Twitter

Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liburan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2013

"Misi Menaklukkan Kawah Ijen" Chapter IV : Ijen, Terbayar Sudah...

Menyambung cerita sebelumnya. Aku dan rombongan belakang berhasil menyusul rombongan depan. Dan beberapa orang dari barisan awal sudah berangkat menuju kawah.

Aku kemudian bersiap menuju kawah. Aku tanyakan pada mereka yang beristirahat di tepi tanjakan, apa ada yang mau ikut atau tidak. Well, akhirnya tidak ada yang menjawab, hingga akhirnya aku mantapkan diri untuk segera menyusul empat orang kawan yang sudah di depan.

Berbekal jaket dan tas kamera, aku mulai menuruni track dari gunung menuju kawah. Tidak ada yang bisa aku lihat karena kabut. Dengan jarak pandang yang berbatas, aku berhati-hati menuruni kawah. Akhirnya sampai di titik tertentu di tanjakan turun, jarak pandang mulai terbuka. Dari kejauhan aku lihat ada sesuatu yang berkobar di bawah. Ya, Blue Fire di depan mata!

Aku semakin bersemangat menuruni kawah. Sembari melewati bebatuan aku sering berpapasan dengan para penambang yang semangatnya seperti tidak pernah ada batasnya. Akhirnya kelelahan yang aku rasakan pun tidak aku hiraukan. Aku terus menyusur jalan turun. Hingga akhirnya headlamp-ku menangkap sosok-sosok yang aku kenal. Ya, keempat temanku yang ada di depan. Mereka ternyata sedang menapaki jalan kembali.

Katanya, kondisi di sekitar Blue Fire sudah sedikit berbahaya saat itu. Makanya, mereka kembali. Yah beruntung untuk temanku. Mandor. Ia berhasil mengabadikan Blue Fire dari jarak dekat. Aku hanya mengandalkan lensa kit dari kameraku untuk menjangkau Blue Fire dari kejauhan. Dengan situasi yang gelap, aku tingkatkan ISO setinggi mungkin, dan fokus mengandalkan perkiraan, akhirnya...voila! Inilah potret paling bagus yang aku peroleh.


Sedikit menyesal, aku tidak menyusul dengan cepat. Karena hasil foto paling bagus pun cuma kelihatan Blue Fire-nya dikit. Yah, okelah, yang penting mata telanjangku benar-benar puas menikmati pemandangan subuh di Kawah Ijen. :)

Seiring pagi mulai datang, akhirnya aku dan empat orang temanku ini beranjak pergi dari kawah. Semakin pagi akhirnya kami menjumpai teman-teman kami yang dari tadi di atas mulai turun menyusul kami. Aku tersenyum puas, semua tenaga yang aku keluarkan untuk menuruni kawah sudah terbayar walau hanya melihat Blue Fire dari kejauhan.

Yah, akhirnya setelah aku kembali ke atas, aku dan teman-teman menyempatkan foto sebentar di puncak Ijen. Hasilnya lumayan jadi kenang-kenangan nih.


Haaaah.. Hehe :)
Dengan ini, saya deklarasikan: Ijen, terbayar sudah!

"Misi Menaklukkan Kawah Ijen" Chapter III : On Fire To The Blue Fire!

Pendakian dimulai!

Kami berangkat bersama dari perkemahan. Langkah kami berderap mengisi malam yang sunyi. Kabut dan jalan yang masih kabur menetap di pandangan kami. Ada satu hal lagi selain mencapai puncak Ijen, yang memotivasiku untuk segera sampai. Blue Fire!

Di jalan, kami menemui banyak sekali penambang belerang yang sedang menapaki jalan naik dan turun untuk mencari nafkah. Satu hal yang aku salut. Beban yang ada di pundak penambang itu tidak enteng. Tetapi langkah mereka selalu mendahului kami. Stamina yang mereka tunjukkan di jalan menuju puncak seakan memotivasi kami para pemuda agar tidak pantang menyerah mendaki sampai ke tujuan.

Kami berangkat dengan semangat yang tinggi. Namun sayang, karena beberapa dari kami memiliki batas tenaga yang berbeda, akhirnya rombongan yang tadinya bersama terpisah menjadi dua bagian. Rombongan depan dan rombongan belakang. Dan aku termasuk di belakang. Dan yang disayangkan lagi, salah satu anggota pendakian, Mbak Hutami akhirnya mendeklarasikan diri untuk mundur dari pendakian, setelah tenaga yang dikeluarkannya sudah sampai batas. Mas Gimon yang memimpin dari belakang mengantar Mbak Hutami kembali ke perkemahan. Tapi salut sama Mas Gimon, meskipun sempat kembali turun, namun ia berhasil menyusul kami rombongan belakang, bahkan staminanya masih terlihat melebihi kami yang sering berhenti beristirahat.

Menyadari batas tenagaku sendiri, aku melangkah dengan sabar, tetap berusaha tidak memisah dan ikut saling menjaga barisan agar tidak ada yang tertinggal. Yah, lumayan. Aku ada stok obat-obatan di tas. Berasa jadi semacam tim medis tunggal di rombongan belakang. Hehe.

