Tampilkan postingan dengan label Sempu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sempu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Juli 2012
COMMCAMP ON SEMPU Official Video Release
View on YouTube
Akhirnya, setelah dua hari penuh dengan kerja rodi sang laptop meng-upload video ini di YouTube.com. :')
Buat yang mau file'nya yang asli, siapin 5.5GB ya, hahaha
Sabtu, 21 Juli 2012
"Cari Ribut?"
View on YouTube
Iseng-iseng bikin di Sempu, pas lagi menyegarkan badan di Segoro Anakan.
Meskipun sekilas rada geje, tapi ide cerita sederhana ini sebenarnya punya makna implisit kok. Tinggal yang lihat aja, persepsi dan cara nangkep pesannya gimana. Hahaha :))
Enjoy, sob
Kamis, 19 Juli 2012
COMMCAMP ON SEMPU Official Poster
COMMCAMP ON SEMPU
is
COMMCAMP JILID SATU
"ketika harapan menikmati liburan telah redup, kekompakan dan kebersamaan diuji untuk bertahan hidup."
Sempu, 7-8 Juli 2012
Minggu, 15 Juli 2012
Jumat, 13 Juli 2012
Catatan Perjalanan ke Sempu XIII : Surabaya, Kami Pulang
Well, setelah menulis catatan yang panjang tentang perjalanan ke Sempu hingga episode ke XIII, rasanya untuk cerita yang satu ini aku gak perlu nulis banyak-banyak deh -_-
Intinya kami pulang.
Dan kami, tepar.
Perjalanan pulang kami ditemani oleh angin malam dan hujan rintik-rintik. Di dalam truk pun aku hanya bisa melihat teman-teman semua pada tidur, dan sesekali bangun hanya untuk ganti posisi tidur.
Aku?
Mungkin aku makhluk satu-satunya yang tidak tidur. Mungkin, sih.
Kalaupun aku tidur, aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitarku. Jadi intinya juga aku gak tidur.
Di tengah perjalanan aku juga sempat bercanda sama sobat absurdku, Bima. Kami membuat pantun dan dinyanyikan dengan nada lagu 'Paribasane' dari Arek Band. Kami juga membicarakan berbagai macam hal, mulai dari musik sampai mengulang cerita lagi saat tersesat di hutan.
Dan di tengah perjalanan aku juga menemukan suatu fakta penting, bahwa...
BIMA,
adalah nama dari sebuah toko pijat urat spesialis keperkasaan pria.
Lengkap dengan gambar (wayang) Bima di depan tokonya.
Aku ketawa guling-guling.
Gak sih, ketawa ngakak aja. Kalo guling-guling bisa-bisa aku jatuh dari truk yang gak dibuka penutup belakangnya.
oke, cukup tentang Bima dan keperkasaan pria.
Perjalanan pulang dimulai pukul 17.30, dan kami sampai di Polda Surabaya pukul 22.00
Setibanya kami di Polda, kami menurunkan barang-barang dan memastikan tidak ada yang ketinggalan. Termasuk uang urunan yang kurang -_-
Kami menambah 15.000 per orang untuk biaya masuk ke Sempu dan sewa perahu.
Aku pun meminta Ayip, Kiki, dan Luqman untuk meminjamkan kartu memorinya ke aku dulu, biar aku pindah datanya dan bisa cepat mengedit filenya. Tapi akhirnya sampai hari ini file video-nya belum aku edit juga -_-
Ada pula kenangan secarik peta yang kami gunakan saat tersesat di hutan. Awalnya, Tatit yang akan menyimpannya di kos. Tapi akhirnya aku meminta peta itu untuk aku pajang di tembok wall of fame kosanku, dan voila, inilah sisa-sisa perjuangan dari Sempu itu,
Intinya kami pulang.
Dan kami, tepar.
Perjalanan pulang kami ditemani oleh angin malam dan hujan rintik-rintik. Di dalam truk pun aku hanya bisa melihat teman-teman semua pada tidur, dan sesekali bangun hanya untuk ganti posisi tidur.
Aku?
Mungkin aku makhluk satu-satunya yang tidak tidur. Mungkin, sih.
Kalaupun aku tidur, aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitarku. Jadi intinya juga aku gak tidur.
Di tengah perjalanan aku juga sempat bercanda sama sobat absurdku, Bima. Kami membuat pantun dan dinyanyikan dengan nada lagu 'Paribasane' dari Arek Band. Kami juga membicarakan berbagai macam hal, mulai dari musik sampai mengulang cerita lagi saat tersesat di hutan.
Dan di tengah perjalanan aku juga menemukan suatu fakta penting, bahwa...
BIMA,
adalah nama dari sebuah toko pijat urat spesialis keperkasaan pria.
Lengkap dengan gambar (wayang) Bima di depan tokonya.
Aku ketawa guling-guling.
Gak sih, ketawa ngakak aja. Kalo guling-guling bisa-bisa aku jatuh dari truk yang gak dibuka penutup belakangnya.
oke, cukup tentang Bima dan keperkasaan pria.
Perjalanan pulang dimulai pukul 17.30, dan kami sampai di Polda Surabaya pukul 22.00
Setibanya kami di Polda, kami menurunkan barang-barang dan memastikan tidak ada yang ketinggalan. Termasuk uang urunan yang kurang -_-
Kami menambah 15.000 per orang untuk biaya masuk ke Sempu dan sewa perahu.
Aku pun meminta Ayip, Kiki, dan Luqman untuk meminjamkan kartu memorinya ke aku dulu, biar aku pindah datanya dan bisa cepat mengedit filenya. Tapi akhirnya sampai hari ini file video-nya belum aku edit juga -_-
Ada pula kenangan secarik peta yang kami gunakan saat tersesat di hutan. Awalnya, Tatit yang akan menyimpannya di kos. Tapi akhirnya aku meminta peta itu untuk aku pajang di tembok wall of fame kosanku, dan voila, inilah sisa-sisa perjuangan dari Sempu itu,
Sesampainya aku di kos, aku langsung menempelkan peta ini dulu di tembok, dan sebelah kanan itu adalah stiker "PRIDE" yang daridulu SMA aku pasang di salah satu tas ranselku. Dan sayang sekali buasnya tumbuhan di hutan Sempu telah merobek stiker itu dan kini aku hanya bisa mengenangnya lewat tembok ini.
Setelah menempelkan benda kenangan, aku langsung melanjutkan dengan cuci-cuci baju dan barang-barang.
Meskipun aku sendiri masih belum percaya bahwa aku bisa keluar dari hutan kemarin malam, tapi setidaknya aku sekarang sudah di sini.
Di Surabaya.
Di kosku tercinta.
Dan besok Selasa aku harus pulang ke Tuban.
Sekian untuk rangkaian cerita "Catatan Perjalanan ke Sempu" ini yang menghabiskan XIII seri sekaligus.
Dan mohon maaf bila di paragraf pertama aku ngomongnya gak mau cerita panjang lebar tapi akhirnya panjang lebar juga.
Semoga tidak ada yang mengalami nasib seperti kami ber24 yang nyasar di hutan Sempu lagi. Kalaupun ada, semoga mereka bertemu dengan abang tukang bakso di hutan.
Amin.
Catatan Perjalanan ke Sempu XII : Gak Ada Abang Tukang Bakso Lewat di Hutan, Bro.
"Baksoo, es degan!" ujar Lela.
Sepanjang perjalanan kami di hutan memang tidak ada abang tukang bakso lewat, karena itu wajar bila beberapa diantara kami (termasuk aku) merindukan bakso dan es degan. Kami sudah bosan dengan mie instan. Kami butuh PERUBAHAN!
oke, skip.
Aku berada di kloter kedua lagi saat bergantian naik perahu penyeberangan.
Gatau kenapa, berada di kloter kedua itu lebih menyenangkan buat aku. Aku jadi lebih bisa memperhatikan sekitar lebih lama. Menangkap pemandangan yang gak akan aku temukan di Surabaya maupun Tuban. Menikmati hembusan angin laut yang menenangkan. Apalagi kemarin habis nyasar di hutan. Berada di pantai seperti ini dengan situasi dimana aku pasti akan pulang benar-benar membuat perasaan lega dan senang bukan kepalang.
