam gaya
5. Jika sudah terlatih, blogging bisa dilakukan dengan kayang

Lalu kenapa yang liburan pada jogging harus iri sama yang liburan pada blogging?

Serius, tolong jangan tanggapi tulisanku ini dengan serius.

Tamat.