Dengan berbekal niat dan kemauan yang kuat, akhirnya kami sampai di puncak! Nggak cuman itu, akhirnya kami bisa menyusul rombongan depan. Yah meskipun pada akhirnya kami ikut bergabung berdiam salah satu tepi bukit dengan barisan depan, kami yang berada di belakang setidaknya lega sudah sampai di sini. Tapi bagiku ini masih belum cukup. Masih ada satu hal yang belum aku capai: Blue Fire!


Katanya teman-teman, ada empat dari anggota tim pendaki yang sudah turun duluan untuk menyaksikan Blue Fire. Dengan sedikit bertanya-tanya pada tenaga diri sendiri, akhirnya tercetus di pikiranku untuk menyusul empat orang dari barisan depan itu. Yep, akhirnya aku mantapkan diri, dan aku mulai bersiap fisik dengan melepas jaket di puncak Ijen itu. Aku masih percaya teori melawan dingin dengan membiasakan rasa  dingin merasuki tubuh. Dan, akhirnya teori itu sedikit berguna juga sih, ketika aku mengenakan jaket kembali, rasa dingin sudah tidak seberapa terasa lagi. Well, aku siap menuju Blue Fire!

"Misi Menaklukkan Kawah Ijen" Chapter II : Titik Awal Pendakian!

Ah, akhirnya.
Setelah sekian lama tidak melanjutkan cerita Commcamp 2 yang ke Kawah Ijen, akhirnya aku merasa berdosa dan seperti merasa harus menulis kelanjutan ceritanya. Hup hup!

Jadi, saat itu kami rombongan commcamp meninggalkan pos penjagaan Teluk Hijau. Kami berangkat menuju pos check point (aku lupa nama posnya) Kawah Ijen, dengan estimasi sampai di tempat pukul 21:00. Well, as usual. Ada aja yang seru, yang gak bakal kepikiran buat ditemu di jalan. Mulai dari cerita si Jemblung yang ditanya orang gila di depan masjid tempat kami beristirahat, terus ada lagi pak supir yang sempet beli handphone pas kami lagi istirahat, sampai akhirnya ketika jalan sudah dekat dengan pos check point, kami harus melewati jalan hutan tanpa penerangan dan naik turunnya 'ndewa'. Well, kata-kata yang aku tulis nggak bisa nggambarin gimana seremnya jalan yang dilewatin bis kami. :|

Kira-kira, sudah seperempat jalan di bukit dekat pos check point, hawa dingin mulai menyerang. Beberapa diantara kami mulai mengenakan sarung tangan dan pakaian pelindung dingin lainnya. Well, di sini aku melihat pemandangan bulan yang lumayan sayang bila dilewatkan. Cantik. Jendela atas bis terbuka. Namun akhirnya kemudian ditutup, karena pertimbangan hawa dingin yang semakin banyak masuk. Brr.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di pos check point. Yah, lumayan. Setidaknya masih ada satu warung yang berjualan di pintu masuk. Kopi hangat pun mengawali kegiatan malam hari ini. Sayangnya aku lupa, jam berapa saat kami touch down di pos ini. Nggak lama kemudian, kami mulai mendirikan tenda di sebuah pendopo. Sebenernya lebih asik dan kerasa nuansa kempingnya kalo di atas rumput sih. Tapi sayangnya saat itu rumput sedang basah. Dan kami nggak mau ambil resiko kedinginan saat beristirahat.

Dengan semangat kerjasama, mengandalkan senter dan tangan satu sama lain, kami berhasil mendirikan sejumlah tenda di atas pendopo yang kami jadikan 'rumah' untuk istirahat sebelum pendakian dini hari kami. Nah, ini adalah salah satu tenda yang mengisi sudut pendopo, yang dibuat dapur perapian oleh si Mandor dan kawan-kawan.


Coba hitung, berapa jumlah tenda yang kami dirikan, hahaha. Jadi, ini seperti ada pembagian kubu. Kubu yang pertama Mandor dkk memasak nasi sampek kenyang. Kubu kedua di seberang memasak nasi goreng, lengkap dengan mentega, sosis, dan segala sesuatu yang nikmat untuk disantap di alam liar. :|
Otomatis, aku ikut kubu kedua. hehe.


Kelihatan terang soalnya aku pake flash sih motretnya. Kalo kondisi yang sebenarnya ya gelap, peteng dedet. :|
Hal-hal biasa pun menjadi unik, seperti buang air kecil ketemu kunang-kunang, jalan kaki tanpa penerangan kadang harus berhati-hati. Biasa ya? haha, buat aku ini unik. Berkumpul dengan banyak kawan di satu tempat, saling membantu untuk bisa survive dan punya tujuan yang sama: mencapai Kawah Ijen!