Sesampainya di seberang pulau Sempu, aku dan beberapa teman langsung menuju abang tukang bakso dan membeli semangkuk bakso hangat ditemani segelas es degan yang segar. Aku bersyukur, lidahku masih doyan makanan selain mie instan. Aku jadi teringat bagaimana rasanya terjebak di hutan, dimana uang dan harta benda lainnya menjadi tidak berguna kecuali bisa membantumu untuk bertahan hidup dan melawan kerasnya alam.
Gak ada abang tukang bakso lewat di hutan, bro.
Sekalipun ada, kamu butuh uang untuk membelinya, bro.
Kalau udah punya uang dan makan bakso di hutan, masih ada macan kumbang, ular, dan zombie, bro.
Setelah menikmati bakso dan beli cilok sebungkus, aku langsung menuju truk polisi yang sudah siap untuk berangkat pulang. Teman-teman yang di truk pada nggugupin untuk segera berkumpul, masuk truk dan pulang. Usut punya usut, ternyata pak sopirnya sedikit ngambek. Bagaimana tidak, kemarin kami ngasih uang 50.000 buat nginep di penginapan. Tapi ternyata biaya penginapannya itu 150.000.
Dafuq, men.
Akhirnya, meskipun sopirnya nggondok dan sudah pasti nanti nyupirnya agak ugal-ugalan, kami berangkat pulang juga.
Selamat tinggal, Sempu.
Semoga bertemu lagi lain waktu, tanpa nyasar di hutan lagi ya, huhu.
Sepanjang perjalanan kami di hutan memang tidak ada abang tukang bakso lewat, karena itu wajar bila beberapa diantara kami (termasuk aku) merindukan bakso dan es degan. Kami sudah bosan dengan mie instan. Kami butuh PERUBAHAN!
oke, skip.
Aku berada di kloter kedua lagi saat bergantian naik perahu penyeberangan.
Gatau kenapa, berada di kloter kedua itu lebih menyenangkan buat aku. Aku jadi lebih bisa memperhatikan sekitar lebih lama. Menangkap pemandangan yang gak akan aku temukan di Surabaya maupun Tuban. Menikmati hembusan angin laut yang menenangkan. Apalagi kemarin habis nyasar di hutan. Berada di pantai seperti ini dengan situasi dimana aku pasti akan pulang benar-benar membuat perasaan lega dan senang bukan kepalang.
Sesampainya di seberang pulau Sempu, aku dan beberapa teman langsung menuju abang tukang bakso dan membeli semangkuk bakso hangat ditemani segelas es degan yang segar. Aku bersyukur, lidahku masih doyan makanan selain mie instan. Aku jadi teringat bagaimana rasanya terjebak di hutan, dimana uang dan harta benda lainnya menjadi tidak berguna kecuali bisa membantumu untuk bertahan hidup dan melawan kerasnya alam.
Gak ada abang tukang bakso lewat di hutan, bro.
Sekalipun ada, kamu butuh uang untuk membelinya, bro.
Kalau udah punya uang dan makan bakso di hutan, masih ada macan kumbang, ular, dan zombie, bro.
Setelah menikmati bakso dan beli cilok sebungkus, aku langsung menuju truk polisi yang sudah siap untuk berangkat pulang. Teman-teman yang di truk pada nggugupin untuk segera berkumpul, masuk truk dan pulang. Usut punya usut, ternyata pak sopirnya sedikit ngambek. Bagaimana tidak, kemarin kami ngasih uang 50.000 buat nginep di penginapan. Tapi ternyata biaya penginapannya itu 150.000.
Dafuq, men.
Akhirnya, meskipun sopirnya nggondok dan sudah pasti nanti nyupirnya agak ugal-ugalan, kami berangkat pulang juga.
Selamat tinggal, Sempu.
Semoga bertemu lagi lain waktu, tanpa nyasar di hutan lagi ya, huhu.
Catatan Perjalanan ke Sempu XI : Karena Jalan Pulang Tak Semudah Menggenjreng Gitar
Pulang.
Hanya itu sekarang yang ada di pikiran kami ber24.
Kami kembali menyusuri hutan. Namun sayangnya meskipun melewati jalan yang sama dengan jalan waktu berangkat, ternyata pulangnya terasa lebih berat. Kami lebih sering berhenti untuk beristirahat, dan mengumpulkan sisa tenaga untuk mengangkat tas lagi. Apalagi aku, tasku terasa lebih berat dan tentenganku adalah gitar. Pesan moral dari cerita ini: Jangan pernah membawa gitar untuk camping kecuali bawa mobil dan ada softcase gitarnya.
MONSTER sudah tidak seberat waktu berangkat, pula. Tugas mengangkat MONSTER kini ditangani oleh Kopler. Bisri mengangkut tasnya sendiri, dan ia bahkan membentuk tim karaoke. Ya, tim karaoke. -_-
Tim yang menjadi penengah antara barisan depan dan barisan belakang. Tim yang bernyanyi ke sana ke masri mengusir lelah dan sepi dengan lagu. Tim yang berisi sekumpulan penyanyi yang gagal ikut American Idol. Tim yang bergembira ria ketika menyanyikan lagu-lagu galau...
"Jika memang dirimu lah tulang rusukku, kau akan kembali pada tubuh ini..."
"Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa tapi mengapa aku selalu tak bisa..."
"Jujur, aku tak sanggup, aku tak bisa, aku tak mampu dan aku tertatih..."
Tim yang... Ah, tim apapun lah -_-
Seperti yang aku katakan sebelumnya, kami sering berhenti karena telah memaksa tenaga kami yang sudah melampaui batas. Dan sepanjang perjalanan, jika tim karaoke mengusir lelah dan sepi dengan bernyanyi, maka aku punya gitar untuk mengusir nyamuk. Ehm. Setidaknya dengan menggenjreng gitar dan bernyanyi sebisanya aku masih kuat berjalan dan bahkan aku juga masih bisa bergenjreng sambil berjalan. Sayangnya, sekali lagi, perjalanan pulang ini memang tak semudah menggenjreng gitar. -_-
Jalan demi jalan telah kami susuri kembali, dan tepat ketika waktu menunjukkan pukul 16.00, akhirnya, kami tiba di pantai, dimana kami mengawali perjalanan menuju Segoro Anakan ini. Jikalau berangkat tadi membutuhkan waktu jalan satu setengah jam, maka pulangnya membutuhkan waktu hampir dua kali lipatnya.
Yah, melelahkan, memang. Tapi aku gak bisa mbayangin gimana kalau seandainya saat ini juga kami masih tersesat di hutan dan masih belum menemukan jalan keluar. Pasti macan kumbang, ular, dan zombie akan muncul menampakkan dirinya dan memakan kami satu per satu.
oke, skip.
Sebelum menyeberang pulang, aku menyempatkan foto-foto dulu sebentar. Pemandangan senja di pulau ini benar-benar indah, sayang aku hanya bisa meng-capturenya dengan HP. Tapi hasilnya lumayan kok,
Hanya itu sekarang yang ada di pikiran kami ber24.
Kami kembali menyusuri hutan. Namun sayangnya meskipun melewati jalan yang sama dengan jalan waktu berangkat, ternyata pulangnya terasa lebih berat. Kami lebih sering berhenti untuk beristirahat, dan mengumpulkan sisa tenaga untuk mengangkat tas lagi. Apalagi aku, tasku terasa lebih berat dan tentenganku adalah gitar. Pesan moral dari cerita ini: Jangan pernah membawa gitar untuk camping kecuali bawa mobil dan ada softcase gitarnya.
MONSTER sudah tidak seberat waktu berangkat, pula. Tugas mengangkat MONSTER kini ditangani oleh Kopler. Bisri mengangkut tasnya sendiri, dan ia bahkan membentuk tim karaoke. Ya, tim karaoke. -_-
Tim yang menjadi penengah antara barisan depan dan barisan belakang. Tim yang bernyanyi ke sana ke masri mengusir lelah dan sepi dengan lagu. Tim yang berisi sekumpulan penyanyi yang gagal ikut American Idol. Tim yang bergembira ria ketika menyanyikan lagu-lagu galau...