Oke, setelah puas ikut menyantap hidangan dari dapur kubu kedua, mataku mulai tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya aku harus merebahkan diri di salah satu tenda, mencoba tidur, walau aku sendiri nggak percaya kalau bisa tidur dengan kondisi seperti ini. Tapi akhirnya tidur juga, hehe. Cerita tidur yang unik nggak ngalahin cuman si Dianto. Tidur di tenda cewek, berenam, dia cowok sendiri. Untungnya si Dianto anak baik-baik sih, meskipun rada absurd, sehingga ia kayaknya malah jadi satpam yang jagain cewek-cewek tidur. Hahaha.

Mataku terbangun. Aku lupa jam berapa.
Aku cuma melihat beberapa anak terlihat bersiap-siap meninggalkan perkemahan. Kemudian sembari mengumpulkan nyawa, aku mulai menyadari. Ini sudah waktunya mendaki!

Sekitar dini hari pukul 01:00 (kalau tidak salah), kami serentak meninggalkan perkemahan kami. Membawa bekal dan peralatan seperlunya, kami siap menuju Kawah Ijen!

Kamis, 21 Maret 2013

"Misi Menaklukkan Kawah Ijen" Chapter I : Sampai Berjumpa Lagi, Teluk Hijau!

Ahoy! Sorry telat ngelanjutin cerita, hehe.

so, sampe di mana ya kita kemarin-kemarin... *buka buka posting*

Jadi, ceritanya kami tim Commcamp 2 sedang dalam perjalanan kembali ke pos penjagaan dari Teluk Hijau. 

Well, perjalanan pulang ini tidak se-lelah berangkatnya sih. Yaa soalnya kami berangkat ndak tau seberapa jauh tujuannya, hehe. Sepanjang jalan pulang ini juga lebih melelahkan sih sebenernya.

Matahari lebih menyengat. Kami harus menapaki jalan kembali dengan sisa tenaga yang sebelumnya sudah hampir kami habiskan di Teluk Hijau. Well, awalnya sih kami semua berniat meninggalkan Teluk Hijau bersama-sama. Singkat cerita kami akhirnya terpisah-pisah lagi. Kelompok yang ngebet mandi dan ganti baju sudah jauh di depan. Dan itu cewek semua. Kecuali Reyhan, Dianto dan Kang Uman :|

Aku menapaki jalan pulang dengan Ayip, Bima, dan Rendy. Selama perjalanan pulang, kami sesekali berhenti untuk istirahat. Matahari siang dan medan yang berliku-liku benar-benar semakin terasa 'sensasi'-nya sekarang. Pfft.

Well, ujung-ujungnya aku berjalan sendiri menyusuri jalan pulang ketika sampai di perkampungan. -_-
Ini foto ketika Bima, Kecenk, dan Ayip meninggalkan aku di belakang -_-


Aku ketinggalan di belakang ini sebenernya juga gak rugi-rugi amat sih. Aku sendiri lagi pengen menikmati alam yang di sekitar bukit ini. Well, ini aku ada pemandangan yang sempet aku foto dari bukit,




Sampai di pos penjagaan, pasukan-pemberani-yang-ingin-mandi-yang-berangkat-lebih-dulu-tadi sudah ramai mengantri di kamar mandi. Yah, aku sendiri juga tidak memungkiri... Aku butuh mandi :|

Melelahkan, memang. Tapi itu semua sepadan dengan apa yang kami dapatkan di Teluk Hijau. Deru ombak yang segar, miniatur air terjun yang sejuk, serta pasir yang bersahabat membuat kami betah berlama-lama di sana. Aku sendiri masih tidak ikhlas meninggalkan Teluk Hijau yang mendamaikan ini.

Tapi, perjalanan masih panjang.

Kawah Ijen menanti di garis depan.

Sabtu, 09 Maret 2013

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter IX : Liburan Yang Sebenarnya


HUU YEAH!

TELUK HIJAU J



Ternyata jarak antara Teluk Batu dan Teluk Hijau itu cuman sejengkal dua jengkal doang!

Baru aja aku menapakkan kaki di jalan yang aku kira awalnya bakal masuk hutan lagi. Eh ternyata, aku cuman perlu ngelewatin semak-semak dikit untuk sampai ke Teluk Hijau!

Dan, aku setuju dengan katanya Sitha, "YOIKI LIBURAN TEMENAN", atau ini dia LIBURAN YANG SEBENARNYA, hehe.

Di sini, semua kepenatan dan kejenuhan yang dirasakan selama di perkuliahan dan perkotaan rasanya amblas semua! Kami sangat menikmati waktu berharga kami di sini.

Ada yang mancing ikan macem Jemblunk, sayang gak dapet, hahaha.

Ada yang menuju ke ujung teluk macem mas Bontang dan mas Ejak, disusul rombongan wanita commcampers.

Ada yang bikin istana pasir macem Bima, Elsa, Dianto dan aku. Meskipun harus menangis karena dihancurkan godzilla Gimon.

Ada yang mendirikan markas dan memulai masak-masak macem Mandor dkk.

Ada yang main di air terjun, main air di laut, dan akhirnya, gak di Sempu, gak di sini. Aku tetep jadi manusia pasir asusila yang dibikinin susu dan titit yang gede dari pasir dan kayu. Pfft.


Well, intinya di sini kami bersenang-senang dengan bahagia. Berasa Teluk Hijau ini cuma punya kami saja.

Aku, Sitha, Banjer, Elsa, Kang Uman, Ermeyta, dan beberapa temen lainnya akhirnya bermain air laut bersama. Gelombang ombak yang kadang meninggi itu bikin kami tertawa-tertawa sendiri ketika kami terkena air dan sensasi ‘tarikannya’. Sumpah, ini arusnya deres. Aku aja yang nekat ke tengah tipis-tipis, hampir tenggelam karena terbawa arus. Tapi untungnya aku berenang tepat pas arusnya mengarah ke sungai, akhirnya aku berhasil menyelamatkan diriku sendiri.

Tapi... akhirnya aku kenak batu karang. Punggungku lecet dikit. Yaweslah, maybe itu peringatan buat aku yang sok-sokan ngelawan arus. Padahal arusnya deres bangets, fyuh.


Setelah kami semua puas bermain dengan ombak, kami membersihkan diri di air terjun kecil yang bisa dijumpai di tempat yang agak menyudut di Teluk Hijau.

Oh meen, airnya tawar, dan ini SEGER PUOL. Hahaha.

Setelah membersihkan diri dari pasir dan asinnya air laut di sini, kami bergabung dengan teman-teman yang sudah menyiapkan tenda dan tempat masak-masak untuk mengisi perut sambil bersantai.

Well, aku ngerasa bersalah di sini. Aku baru numpahin susu coklat anget yang udah susah-susah dibuat sama temen-temen. Hiks.

Ada lagi yang seru di sini. Mas Gimon bikin minuman dari campuran nutrisari, air, dan alkohol. Yep, alkohol 70% -_-

Minuman ini ditujukan untuk monyet yang ternyata udah ngintipin aktivitas kami dari atas pohon. Karena dicurigai akan mengganggu, akhirnya Mas Gimon mbikinin minum racikan ini, and....

Voila!

Monyetnya sukses dibuat mabuk K

Setelah puas memabukkan seekor monyet dan kami juga sudah cukup mengisi tenaga, akhirnya sekitar jam 12an kami putuskan untuk kembali ke pos penjagaan.

Duh, sebenernya aku juga masih belum ikhlas ninggalin Teluk Hijau yang asri ini. Tapi ya mau gimana lagi, sebentar lagi kami semua akan menuju ke tujuan utama kami, yang tentunya kami juga harus menyiapkan tenaga lebih.

Kawah Ijen! We'll coming soon!

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter VIII : Teluk... Batu


TELUK BATU!

Ya ini, tetangganya Teluk Hijau.

Ternyata kami harus menapaki Teluk Batu ini dulu sebelum ke Teluk Hijau.

Di sini kami istirahat, dan ternyata barisan paling depan telah menunggu kami tim paling belakang di sini. Alhasil, akhirnya kami berkumpul dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Hijau.



Well, setelah beberapa saat memulihkan tenaga, akhirnya kami siap untuk pergi ke Teluk Hijau.

Di Teluk Batu ini ada aliran air tawar loh yang menuju ke laut. Aku sempatkan untuk minum airnya, dan memang airnya ini jernih banget. Oke, meskipun gak menutup kemungkinan airnya ada bekas be’ol atau pipis orang, tapi setidaknya ini bener-bener seger loh, hehe.

Well, setelah berekspektasi macam-macam, ternyata...
jalan ke Teluk Hijau tidak sesuai perkiraan.

Jumat, 08 Maret 2013

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter IV : “Damai... Yoiki Seng Jenenge Damai.”


Aku berjalan di belakang Bima dan Elsa, karena aku yang membawa senter di kepala. Otomatis aku lah yang jadi juru penerang jalan mereka, halah.

Jalan yang kami tempuh ternyata dipenuhi kolam-kolam lokal. Lengkap dengan bebatuan yang sangar-sangar grunjalannya.

Sepanjang jalan, kami bercerita absurd tentang kuliah dan hal-hal imajiner. Hingga akhirnya kami menjumpai gapura yang sama ketika kami pertama kali sampai di sini dengan bis. Oh meen, suara ombaknya cetar to the max. Kami lihat ke samping, dan ternyata memang ini pantai!

Kami pun bersemangat jalan kaki menuju pantai.

Tuhan, tempat ini benar-benar lapang. Langit kelihatan semakin meluas dengan gemerlapan bintang-bintang yang bertaburan di atas. Pantainya juga seperti hamparan pasir yang damai, tiada seorang pun di sana. Kami bertiga hanya menyaksikan ombak melambai-lambai, dan kepiting-kepiting kecil berkeliaran di sekitar kami.

Akhirnya, kami pun duduk menghadap ombak, dan lampu senter pun aku matikan.