"Jika memang dirimu lah tulang rusukku, kau akan kembali pada tubuh ini..."
"Sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa tapi mengapa aku selalu tak bisa..."
"Jujur, aku tak sanggup, aku tak bisa, aku tak mampu dan aku tertatih..."
Tim yang... Ah, tim apapun lah -_-
Seperti yang aku katakan sebelumnya, kami sering berhenti karena telah memaksa tenaga kami yang sudah melampaui batas. Dan sepanjang perjalanan, jika tim karaoke mengusir lelah dan sepi dengan bernyanyi, maka aku punya gitar untuk mengusir nyamuk. Ehm. Setidaknya dengan menggenjreng gitar dan bernyanyi sebisanya aku masih kuat berjalan dan bahkan aku juga masih bisa bergenjreng sambil berjalan. Sayangnya, sekali lagi, perjalanan pulang ini memang tak semudah menggenjreng gitar. -_-
Jalan demi jalan telah kami susuri kembali, dan tepat ketika waktu menunjukkan pukul 16.00, akhirnya, kami tiba di pantai, dimana kami mengawali perjalanan menuju Segoro Anakan ini. Jikalau berangkat tadi membutuhkan waktu jalan satu setengah jam, maka pulangnya membutuhkan waktu hampir dua kali lipatnya.
Yah, melelahkan, memang. Tapi aku gak bisa mbayangin gimana kalau seandainya saat ini juga kami masih tersesat di hutan dan masih belum menemukan jalan keluar. Pasti macan kumbang, ular, dan zombie akan muncul menampakkan dirinya dan memakan kami satu per satu.
oke, skip.
Sebelum menyeberang pulang, aku menyempatkan foto-foto dulu sebentar. Pemandangan senja di pulau ini benar-benar indah, sayang aku hanya bisa meng-capturenya dengan HP. Tapi hasilnya lumayan kok,
Itu Mega, yang nongol di sebelah kiri. Karena katanya foto nggak ada modelnya itu kurang asik -_-
Dan sekarang, kami membagi dua kelompok besar lagi untuk bergantian menyeberang.
Well, we are going to home now. :)
Kamis, 12 Juli 2012
Catatan Perjalanan ke Sempu X : Santai Kayak di Pantai
Kalau biasanya di kampus biasa bilang "Santai kayak di pantai", sekarang kami ber24 benar-benar lagi santai, di pantai. -_-
Setelah tim pemancing gagal memperoleh ikan, akhirnya kami kembali ke makanan pokok yang menjadi teman kami selama di hutan: mie instan.
Masih dengan bantuan dapur darurat yang diprakarsai oleh si Mandor, dengan sisa nasi yang sedikit kami mengisi tenaga sembari mengeringkan pakaian yang habis dipake renang.
Yang lagi nganggur, semua pada tiduran, ngobrol-ngobrol ringan, main gitar, yang jelas kami benar-benar menghabiskan waktu dengan bersantai dulu sebelum bersiap-siap pulang.
Aku bahkan nyempetin bikin film pendek di sini. Dibantu Ayip dan Luqman sebagai talent dan Razif sebagai cameraman, syuting pun dilakukan seadanya. Panas-panas tapi setidaknya shoot-nya dapet lah. Tinggal gimana ini ntar ngeditnya, dan sampai sekarang pun aku belum menyentuh video-video dari sempu sama sekali, btw -_-
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, pertanda siang semakin panas. Kami beres-beres, bersiap meninggalkan pantai, dan tentu saja berfoto-foto dulu sebelum meninggalkan Segoro Anakan yang sebelumnya gagal kami capai di hari pertama.
Setelah tim pemancing gagal memperoleh ikan, akhirnya kami kembali ke makanan pokok yang menjadi teman kami selama di hutan: mie instan.
Masih dengan bantuan dapur darurat yang diprakarsai oleh si Mandor, dengan sisa nasi yang sedikit kami mengisi tenaga sembari mengeringkan pakaian yang habis dipake renang.
Yang lagi nganggur, semua pada tiduran, ngobrol-ngobrol ringan, main gitar, yang jelas kami benar-benar menghabiskan waktu dengan bersantai dulu sebelum bersiap-siap pulang.
Aku bahkan nyempetin bikin film pendek di sini. Dibantu Ayip dan Luqman sebagai talent dan Razif sebagai cameraman, syuting pun dilakukan seadanya. Panas-panas tapi setidaknya shoot-nya dapet lah. Tinggal gimana ini ntar ngeditnya, dan sampai sekarang pun aku belum menyentuh video-video dari sempu sama sekali, btw -_-
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, pertanda siang semakin panas. Kami beres-beres, bersiap meninggalkan pantai, dan tentu saja berfoto-foto dulu sebelum meninggalkan Segoro Anakan yang sebelumnya gagal kami capai di hari pertama.
Oke, foto di atas adalah editan. Hahaha. Tapi setidaknya di foto itu kelihatan jelas wajah-wajah innocent para cowoknya. Dan yang foto di bawah ini adalah foto ceweknya, tanpa editan. Tapi setidaknya wajah-wajahnya masih lebih segar dilihat daripada yang cowok.
Anyway,
Hutan, kami dataaaang,.....
Catatan Perjalanan ke Sempu IX : LAUT, PANTAI, Kami Telah SAMPAI!
Setelah kemarin sempat tersesat di hutan.
Setelah kemarin sempat bermalam tanpa tahu arah jalan pulang.
Setelah tadi pagi senang menemukan pantai di perseberangan.
Setelah tadi pagi kembali ke pantai awal mula kami diturunkan.
Setelah bertemu Iqbal dan merasakan adanya sedikit atmosfir gay untuk sesaat.
Dari barisan depan, terdengar teriakan "LAUT", "LAUT"
Akhirnya kami menemukan Segoro Anakan.
Senang?
Iya.
Tenang?
Belum.
Perjalanan dari pinggir tebing menuju pantai harus membuat kami menghela nafas Senen-Kemis.
TEBEEH.
Jalanan dengan medan yang lebih sulit karena tebing yang agak curam mewarnai perjalanan kami yang tinggal beberapa (ratus, atau ribu) langkah lagi menuju Segoro Anakan. Apalagi di jalan kami juga harus bergantian dengan orang-orang lain yang juga baru beranjak dari tempat itu. Jalan pun terasa lama dan kami juga semakin tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di pantai.
Singkat cerita, kami berhasil mencapai pantai.
Ya, akhirnya, KAMI BERHASIL MENCAPAI PANTAI.
Tanpa pikir panjang aku dan Bima langsung meletakkan barang dan berlari ke arah lautan untuk membasahi tubuh ini dengan air garam, dan menikmati sensasi air laut masuk kuping yang bakal nyusahin batangan cotton bud nantinya.
Disusul teman-teman lainnya, akhirnya kami bermain perang pasir di sini.
Aku juga sempat dikubur hidup-hidup sebagai barang percobaan ramuan pasir pantai yang sepertinya akan mempercepat penggosongan kulit -_-
Setelah kemarin sempat bermalam tanpa tahu arah jalan pulang.
Setelah tadi pagi senang menemukan pantai di perseberangan.
Setelah tadi pagi kembali ke pantai awal mula kami diturunkan.
Setelah bertemu Iqbal dan merasakan adanya sedikit atmosfir gay untuk sesaat.
Dari barisan depan, terdengar teriakan "LAUT", "LAUT"
Akhirnya kami menemukan Segoro Anakan.
Senang?
Iya.
Tenang?
Belum.
Perjalanan dari pinggir tebing menuju pantai harus membuat kami menghela nafas Senen-Kemis.
TEBEEH.
Jalanan dengan medan yang lebih sulit karena tebing yang agak curam mewarnai perjalanan kami yang tinggal beberapa (ratus, atau ribu) langkah lagi menuju Segoro Anakan. Apalagi di jalan kami juga harus bergantian dengan orang-orang lain yang juga baru beranjak dari tempat itu. Jalan pun terasa lama dan kami juga semakin tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di pantai.
Singkat cerita, kami berhasil mencapai pantai.