--lukisan pake Paint, dari kiri: Elsa, Bima, dan aku. Suasana remang-remang. Tapi laut dan langit keliatan jelas--

“Damai... Yoiki seng jenenge damai...” dalam hati aku mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa, rasanya aku memang dibimbing sampai ke tempat ini. Pantai ini sebetulnya biasa. Tetapi entah saat malam itu, aku merasakan keindahan dalam sunyi dan gelap yang tidak pernah aku lihat dan rasakan sebelumnya.

Sepanjang malam itu, aku, Elsa, dan Bima bercerita tentang hal-hal absurd dan bermain dengan imajinasi kami masing-masing. Topiknya tetap, tentang kuliah. Tapi kami juga membicarakan tentang pertemanan dan hal absurd seperti perasaan. Kadang juga curcol dikit, dan dilanjut dengan membicarakan imajinasi masing-masing tentang berbagai hal.

Aku lupa tepatnya kami ngomongin apaan, yang jelas saat itu yang aku rasakan cuman damai, dengan suara ombak yang membahana di telinga kanan kiri.

Jam menunjukkan pukul 12 tengah malam.

Kami bertiga pun kembali ke pos penjagaan.

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter III : “Kita Nggak Akan Ambil Resiko.”


Sampai di pos penjagaan itu ternyata bukan berarti kami sudah dekat dengan Teluk Hijau.

Kata penjaganya, kami harus berjalan sekitar satu jam lebih menyusuri hutan agar sampai ke teluk yang airnya berwarna ijo itu.

Kami pun dilema. Antara mau nekat tetap lanjut jalan kaki dengan harapan kemping di Teluk Hijau, atau menuruti apa kata penjaga dengan menetap semalam di pos penjagaan dan jalan kaki pagi-pagi untuk sampai ke Teluk Hijau.

Diskusi yang panjang antara Mas Gimon, Mandor, Tatit, Banjer, dan Pak Penjaga pun tetap menghasilkan dua opsi yang sama: lanjut atau berhenti sementara.

“Kita nggak akan ambil resiko. Jalan yang kita tempuh masih jauh. Selain itu temen-temen kita yang cewek juga banyak. Aku sih budal tok. Tapi kalo jumlah kita yang banyak ini dipacul tetep jalan, resikonya terlalu besar.” ujar Mas Gimon ke semuanya.

Aku dalam hati sih tetap ingin nekat malam-malam menuju Teluk Hijau.

Tetapi, akhirnya setelah berpikir bersama sejenak, kami memutuskan untuk bermalam di pos penjagaan. 
Meskipun akhirnya kurang berkesan ‘ngecamp’ di hari pertama, tapi ya sudahlah, salah kami, terutama Banjer juga. Pakek nyasar segala. Pfft.

Akhirnya kami meletakkan barang-barang di pos penjagaan. Hampir sebagian dari kami menyempatkan untuk mandi. Tapi kalo aku sih ya meskipun bermalam di rumah, badan tetep ngecamp mode on: ANTI MANDI. Hahaha.

Dengan sedikit bau badan yang tidak menyengat, aku membantu teman-teman yang sudah bersemangat memasak di dapur. Tetap dengan komando Mandor, semuanya berhasil memasak nasi, sarden kalengan, dan mie untuk semua orang di sana, termasuk supir dan pak penjaga.

Demi menghidupkan suasana, kami yang di sana pun bersenda gurau, bermain kartu, dan ada yang tidur lebih awal. Si Banjer selaku warga sekitar juga berusaha bersosialisasi dengan pak Penjaga. Sedikit-sedikit terdengar kisah horor tentang adanya pasangan yang mesum yang lari pontang-panting dari sini karena melihat ‘sesuatu.’ Ada juga yang masih nggak percaya kalo kebo-nyante-dipinggir-pante itu tadi adalah nyata, bukan iblis atau jin semacamnya.

Aku yang sedikit kecewa dengan bermalam di pos penjagaan, berencana untuk berkespedisi sendiri dengan jalan-jalan malam, sendirian. Well, tapi akhirnya ada yang sepikiran. Bima, si Watu yang juga survivor commcamp 1 akhirnya jadi teman jalan malam. Selain itu, ada juga Elsa, commcampers baru yang ternyata sense of adventure-nya juga tinggi.

Akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk keluar dari pos penjagaan dan berjalan ke tempat yang kami sendiri tidak tahu mau ke mana.


--foto: tangan Kang Uman membredel kaleng sarden yang nahas di dapur--

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter II : “Kabut Akan Segera Turun, Jangan Nekat...”


Kami menemukan jalan yang maybe benar. Tetapi, jam telah menunjukkan pukul 17.00, nek gak salah.

Dan kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak di dekat toko warga sekitar dan bertanya tentang jalan ke Teluk Hijau.

“Kabut akan segera turun, jangan nekat...” samar-samar aku dengar ucapan itu dari salah satu warga. 

Memang sih, dari sini aja uda keliatan di depan kalo kabut dari bukit itu lagi otewe turun ke kampung. Akan tetapi, bukan commcampers namanya kalo nggak nekat. Setelah berdiskusi singkat, kami memutuskan untuk tetap lanjut menuju Teluk Hijau. Atau setidaknya sampai di pos penjagaannya lah.

Jalanan semakin gelap. Kami yang di bus berpelukan. Yo gak lah.

Sepanjang perjalanan yang diiringi langit yang semakin gelap, beberapa diantara kami masih ada yang bercanda untuk mencairkan ketegangan. Ada juga yang berdoa dengan sisa-sisa keimanan yang ada. Dan akhirnya kami melihat gapura, serta deburan suara ombak yang membahana.

Oh God, sepertinya jalan terang sudah di depan.

Kami melewati jalanan bebatuan yang membuat elep sampai kegembosan ban belakang. Well, guyonannya sih itu gara-gara mbak Hutami yang duduk di bangku sebelah kanan elep. Tapi ya rasional ajalah, itu gara-gara bebatuan yang kasarnya gak suopan...ditambah bobot mbak Hutami juga #eh

Oke, kita nemuin suatu padang rumput yang luas. Dengan kegelapan yang menyelimuti, kami, ya, kami semua, melihat ada siluet kerbau makan rumput. Ya, KERBAU. *jeng jeng*

Maybe konyol. Emang itu padang rumput. Tapi NGAPAIN KEBO DI DEKET PANTE??
Itu mungkin yang ada di benak temen-temen yang paranoid melihat kebo-nyante-dipinggir-pante.

Oke, singkat cerita, kita akhirnya sampai di pos penjagaan Teluk Hijau.

Aku sudah mencium bau petualangan di sini.

Jam menunjukkan sudah lewat maghrib. Dan kami semua menurunkan barang-barang kami di pos ini. 

Rencananya bis dan elep ditinggal di pos, dan kami jalan kaki menuju teluk hijau. Dan rencananya sih aku uda mbayangin kita semua bakal menyusur hutan malam-malam dan kemping di pantai sampai pagi.

Tapi semua tidak seindah yang dibayangkan...


--foto: Banjer sedang berkonsolidasi dengan Pak Penjaga, situasi sudah aman terkendali saat itu--

“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter I : “Njeeer Banjer...”


Hari sudah sore. Jalan yang kami tempuh lambat laun menyempit, menggerunjal, dan semakin mencurigakan. 

Pak supir bis semakin bersambat-ria dengan kernet. Kami sudah memasuki jalanan desa. Tetapi jalan yang kami ambil ini tidak seperti katanya orang-orang. Jare supir bis seh. Katanya jalan menuju Teluk Hijau udah bagus, lah yang dipijak ban bis sekarang jauh sekali dari kata bagus.

Mungkin kalo ada orang hamil di sini bisa ngelahirin kali ya. But wait, kami semua masih mahasiswa dan boro-boro ada yang hamil, pasangan aja belom. *skip*

Kami semua yang di bis masih percaya dengan insting si Rendy Banjer yang jadi tour guide karbitan kami menuju Teluk Hijau. Dan akhirnya...

VOILA!

Jembatan kayu di depan mata.

“Njeeeer banjer.....” ucap sejumlah orang ketika bis berhenti dan supir bis tak henti-hentinya berdongkol ria setelah mendapati ternyata yang di depan mata bukan lah jalan beraspal, tetapi hanya seonggok jembatan kayu yang sungguh sangat tidak bisa dibayangkan ketika seekor bis melintas di atasnya.

Awalnya kita masih menyisir jalanan desa itu. Hingga akhirnya jalanan semakin terbuka, dan kami mendapati hamparan sawah yang luas di sekitar kami. Pandangan kami tak ada yang bisa mencapai beberapa kilo di depan. Sehingga dengan sedikit percaya diri, bis dan elep pun tetap melaju ke depan. Aaaaaaanndd it’s dead end.

Untung saja meskipun di sawah-sawah gitu, ada rumah warga sekitar dengan halaman luas yang bisa dipake bis buat muter balik. Yo masio supire kudu usaha jalano bise mundur sih. Tapi akhirnya kami sukses puter balik, dan dengan pikiran yang logis kami kembali ke jalan yang sekiranya benar.

Pembelaan dari Banjer: “Mbiyen aku rene numpak sepeda motor, dadi yo sak erohku liwat kene (jembatan kayu).”

Cursed you, NJEERRR BANJER.


“Hari Keberangkatan” Chapter II : “Budal Tok Es!”


Hari ini Senin 18 Februari 2013 ; Setelah disibukkan titah Mandor kemarin sore dan pagi-pagi jadi kuli, akhirnya waktu keberangkatan pun tiba. Meskipun sedikit terhambat dengan saling tunggu-menunggu, dengan mengucap mantra “Budal tok es!” kami pun berangkat dengan lancar senang dan bahagia pada pukul 07:00 tipis-tipis.