Ya, akhirnya, KAMI BERHASIL MENCAPAI PANTAI.
Tanpa pikir panjang aku dan Bima langsung meletakkan barang dan berlari ke arah lautan untuk membasahi tubuh ini dengan air garam, dan menikmati sensasi air laut masuk kuping yang bakal nyusahin batangan cotton bud nantinya.
Disusul teman-teman lainnya, akhirnya kami bermain perang pasir di sini.
Aku juga sempat dikubur hidup-hidup sebagai barang percobaan ramuan pasir pantai yang sepertinya akan mempercepat penggosongan kulit -_-
Di foto itu aku tidak sedang kegirangan. Itu kepanasan, dol.
Oke, skip.
Kami bermain memuaskan segala hasrat yang terpendam selama tersesat di hutan.
Perang pasir, berenang di laut, dan ada juga yang hanya tiduran di pantai, semua kami lakukan untuk bersenang-senang dan melepas stress dan trauma setelah dari hutan.
Si Kiki tiba-tiba nongol di atas tebing. Ia ternyata masih belum puas hanya sampai di pantai, sampai ia masih mau memanjat tebing yang tinggi dan menyaksikan samudra yang katanya terlihat menakjubkan dari atas sana.
Merasa dilecehkan, Luqman dan Razif ikut menyusul Kiki menuju tebing tersebut. Dan usut punya usut, kata Kiki, Luqman nyempetin beol di tengah jalan antara pantai dan tebing itu.
Kami membuat basecamp dengan dapur darurat dan tenda sementara untuk digunakan berganti baju.
Setelah puas bermain di laut dan di tebing, kami beristirahat sambil memulihkan tenaga dan memasak mie.
Oh iya, di sini, Kopler, Jemblunk, Tatit, dan Bima masih berambisi untuk memancing ikan yang katanya ikan di sini bakalan suka sama umpan yang udah disiapin Tatit.
Cacing.
"Ini menu baru, ikan di sini pasti pada doyan" ujar bapak pembina Tatit Xpeditionz
Setelah berangkat memancing dengan percaya diri...
beberapa menit kemudian mereka balik ke basecamp, dengan harapan kosong...
soundtrack Sheila On 7 - Berhenti Berharap
Catatan Perjalanan ke Sempu VIII : Iqbal
Muhammad Iqbal Iswandi.
Adalah sahabatku sejak SMP kelas VIII dulu. Dan SMA, kami satu sekolah namun sayangnya jarang berinteraksi karena ia masuk kelas RSBI sedangkan aku kelas reguler.
Iqbal adalah pindahan dari Jakarta.
Dulu waktu pertama kali ke Tuban, ia masih menggunakan elo-gue dan kata teman-teman yang sekelas sama doi sih, katanya, juga rada freak, dan suka ngisengin teman-teman sekelas. Alhasil saat-saat pertama pun ia agak sulit mendapatkan teman di Tuban.
Tapi setelah beradaptasi dengan baik, entah itu doi yang beradaptasi atau kita aja di sekitarnya yang beradaptasi sama doi, Iqbal pun lambat laun membangun perkembangan sosialnya di SMP Negeri 1 Tuban dengan baik, dan bahkan bertemu dan berteman dengan baik sama salah satu siswa terbaik di sekolah itu: Yordhan F. A. Bayhaqi.
Lebih tepatnya,
siswa terbaik diantara yang terbalik.
Pertemananku dengan Iqbal berlanjut sampai ke jenjang selanjutnya.
Bukan ke pelaminan, ya.
Iqbal ternyata ikut suatu perguruan silat di Tuban. Dan saat itu, aku kebetulan juga bergabung dengan perguruan silat tersebut. Yang membedakan strata antara aku dan Iqbal, adalah Iqbal sudah tingkat lanjut dan aku adalah pemula. Sehingga aku harus menyebutnya 'mas'.
Aku masih ingat, aku dan Iqbal berlatih ilmu ketangkasan di laut.
Ia mengajarkanku berlatih dengan tongkat di laut, mengasah kemampuan kaki dan tangan, dan tentu saja bertahan dari sengatan matahari yang ternyata berada tepat di atas kami pukul 12.00
Iqbal adalah sahabat yang baik.
Dan kami sudah lama tidak bertemu semenjak kelulusan SMA diumumkan.
Lalu setelah cerita panjang lebar, kenapa Iqbal aku catutkan khusus di sini?
-----
Tepat di 3/4 perjalanan menuju Segoro Anakan, aku bertemu dengan Iqbal.
Ia kini mendalami ilmu pariwisata di Ciputra. Dan yang lebih penting lagi, ia baru saja 'mentas' dari Segoro Anakan.
Setelah terjadi pembicaraan singkat diantara kami, aku diinstruksikan oleh Iqbal untuk tetap mengambil jalan setapak yang lurus, dan saat itu ia mengatakan Segoro Anakan tinggal 10 menit lagi.
Aku dan teman-teman pun semakin bersemangat.
Kami melanjutkan perjalanan, dan dari kejauhan, aku melihat Iqbal sudah bersama rombongannya meninggalkan tempat kami bertemu tadi.
Catatan Perjalanan ke Sempu VII : Kembali ke Jalan yang Benar
Yak,
melanjutkan cerita panjang yang berhenti sampai di perahu yang mengantarkan kami ber24 menyeberangi pantai menuju pantai.
Dan benar saja. Kami kembali ke pantai start awal.
Aku ulangi.
Kami kembali ke pantai start awal.
Di mana kemarin kami melangkahkan kaki di sini tepat pukul 16.45 sore dan dihadapkan dengan tiga pilihan rute jalan; kanan, tengah, atau kiri, yang berakhir pada pemilihan rute kiri dan mengantarkan kami ke petualangan penuh ketegangan di hutan yang diselimuti kegelapan.
skip.
Setelah kembali berdiri di sini dan bertemu orang banyak, kami memutuskan untuk bertanya sebelum melanjutkan perjalanan ke Segoro Anakan.
Dan alhamdulillah, kata masnya, tinggal mengambil jalan kanan dan ikuti saja jalan setapak.
Akhirnya, kami bersiap-siap berangkat lagi, dan tepat pukul 09.45 kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan, lagi, untuk mencapai Segoro Anakan.
Di jalan, kami menemui banyak tanda yang lebih mendekati positif. Maksudnya, kalau di jalan sebelumnya kami menemui pohon tumbang, kami memang menemui pohon tumbang, tapi tumbangnya nanggung dan kami hanya membenarkan tumbangnya pohon tersebut. Tapi yang kami lihat sekarang benar-benar pohon tumbang. Ya, pohon tumbang-mbang-mbang.
Ehm, sorry kalau rada bingung baca paragraf barusan. Hanya orang-orang cerdas yang niscaya akan memahaminya.
By the way, ingatkah kalian dengan tanda tali rafia warna merah yang diikat di pohon? Sekarang kami menemui tanda ikat tali biru di pohon. Dan pikiranku kini paham dan penuh dengan spekulasi, kenapa waktu tersesat kemarin kami menemui tali yang merah.
Kami banyak menemui orang di jalan setapak ini. Ada yang kelihatannya habis dari Segoro Anakan, dan ada pula yang kayaknya baru mau menuju tempat itu. Setidaknya, sekarang kami lega, jalan yang kami lewati menunjukkan 'tanda-tanda kehidupan'. Di jalanan pun kami tidak menemui kesulitan berarti. Hanya saja kami juga sesekali berhenti untuk beristirahat karena tenaga kami yang terkuras semalaman di hutan.
Lagipula, perjalanan masih jauh. Jam menunjukkan pukul 10.30, dan kami masih terus menyusuri hutan.
Oh iya, by the way juga, Mandor nyempetin foto-foto pas kami lagi berhenti di tengah jalan,
dan fotonya yang satu ini benar-benar terlihat dramatis, eksotis, namun sama sekali tidak erotis.
melanjutkan cerita panjang yang berhenti sampai di perahu yang mengantarkan kami ber24 menyeberangi pantai menuju pantai.
Dan benar saja. Kami kembali ke pantai start awal.
Aku ulangi.
Kami kembali ke pantai start awal.
Di mana kemarin kami melangkahkan kaki di sini tepat pukul 16.45 sore dan dihadapkan dengan tiga pilihan rute jalan; kanan, tengah, atau kiri, yang berakhir pada pemilihan rute kiri dan mengantarkan kami ke petualangan penuh ketegangan di hutan yang diselimuti kegelapan.
skip.
Setelah kembali berdiri di sini dan bertemu orang banyak, kami memutuskan untuk bertanya sebelum melanjutkan perjalanan ke Segoro Anakan.
Dan alhamdulillah, kata masnya, tinggal mengambil jalan kanan dan ikuti saja jalan setapak.
Akhirnya, kami bersiap-siap berangkat lagi, dan tepat pukul 09.45 kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan, lagi, untuk mencapai Segoro Anakan.
Di jalan, kami menemui banyak tanda yang lebih mendekati positif. Maksudnya, kalau di jalan sebelumnya kami menemui pohon tumbang, kami memang menemui pohon tumbang, tapi tumbangnya nanggung dan kami hanya membenarkan tumbangnya pohon tersebut. Tapi yang kami lihat sekarang benar-benar pohon tumbang. Ya, pohon tumbang-mbang-mbang.
Ehm, sorry kalau rada bingung baca paragraf barusan. Hanya orang-orang cerdas yang niscaya akan memahaminya.
By the way, ingatkah kalian dengan tanda tali rafia warna merah yang diikat di pohon? Sekarang kami menemui tanda ikat tali biru di pohon. Dan pikiranku kini paham dan penuh dengan spekulasi, kenapa waktu tersesat kemarin kami menemui tali yang merah.
Kami banyak menemui orang di jalan setapak ini. Ada yang kelihatannya habis dari Segoro Anakan, dan ada pula yang kayaknya baru mau menuju tempat itu. Setidaknya, sekarang kami lega, jalan yang kami lewati menunjukkan 'tanda-tanda kehidupan'. Di jalanan pun kami tidak menemui kesulitan berarti. Hanya saja kami juga sesekali berhenti untuk beristirahat karena tenaga kami yang terkuras semalaman di hutan.
Lagipula, perjalanan masih jauh. Jam menunjukkan pukul 10.30, dan kami masih terus menyusuri hutan.
Oh iya, by the way juga, Mandor nyempetin foto-foto pas kami lagi berhenti di tengah jalan,
dan fotonya yang satu ini benar-benar terlihat dramatis, eksotis, namun sama sekali tidak erotis.
Catatan Perjalanan ke Sempu VI : "Selamat Pagi Hutan, Apa Kabar Pantai?"
Yup,
"Selamat pagi hutan, apa kabar pantai?" ujar Ibanez.
Malam gelap telah terlewati. Mungkin sisa tenaga senter-senter milik kami juga sudah hampir habis. Dan sekarang kami terbangun dalam hutan dengan masih menyimpan harapan untuk menemukan pantai pagi ini.
Waktu menunjukkan pukul 06.00. Mandor dan kru dapur darurat-nya kembali memasak untuk sarapan kami bersama. Dengan sisa nasi sedikit kami berbagi secukupnya. Dan pagi ini pun aku berinisiatif untuk merekam teman-temanku menggunakan Canon 600D milik Kiki dan menanyakan kesan-kesan mereka selama perjalanan ini.
Kopler dalam video sempat berujar iseng,
"Rek sopo ae sing nemokno rekaman iki, tulung editen yo gawe arek-arek sing tau urip nang kene."
Jleg,
Aku gak bisa mbayangin, gimana kalau nanti yang dikatakan Kopler dengan iseng gini bisa membuat kami ber24 hilang ditelan alam dan kamera Kiki tertinggal, lalu ada seseorang yang menemukan rekaman ini dan lalu mengangkatnya ke layar lebar, dan kami ber24 menjadi artis dadakan walau jasad kami tidak pernah ditemukan...
Oke,
skip.
Singkat cerita, jam 08.00 kami telah membereskan tenda, dapur, dan semua yang kami dirikan semalam, lalu bersiap untuk berangkat lagi dengan harapan akan menemukan pantai pagi ini juga.
Barisan telah diatur, dan setelah Bima, Geboy, dan Jemblunk mengecek jalan di depan, kami akhirnya berangkat. Tetap dengan barisan sebelumnya, selang-seling cowok-cewek, hanya saja sekarang aku lebih sering wira-wiri karena merekam perjalanan kami yang berusaha menemukan pantai.
Semak belukar yang berkurang, akar-akar yang 'menjinak', dan tanda-tanda seperti pohon tumbang dan ikat tali merah membuat kami semakin bersemangat melangkah, walau sempat terhenti-henti untuk memastikan jalan. Hingga akhirnya dari barisan depan terdengar suara...
"LAUT!"
Ya, kami SUKSES kembali ke pantai. Tepatnya, pantai yang sedikit melenceng ke arah Utara dari pantai start -_-
dan inilah foto dari kamera Ayip, Canon 60D. Dan gambar ini tepat memotret pantai yang kami temukan dari sudut pandang hutan,
Well, at least,
Setidaknya, kami semua bersyukur dapat keluar dari hutan.
Pukul 09.00, kami semua masih memulihkan tenaga di pantai. Ada yang berfoto-foto ria, ada yang duduk-duduk saja, dan akhirnya ada seorang pelaut yang melintas dekat kami. Jemblunk langsung menghampiri pelaut itu dan menanyakan tentang tarif naik perahu ke Segoro Anakan. Oh iya, kami yang di sini sedang mendiskusikan dua rencana. Apakah kami akan menyewa tour guide untuk lanjut ke Segoro Anakan melewati hutan, atau naik perahu dan memutar rute ke pantai start awal.
Cewek-cewek pada minta tour guide. Aku dan Kopler sih berpikiran kalau kita masuk ke hutan lagi tapi dengan arah yang sudah kami tentukan dengan pasti ke Segoro Anakan. Dan tidak ada yang setuju dengan kembali ke hutan -_-
Setelah dimusyawarahkan, dengan menimbang biaya dan efektivitas, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa perahu saja untuk memutar rute ke pantai start awal dan menjelajahi hutan yang sudah ada jalan setapak yang mengarahkan kami ke Segoro Anakan.
Kami membagi dua tim lagi.
Dan aku tetap pada kloter terakhir.
Di sini kameranya Kiki kehabisan baterai. Aku beralih menggunakan kamera Ayip Canon 60D untuk melanjutkan misi dokumentasi. Dan setelah menyempatkan foto-foto sebentar, dengan menyegarkan diri sedikit di sumber air tawar yang ternyata ada di dekat kami, perahu kloter kedua pun datang dan kami meninggalkan pantai tempat kami keluar dari hutan ini.
"Selamat pagi hutan, apa kabar pantai?" ujar Ibanez.
Malam gelap telah terlewati. Mungkin sisa tenaga senter-senter milik kami juga sudah hampir habis. Dan sekarang kami terbangun dalam hutan dengan masih menyimpan harapan untuk menemukan pantai pagi ini.
Waktu menunjukkan pukul 06.00. Mandor dan kru dapur darurat-nya kembali memasak untuk sarapan kami bersama. Dengan sisa nasi sedikit kami berbagi secukupnya. Dan pagi ini pun aku berinisiatif untuk merekam teman-temanku menggunakan Canon 600D milik Kiki dan menanyakan kesan-kesan mereka selama perjalanan ini.
Kopler dalam video sempat berujar iseng,
"Rek sopo ae sing nemokno rekaman iki, tulung editen yo gawe arek-arek sing tau urip nang kene."
Jleg,
Aku gak bisa mbayangin, gimana kalau nanti yang dikatakan Kopler dengan iseng gini bisa membuat kami ber24 hilang ditelan alam dan kamera Kiki tertinggal, lalu ada seseorang yang menemukan rekaman ini dan lalu mengangkatnya ke layar lebar, dan kami ber24 menjadi artis dadakan walau jasad kami tidak pernah ditemukan...
Oke,
skip.
Singkat cerita, jam 08.00 kami telah membereskan tenda, dapur, dan semua yang kami dirikan semalam, lalu bersiap untuk berangkat lagi dengan harapan akan menemukan pantai pagi ini juga.