Aku duduk di depan. Pengen lihat jalanan dari kaca depan bus yang sensasinya kayak nonton tipi ratusan inch. Seisi bus ini pun bercanda dan tertawa sampai pulas. Kadang ada pembicaraan tentang matkul, KRS, dan mripit-mripit kuliah. Tapi nggak sampe sejam, seisi bus uda memejamkan mata, kecuali pak Sopir dan kernet lah, blok.

Eniwei, kita berangkatnya ini pake dua kendaraan. Satunya bis gede, satunya mobil gede, I mean, elep, ehem, ELF.

Karena aku taunya cuman yang di bis, ya sorry deh aku ga bisa nyeritain gimana situasi dan kondisi rekan-rekan yang ada di elep. Pokoknya keliatannya semua senang deh.


--foto: suasana foto bersama yang sedikit maksa--

Setelah melewati jalanan yang ramai, meliuk-liuk, naik turun, mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra, akhirnya kita sampai di Banyuwangi!

Jam menunjukkan pukul 13.00, nek gak salah.

Kalo bukan karena trio kwek-kwek hoax macem Kang Uman, Jemblunk, dan Tatit, pasti bis ini nggak sore-sore amat nyampek di check point Teluk Hijau. Mereka berangkat dari Situbondo. Dengan berlinang kisah tentang kebohongan tarif si supir angkot yang mengantar mereka sampai di terminal bis, yah singkat cerita pokoknya mereka uda sampai di bis lah. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Teluk Hijau.

Meskipun jalan yang ditempuh mencurigakan dan disambati terus sama bapak supir bis, kami tetap melaju dan percaya bahwa jalan yang kami tempuh ini baik-baik saja.

“Hari Keberangkatan” Chapter I : Kepepet Sompret!


Minggu, 17 Februari 2013 ; Aku baru aja touch down Surabaya. Habis liburan di Jakarta bentar. Dan ini pertama kalinya aku naik pesawat loooh (bangga, yang baca harus bilang WOW). *skip*

Aku diantar keluarga ku sampai di kos. Baru aja buka kamar, nggak sempet nata-nata tas dan seisinya, aku langsung buruan cus ke kampus. Si Mandor sedikit nggugupi, duitku buat COMMCAMP #2 ini belum lunas sih, hehe.

Dan ternyata emang COMMCAMP #2 kali ini terkendala sedikit masalah. Banyak yang mengundurkan diri. Jumlahnya nggak nanggung-nanggung, dari 35-an orang turun jadi 28 orang. Padahal Mandor dkk sudah mempersiapkan semuanya untuk 35 orang, dan itu belum lunas sih. Tetapi berkat kucuran bantuan dana dari bapak pembina Tatit, semua masih bisa berjalan sesuai rencana.

Aku dan temen-temen yang ada di KBU berusaha keras mencari orang untuk menutupi kuota 35 orang itu. Bahkan sampek banting harga jadi 50.000 doang, masih juga kagak ada yang minat buat ikut. Ah, ada aja alasannya buat gak ikut. Mulai dari ijin orang tua, sibuk jadwal sana-sini, males, dan bela-belain liburan ngerjain tugas. Oke, alasan terakhir itu fiktif. Lanjut.

Nggak cukup sampe disitu. Perjuangan belum berakhir, halah.

Dengan waktu yang udah mepet, Mandor memberiku titah untuk mencetak banner, beli parafin, dan merampas senter emergency si Febray, salah satu survivor Commcamp #1 yang sangat membantu divisi penerangan dengan mensuplai lampu emergency ketika tersesat di hutan Sempu. Nggak itu doang sih, beberapa perlengkapan Commcamp juga dititipin di kosku.

Oke, soal rampas merampas aku jago sih. Pokoknya itu bereslah. Tinggal modus ngapel ke kosan Febray, ambil senter, pamitan, selesai.

Nah, cetak banner ini... YAOPO?

Aku melanglangbuana ke sana-sini, percetakan pada tutup. Ke I Can Print Ngagel yang jadi andalanku soal urusan cetak-cetakan gini, ternyata berhenti mencari rizki di hari Minggu. Eh, di ITS ketemu percetakan 24 jam. Tapi sekalinya maksa si Mbak kasir buat nyetakin banner dalam kurun waktu 6 jam, aku pun ditolak mentah-mentah dan diusir dari kerajaan percetakan 24 jam itu, halah.

Oke, banner udah hopeless. Sekarang soal sabun ajaib yang bisa buat bakar-bakar, yaitu parafin.

Nyari benda satu ini aku nggak ada ide sama sekali. Pengen gitu berhenti di apotik dan nanyak mbaknya punya parafin apa gak, tapi aku urungkan karena sepertinya itu adalah tindakan bodoh bin absurd. Mana ada apotik yang nyedian sabun bakar macam parafin? Mana ada pula orang yang nyebut parafin itu sabun bakar kecuali aku? Oke, skip.

Ku telpon Mandor, dan aku jelaskan semuanya mengenai gagalnnya pelaksanaan dua titahnya soal banner dan parafin. Well, akhirnya Raja Mandor pun memaklumi kegagalanku, dan tinggallah senter emergency punya Febray doang yang bisa diharapkan dari aku. Oh, meen. Melankolisnya diriku.