Barisan telah diatur, dan setelah Bima, Geboy, dan Jemblunk mengecek jalan di depan, kami akhirnya berangkat. Tetap dengan barisan sebelumnya, selang-seling cowok-cewek, hanya saja sekarang aku lebih sering wira-wiri karena merekam perjalanan kami yang berusaha menemukan pantai.
Semak belukar yang berkurang, akar-akar yang 'menjinak', dan tanda-tanda seperti pohon tumbang dan ikat tali merah membuat kami semakin bersemangat melangkah, walau sempat terhenti-henti untuk memastikan jalan. Hingga akhirnya dari barisan depan terdengar suara...
"LAUT!"
Ya, kami SUKSES kembali ke pantai. Tepatnya, pantai yang sedikit melenceng ke arah Utara dari pantai start -_-
dan inilah foto dari kamera Ayip, Canon 60D. Dan gambar ini tepat memotret pantai yang kami temukan dari sudut pandang hutan,
Well, at least,
Setidaknya, kami semua bersyukur dapat keluar dari hutan.
Pukul 09.00, kami semua masih memulihkan tenaga di pantai. Ada yang berfoto-foto ria, ada yang duduk-duduk saja, dan akhirnya ada seorang pelaut yang melintas dekat kami. Jemblunk langsung menghampiri pelaut itu dan menanyakan tentang tarif naik perahu ke Segoro Anakan. Oh iya, kami yang di sini sedang mendiskusikan dua rencana. Apakah kami akan menyewa tour guide untuk lanjut ke Segoro Anakan melewati hutan, atau naik perahu dan memutar rute ke pantai start awal.
Cewek-cewek pada minta tour guide. Aku dan Kopler sih berpikiran kalau kita masuk ke hutan lagi tapi dengan arah yang sudah kami tentukan dengan pasti ke Segoro Anakan. Dan tidak ada yang setuju dengan kembali ke hutan -_-
Setelah dimusyawarahkan, dengan menimbang biaya dan efektivitas, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa perahu saja untuk memutar rute ke pantai start awal dan menjelajahi hutan yang sudah ada jalan setapak yang mengarahkan kami ke Segoro Anakan.
Kami membagi dua tim lagi.
Dan aku tetap pada kloter terakhir.
Di sini kameranya Kiki kehabisan baterai. Aku beralih menggunakan kamera Ayip Canon 60D untuk melanjutkan misi dokumentasi. Dan setelah menyempatkan foto-foto sebentar, dengan menyegarkan diri sedikit di sumber air tawar yang ternyata ada di dekat kami, perahu kloter kedua pun datang dan kami meninggalkan pantai tempat kami keluar dari hutan ini.
Catatan Perjalanan ke Sempu V : Bertahan Semalam
Kembali pada catatan perjalanan ke Sempu,
Setelah sampai di tempat landai, mendirikan tenda, dan membuat dapur darurat, kami pun beristirahat setelah jalan kaki selama hampir 6 jam di hutan. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Mandor, Ayip, Tatit, dan Kiki sedang memasak mie dan teh hangat dengan perlengkapan dan bahan seadanya. Bisri, Kopler, Jemblunk, Gruwok, dan teman-teman lainnya beristirahat di tempat berkumpul yang telah dibuat beralaskan banner bekas. Adapun beberapa cewek yang sudah kelelahan juga beristirahat di tenda. Semua masih menyimpan harapan untuk bisa keluar dari hutan ini.
Aku mulai kepikiran macam-macam. Mulai macan kumbang, ular, sampai zombie. Untunglah Ibanez membawa garam grasak. Aku meminta bantuan Kipli untuk menebar garam di sekitar lokasi perkemahan kami. Sembari menunggu nasi buatan Kiki matang, anak-anak semuanya pada sibuk berbincang-bincang satu sama lain untuk mengusik sepi, sambil nyemil mie goreng yang sudah matang juga, sih.
Di sini, kami harus berbagi satu sama lain, tidak ada yang boleh makan sendiri sementara yang lain ada yang belum makan. Meskipun aku akuin kayaknya aku yang makannya paling banyak, ehm.
Piring, sendok, garpu, dan peralatan semua yang serba kotor tidak membuat turun nafsu makan kami. Karena yang jelas di sini, kami harus bertahan hidup dengan apapun yang ada di tempat ini.
Malam semakin larut. Perbincangan mulai sedikit sepi. Anak-anak yang cewek mulai pada tidur di tenda.
Dan inilah potret tenda malam hari itu,
Beberapa cowok juga diinstruksikan untuk tidur, termasuk aku yang tenaganya kurang kuat bila dibandingkan dengan teman-temanku lainnya. Kopler dan Mandor dengan sukarela begadang dan berjaga semalaman. Memang diantara kami semua, mereka berdualah yang staminanya paling fit dan tahan kantuk. Tatit juga, sih. Tapi kasusnya kalau Tatit, dia makhluk nocturnal. Malam melek, pagi ndlelek. Langganan bolos kuliah pagi. Dan sekian pembahasan tentang Tatit.
Aku tidur di samping Bima yang uda ngorok sembari tadi. Aku tidur di pinggir, dan yang aku takutkan juga tetap: macan kumbang, ular, dan zombie.
Syet.
Setelah sampai di tempat landai, mendirikan tenda, dan membuat dapur darurat, kami pun beristirahat setelah jalan kaki selama hampir 6 jam di hutan. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Mandor, Ayip, Tatit, dan Kiki sedang memasak mie dan teh hangat dengan perlengkapan dan bahan seadanya. Bisri, Kopler, Jemblunk, Gruwok, dan teman-teman lainnya beristirahat di tempat berkumpul yang telah dibuat beralaskan banner bekas. Adapun beberapa cewek yang sudah kelelahan juga beristirahat di tenda. Semua masih menyimpan harapan untuk bisa keluar dari hutan ini.
Aku mulai kepikiran macam-macam. Mulai macan kumbang, ular, sampai zombie. Untunglah Ibanez membawa garam grasak. Aku meminta bantuan Kipli untuk menebar garam di sekitar lokasi perkemahan kami. Sembari menunggu nasi buatan Kiki matang, anak-anak semuanya pada sibuk berbincang-bincang satu sama lain untuk mengusik sepi, sambil nyemil mie goreng yang sudah matang juga, sih.
Di sini, kami harus berbagi satu sama lain, tidak ada yang boleh makan sendiri sementara yang lain ada yang belum makan. Meskipun aku akuin kayaknya aku yang makannya paling banyak, ehm.
Piring, sendok, garpu, dan peralatan semua yang serba kotor tidak membuat turun nafsu makan kami. Karena yang jelas di sini, kami harus bertahan hidup dengan apapun yang ada di tempat ini.
Malam semakin larut. Perbincangan mulai sedikit sepi. Anak-anak yang cewek mulai pada tidur di tenda.
Dan inilah potret tenda malam hari itu,
Beberapa cowok juga diinstruksikan untuk tidur, termasuk aku yang tenaganya kurang kuat bila dibandingkan dengan teman-temanku lainnya. Kopler dan Mandor dengan sukarela begadang dan berjaga semalaman. Memang diantara kami semua, mereka berdualah yang staminanya paling fit dan tahan kantuk. Tatit juga, sih. Tapi kasusnya kalau Tatit, dia makhluk nocturnal. Malam melek, pagi ndlelek. Langganan bolos kuliah pagi. Dan sekian pembahasan tentang Tatit.
Aku tidur di samping Bima yang uda ngorok sembari tadi. Aku tidur di pinggir, dan yang aku takutkan juga tetap: macan kumbang, ular, dan zombie.
Syet.
Rabu, 11 Juli 2012
Catatan Perjalanan ke Sempu IV : Kedatangan, Keraguan, dan Kebersamaan
Sabtu, 7 Juli 2012 pukul 15.30, akhirnya kami ber24 sampai di seberang Pulau Sempu.
Perjalanan selama seperempat hari kami habiskan dengan canda, tawa, nyanyi-nyanyi, ber-geje-ria, sampai mual-mual dan muntah-muntah.
But overall, kami sudah di sini. Di seberang Pulau Sempu.
Setibanya di sini aku dan teman-teman membagi tugas.
Tatit, Kipli, Bisri dan Geboy ke tempat mengurus perizinan. Aku, Mandor, Ayip, Bima, Razif, dan semuanya menurunkan barang-barang dan membersihkan truk dari sisa-sisa sampah, dan muntah -_-
Pukul 15.50 kami akhirnya berangkat menyeberang ke Pulau Sempu, dengan membagi dua kelompok besar untuk naik dua perahu.
Oh iya, ada satu lagi yang gak boleh dilupakan:
MONSTER
Ya, MONSTER, adalah nama yang disematkan oleh Kopler ke tas yang brisi persediaan air minum, cola, dan perlengkapan lainnya yang bobotnya mencapai sekitar 40Kg.
Awalnya Kopler yang mengangkut MONSTER. Tapi karena sampai di seberang ternyata terlalu berat untuk dipaksakan, akhirnya MONSTER dibedah dan isinya beberapa dibagi rata agar bobotnya berkurang, dan Bisri-lah yang akhirnya menopang MONSTER ini selama perjalanan menyusuri hutan.
Ada tiga pilihan jalan; Kanan, kiri, atau tengah.
Kami mengambil tengah, dan setelah masuk beberapa meter ke depan memijakkan kaki di tanah becek bin cekat, kami menemui jalan buntu. Kami pun berbalik, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan kiri.
Sepanjang perjalanan tanah terjal, becek, dan bebatuan serta pohon-pohon, ranting, dan akar-akar liar mengiringi langkah kami 24 mahasiswa yang tanpa kami sadari semakin memasuki hutan, lebih dalam, dan hari pun semakin sore, pandangan semakin gelap. Kami masih optimis karena kami menemui beberapa tanda tali merah di pohon-pohon. Hingga sampai pukul 18.15, kami masih berada di hutan dengan jalan yang (menurutku) tidak biasa. Karena seharusnya kalau sudah obyek wisata, kenapa rasanya jalan yang kami lalui ini seakan-akan tidak ada jalan setapak dan terjalnya medan yang kami lalui ini kok rasanya terlalu susah bila dilewati oleh banyak orang.
Dan benar saja.
Mandor, selaku komando dari depan, mengumumkan bahwa kita harus kembali, tepat pada pukul 18.30 dimana pandangan kami sudah tidak bisa melihat tanpa bantuan senter. Akhirnya setelah mundur beberapa meter, kami memutuskan untuk berhenti di tanah yang lumayan datar. Ya, lumayan datar bila dibandingkan tanah lainnya yang terjal, namun tidak berlaku buat aku, Jemblunk, dan Mandor yang harus berjaga di tempat paling tinggi, paling terjal, dan kami hanya pegangan pada batang pohon, akar, dan bagian tumbuhan lain yang ada di sekitar kami.
Setelah duduk di tempat masing-masing yang sedikit terpisah, kami ber24 membagi makanan seadanya dengan rata, memutuskan untuk istirahat sebentar (reminder: SUASANA GELAP. Tidak kelihatan apapun tanpa bantuan senter). Setelah membagi makanan, kami berdiskusi tentang perjalanan ini; Mau lanjut, atau berhenti dan bermalam di tempat yang sedang kami pijak.
Dari kami semua, Bisri yang keukeuh untuk tetap di tempat dan bermalam. Tapi setelah diskusi panjang, dipimpin oleh Kopler, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut demi menemukan jalan kembali. Barisan pun ditata menjadi satu baris, dengan dipimpin oleh Kopler dan Luqman, di belakang disusul barisan selang-seling cewek-cowok. Aku berada diantara Farras dan Lela yang bisa dikatakan berada di barisan tengah.
Berjalan sekitar puluhan meter, melewati medan yang lebih sulit lagi karena pandangan terbatas, kami menemukan tempat yang lumayan landai. Lagi-lagi, diskusi dihelat untuk menentukan apakah kami akan bermalam atau tidak, dan keputusannya masih lanjut jalan. Suara angin laut, rasi bintang, bahkan sampai aplikasi kompas dan GPS lewat HP Android punya Lela, Anita, dan punyaku sendiri sudah dikerahkan, tapi tetap saja kami tidak bisa menemukan jalan keluar. Setelah melalui pertimbangan lagi, akhirnya kami ber24 sepakat kembali ke tempat landai tadi untuk bermalam di hutan. Ya, bermalam di hutan.
Sampai di tempat landai tadi, kami meletakkan tas dan barang bawaan di bawah pohon besar, lalu mendirikan tenda dengan instruksi dari Kiki, dibantu penerangan lampu emergency mini dari Febray, dan setelah beberapa menit tenda pun berhasil didirikan. Mandor, Tatit, dan Kiki pun lanjut membuat dapur darurat untuk memenuhi kebutuhan bersama, memasak mie dan teh hangat.
Di sini, kami benar-benar merasakan nuansa kebersamaan yang tidak akan pernah kami temukan di kampus.
Karena sekarang kami sedang di hutan, tanpa tahu jalan keluar, dan kami hanya bisa menertawakan nasib kami sendiri.
Ini adalah foto dapur darurat, dipotret dengan Canon 600D menggunakan flash dan sedikit blur karena entah kesalahan aku yang motret atau...
Catatan Perjalanan ke Sempu III : Hari Keberangkatan
Sabtu, 7 Juli 2012
Akhirnya hari ini tiba juga,
hari di mana aku sudah tidak kepikiran macam-macam tentang editing, UAS, dan bla-bla-bla
yang ada di pikiranku ya cuman AYO BERANGKAT KE SEMPU
hahaha
Bangun pagi sekali untuk shalat Subuh,
packing lagi,
lalu mandi, dan di-SMS Mandor disuruh bawa gitar -_-
Sebenarnya ragu juga mau bawa gitar, tapi ya mau gimana lagi di pikiranku juga kayaknya bawa gitar seru juga, kemping sambil nyanyi-nyanyi.
Aku pun siap berangkat ke kampus untuk kumpul dulu.
Di kampus sudah ada Luqman, Chemoel, Kipli, Ibanez, dan Kopler. Setelah itu kami semua berangkat ke Polda, setelah Mega dan Anita menyusul kami di kampus.
Kami pun tiba di Polda.
Satu per satu semua berkumpul sampai berjumlah 23.
Karena jumlah yang ganjil, perasaan jadi tidak enak untuk berangkat. Tapi akhirnya sampai ke detik-detik terakhir Razif pun datang, diantar Rasky dan akhirnya jumlah kami genap menjadi 24 orang.
Sebelum berangkat, kami sempatkan untuk berfoto-foto dulu,
dan ini adalah foto cewek-ceweknya.
Pukul 09.15
Kami berangkat menuju Sempu
Akhirnya hari ini tiba juga,
hari di mana aku sudah tidak kepikiran macam-macam tentang editing, UAS, dan bla-bla-bla
yang ada di pikiranku ya cuman AYO BERANGKAT KE SEMPU
hahaha
Bangun pagi sekali untuk shalat Subuh,
packing lagi,
lalu mandi, dan di-SMS Mandor disuruh bawa gitar -_-
Sebenarnya ragu juga mau bawa gitar, tapi ya mau gimana lagi di pikiranku juga kayaknya bawa gitar seru juga, kemping sambil nyanyi-nyanyi.
Aku pun siap berangkat ke kampus untuk kumpul dulu.
Di kampus sudah ada Luqman, Chemoel, Kipli, Ibanez, dan Kopler. Setelah itu kami semua berangkat ke Polda, setelah Mega dan Anita menyusul kami di kampus.
Kami pun tiba di Polda.
Satu per satu semua berkumpul sampai berjumlah 23.
Karena jumlah yang ganjil, perasaan jadi tidak enak untuk berangkat. Tapi akhirnya sampai ke detik-detik terakhir Razif pun datang, diantar Rasky dan akhirnya jumlah kami genap menjadi 24 orang.
Sebelum berangkat, kami sempatkan untuk berfoto-foto dulu,
dan ini adalah foto cewek-ceweknya.