Oke, curcolnya selesai. Lanjut curcol lagi *eh

Malam ini adalah malam terakhir sebelum pemberangkatan, halah.

Si Sompret dari Riau, Reyhan, rencananya mau nginep di kosan sih. Dan akhirnya doi betulan nginep sini. Terus? Yawes, kami berdua tidur sekamar dengan normal-normal saja. Skip.

Well, adanya si Sompret ini di kos ya lumayan juga sih, jadi bikin suasana kos sedikit ramai dan bisa jadi teman yang saling mengingatkan soal sholat dan nyiapin barang bawaan. Selain itu, lumayan lah, paginya ada yang mbantuin buat angkat-angkat barang perlengkapan kemping yang terdiri dari beberapa dus dan terpal ini. Sayangnya, sekali sompret tetaplah sompret. Sampai di gerbang masuk Unair, eeh si Sompret kebelet BAB dan akhirnya doi harus menunaikan nafsu kemulesannya di masjid Unair. Tinggallah diriku dengan sisa-sisa tenagaku, menyeret semua barang ke KBU yang jaraknya masih lumayan lah kalo jalan kaki. Pfft.

And you know what?

Kamar mandi FISIP ternyata pagi-pagi udah buka.

HOLY SHIT.


Soooompreeeeeet kuuudaaaa

COMMCAMP #2: Misi Menaklukkan Kawah Ijen | PROLOGUE


Rasanya udah beberapa bulan kelewat semenjak COMMCAMP #1 selesai. Kali ini di liburan semester 3, beberapa pionir COMMCAMP 1 seperti Mandor, Kikik, dan Tatit berencana menggelar jilid kedua dari event kemping yang seru ini. Ya, seru, PUOL. Nggak ada yang bisa nggantiin cerita serunya para commcampers jilid satu yang tersesat di Pulau Sempu. Dan akhirnya, destinasi COMMCAMP jilid dua kali ini sudah fix, yaitu KAWAH IJEN!

Well, aslinya udah ada wacana mau ke Ranu Kumbolo dan bahkan ke Puncak Semeru buat jilid dua ini. Tapi karena Februari 2013 ini jalur ke Semeru ditutup, akhirnya Kawah Ijen pun dipilih sebagai alternatif tujuan utamanya. Meskipun nggak jadi ke Semeru, cerita di Kawah Ijen ini seru juga loh. Dan kali ini nggak ada yang namanya feeling nyasar-karena-nekat atau merinding-disko-digigit-macan-hutan lagi. Sempet nyasar dikit, tapi nggak se-SERU pas di Sempu kok. Hahaha. Lagian kali ini tujuannya nggak cuma Kawah Ijen. Ada Teluk Hijau dan Pulau Merah juga yang siap ditaklukkan! Haha!

Oh iya, satu lagi. Yang disayangkan dari jilid dua ini, para survivors dari Sempu yang bertahan lanjut ke jilid dua cuman tujuh orang: Mandor, Kikik, Tatit, Bima, Jemblunk, Ayip, dan aku! Dan COMMCAMP kali ini bakal diketuai oleh Rendy ‘Banjer’ selaku warga sekitar di Banyuwangi.

Overall, jumlah peserta kali ini lumayan loh, sampek 27 orang dan ini terdiri dari 4 angkatan: 2009-2012. Beda dengan jilid satu dulu. 24 orang, dan itu cuma angkatan 2011 doang sih.

Akankah para COMMCAMPERS jilid dua ini bisa sampai di Ijen dengan selamat?

Akankah setelah sampai di Ijen bisa pulang lagi dengan selamat?

Akankah setelah pulang di Surabaya bisa kembali ke rumah dengan selamat?

Yawes, masio cerito iki diketik nggawe sudut pandang orang yang tak dianggap (aku, btw) wocoen terus ceritone nek pengen ngerti yo!

Salam Commcampers!


Rabu, 06 Maret 2013

Foto: I'm Flying!






Oke, agak ndeso bin kampung dikit kali ya.
Tapi ini pengalaman pertama naik pesawat sih, dan berhasil mengambil beberapa gambar menggunakan 650D-ku ketika pesawat sedang melangit.
Aku terbang ke Jakarta, saat itu. Lagi pengen main ke rumah Fais, Upan, Naufal, sodara-sodara yang biasanya ketemunya cuman pas Idul Fitri doang.
Jadi, hari Rabu tanggal 13 Februari 2013 saat itu, aku ke Jakarta naik pesawat, jalan-jalan di Jakarta sampai ke museum sejarah dan kota tua, ngerasain riwehnya busway, dan sibuknya ibukota.
Tapi perjalanan liburan belum selesai.
Minggu 17 Februari 2013 aku balik ke Surabaya, ikut ngurusin Commcamp sedikit di kampus, packing malamnya bersama si Sompret Reyhan...

Aaaaaaand, Senin 18 Februari adventure begins! :)
(to be continued)