Pukul 09.15
Kami berangkat menuju Sempu
Catatan Perjalanan ke Sempu II : Cerita H-1
Oke, setelah resmi mendirikan event COMMCAMP dengan tujuan awal event ini adalah ke Sempu, aku semakin bersemangat untuk berangkat dan menikmati liburan dengan 23 teman lainnya di pulau Sempu nanti. Masalah uang, kami ber24 menghabiskan total urunan 45.000 [awal] + 15.000 [tambahan] + 5.000 [makan di jalan] = 65.000.
H-1, semua berlalu begitu cepat dan tidak teratur.
Aku ngebut ngedit filmnya Mas Yoga, buru-buru sampai jam 11 akhirnya bisa 100% render. Lalu meneruskan ke Polda nemui Ayip untuk ngasihkan DP sebanyak 500.000 ke polisi untuk uang sewa truknya besok.
Di jalan, Verlita SMS
"Dhan, kamu masih kuat nganterin setelah semalaman ngedit?"
"Masih, ini aku malah lagi on fire."
Yap, meskipun semalaman aku hanya tidur 4 jam (itupun dicicil 1 jam 1 jam) demi editan film yang harus cepat selesai karena diputar hari Jumat, aku gak ngerasa ngantuk sama sekali. -_-
Sumpah.
Yang ada adrenalinku meningkat karena harus dikebut bermacam-macam acara.
Setelah sampai di Polda, menemui Ayip dan Jumatan di sana, aku langsung ke kosan, mandi, dan njemput Verlita dan nganterin dia ke bandara.
Well,
Bandara Juanda,
aku nggak nyangka bisa berdiri di sini, tanpa dampingan keluargaku yang biasanya datang kemari untuk menjemput kepulangan Bapakku dari luar kota. Tapi sekarang, aku di Bandara Juanda, untuk mengantarkan Verlita yang akan berangkat ke Jakarta.
Tepat jam 14.00 akhirnya aku dan Verlita dipisahkan oleh antrian check in di Bandara..
#soundtrack lagu perpisahan
*skip*
oke, sekarang aku menuju FIB untuk melihat film hasil editanku dilihat oleh orang banyak :]
dan alhamdulillah, hasilnya ketika dinilai oleh dosennya Mas Yoga, dikatakan bahwa film ini bagus, beda dan Mas Yoga dipuji karena beberapa pengambilan gambar yang bagus dan pewarnaan yang bermakna.
Aku sebagai editor tentu senang karena aku ikut andil menentukan gambar yang muncul di film ini :)
Malamnya, aku packing dan menyiapkan tenaga untuk berangkat besok.
H-1, semua berlalu begitu cepat dan tidak teratur.
Aku ngebut ngedit filmnya Mas Yoga, buru-buru sampai jam 11 akhirnya bisa 100% render. Lalu meneruskan ke Polda nemui Ayip untuk ngasihkan DP sebanyak 500.000 ke polisi untuk uang sewa truknya besok.
Di jalan, Verlita SMS
"Dhan, kamu masih kuat nganterin setelah semalaman ngedit?"
"Masih, ini aku malah lagi on fire."
Yap, meskipun semalaman aku hanya tidur 4 jam (itupun dicicil 1 jam 1 jam) demi editan film yang harus cepat selesai karena diputar hari Jumat, aku gak ngerasa ngantuk sama sekali. -_-
Sumpah.
Yang ada adrenalinku meningkat karena harus dikebut bermacam-macam acara.
Setelah sampai di Polda, menemui Ayip dan Jumatan di sana, aku langsung ke kosan, mandi, dan njemput Verlita dan nganterin dia ke bandara.
Well,
Bandara Juanda,
aku nggak nyangka bisa berdiri di sini, tanpa dampingan keluargaku yang biasanya datang kemari untuk menjemput kepulangan Bapakku dari luar kota. Tapi sekarang, aku di Bandara Juanda, untuk mengantarkan Verlita yang akan berangkat ke Jakarta.
Tepat jam 14.00 akhirnya aku dan Verlita dipisahkan oleh antrian check in di Bandara..
#soundtrack lagu perpisahan
*skip*
oke, sekarang aku menuju FIB untuk melihat film hasil editanku dilihat oleh orang banyak :]
dan alhamdulillah, hasilnya ketika dinilai oleh dosennya Mas Yoga, dikatakan bahwa film ini bagus, beda dan Mas Yoga dipuji karena beberapa pengambilan gambar yang bagus dan pewarnaan yang bermakna.
Aku sebagai editor tentu senang karena aku ikut andil menentukan gambar yang muncul di film ini :)
Malamnya, aku packing dan menyiapkan tenaga untuk berangkat besok.
Catatan Perjalanan ke Sempu I : Awal Mula Berdirinya COMMCAMP
"COMMCAMP : Commers'11 on Camping"
Inilah event yang lahir berkat rencana liburan beberapa anak komunikasi 2011 yang ingin pergi ke Sempu tanggal 7-8 Juli 2012 tepat setelah UAS berakhir.
Sebenarnya, gak ada keinginan lebih untuk menjadikan event ini sebagai event kecil yang resmi. Tapi karena awal mula tim COMMCAMP yang hanya sembilan anak (Aku, Mandor, Ayip, Tatit, Verlita, Amal, Febray, Tami, Kiki) lambat laun bertambah dan bertambah hingga menjadi 24 anak, akhirnya kami semua sepakat menamai acara liburan ke Sempu ini dengan nama COMMCAMP.
Dengan adanya penamaan event ini, diprakarsai oleh Kiki, Mandor, Ayip, serta Tatit, akhirnya kami pun berani untuk menyewa truk polisi yang tentu saja tidak boleh sembarang orang bisa menggunakan fasilitas tersebut. Diketuai oleh Ayip, akhirnya kami memperoleh izin dari kepolisian untuk sewa truk. Lalu dengan inisiatif Mandor, dibantu aku dan Kiki serta sokongan dana dari semua 24 anggota COMMCAMP, lahirlah banner resmi kami :]
"Satu Langkah Dewasakan Diri"
sebetulnya adalah potongan lirik dari lagunya Last Child yang Pedih -_- semua berkat ide Mandor dan Ayip yang kebetulan juga Last Friends. Lagipula, jargon ini juga yang nantinya membuktikan kekompakan kami ber24 menaklukkan alam liar di Sempu dan menjadikan ini semua "Satu Langkah Dewasakan Diri"
Asal mula lambang tangan Last Friends ditekuk dan disatukan hingga membentuk lambang cinta itu idenya Elsa. Sayangnya ia gak ikut ke Sempu. Tapi setidaknya idenya bolehlah menjadi lambang COMMCAMP kali ini yang bisa dikatakan bertujuan untuk menebarkan cinta dan persahabatan diantara kami semua yang berangkat ke Sempu. Dan inilah tanganku dan tangan si Kiki yang belum diedit untuk banner,
Gak usah nanya yang mana tanganku dan mana tangannya Kiki -_-
Ini kami buat tepat H-4. Apalagi saat itu aku juga ada tanggungan ngedit filmnya Mas Yoga yang Kotak Hitam. Aku jadi rada gak nyante waktu bikin desain banner itu -_-
Dipesan dengan ukuran 200 x 80 cm di ICanPrint seharga 17.000, akhirnya jadilah banner yang akan menemani keberangkatan kami ber24 ke Sempu nanti .
Dengan persiapan perizinan lain yang juga dibantu Tatit untuk mengurusnya, lalu mengkomando persiapan anak-anak oleh Kiki dan Mandor serta dibantu broadcast Febray...
Akhirnya kami 24 mahasiswa komunikasi Unair:
[Cowok]
Odhan (aku) ; Mandor ; Ayip ; Tatit ; Bima ; Kipli ; Gruwok ; Razif ; Jemblunk ; Sakti ; Kopler ; Bisri ; Luqman ; Geboy
[Cewek]
Kiki ; Febray ; Tami ; Idame ; Mega ; Ibanez ; Anita ; Chemoel ; Lela ; Farras
SIAP MENAKLUKKAN PULAU SEMPU !
Langganan:
Postingan (Atom)








