Twitter

Jumat, 08 Maret 2013

COMMCAMP #2: Misi Menaklukkan Kawah Ijen | PROLOGUE


Rasanya udah beberapa bulan kelewat semenjak COMMCAMP #1 selesai. Kali ini di liburan semester 3, beberapa pionir COMMCAMP 1 seperti Mandor, Kikik, dan Tatit berencana menggelar jilid kedua dari event kemping yang seru ini. Ya, seru, PUOL. Nggak ada yang bisa nggantiin cerita serunya para commcampers jilid satu yang tersesat di Pulau Sempu. Dan akhirnya, destinasi COMMCAMP jilid dua kali ini sudah fix, yaitu KAWAH IJEN!

Well, aslinya udah ada wacana mau ke Ranu Kumbolo dan bahkan ke Puncak Semeru buat jilid dua ini. Tapi karena Februari 2013 ini jalur ke Semeru ditutup, akhirnya Kawah Ijen pun dipilih sebagai alternatif tujuan utamanya. Meskipun nggak jadi ke Semeru, cerita di Kawah Ijen ini seru juga loh. Dan kali ini nggak ada yang namanya feeling nyasar-karena-nekat atau merinding-disko-digigit-macan-hutan lagi. Sempet nyasar dikit, tapi nggak se-SERU pas di Sempu kok. Hahaha. Lagian kali ini tujuannya nggak cuma Kawah Ijen. Ada Teluk Hijau dan Pulau Merah juga yang siap ditaklukkan! Haha!

Oh iya, satu lagi. Yang disayangkan dari jilid dua ini, para survivors dari Sempu yang bertahan lanjut ke jilid dua cuman tujuh orang: Mandor, Kikik, Tatit, Bima, Jemblunk, Ayip, dan aku! Dan COMMCAMP kali ini bakal diketuai oleh Rendy ‘Banjer’ selaku warga sekitar di Banyuwangi.

Overall, jumlah peserta kali ini lumayan loh, sampek 27 orang dan ini terdiri dari 4 angkatan: 2009-2012. Beda dengan jilid satu dulu. 24 orang, dan itu cuma angkatan 2011 doang sih.

Akankah para COMMCAMPERS jilid dua ini bisa sampai di Ijen dengan selamat?

Akankah setelah sampai di Ijen bisa pulang lagi dengan selamat?

Akankah setelah pulang di Surabaya bisa kembali ke rumah dengan selamat?

Yawes, masio cerito iki diketik nggawe sudut pandang orang yang tak dianggap (aku, btw) wocoen terus ceritone nek pengen ngerti yo!

Salam Commcampers!


Rabu, 06 Maret 2013

Foto: I'm Flying!






Oke, agak ndeso bin kampung dikit kali ya.
Tapi ini pengalaman pertama naik pesawat sih, dan berhasil mengambil beberapa gambar menggunakan 650D-ku ketika pesawat sedang melangit.
Aku terbang ke Jakarta, saat itu. Lagi pengen main ke rumah Fais, Upan, Naufal, sodara-sodara yang biasanya ketemunya cuman pas Idul Fitri doang.
Jadi, hari Rabu tanggal 13 Februari 2013 saat itu, aku ke Jakarta naik pesawat, jalan-jalan di Jakarta sampai ke museum sejarah dan kota tua, ngerasain riwehnya busway, dan sibuknya ibukota.
Tapi perjalanan liburan belum selesai.
Minggu 17 Februari 2013 aku balik ke Surabaya, ikut ngurusin Commcamp sedikit di kampus, packing malamnya bersama si Sompret Reyhan...

Aaaaaaand, Senin 18 Februari adventure begins! :)
(to be continued)

Foto: Mengawah Ijen



Location Kawah, Kawah Ijen, Banyuwangi
Date Taken 20/02/2013 05:47
Camera Canon EOS 650D
F-stop f/3.5
Exposure Time 1/500 sec.
ISO 400
Focal Length 18mm

Ilusi

Raga terduduk ramai,
Sedang firasat pecah terbengkalai,

Langit senja yang dirundung kabut,
Terkesiap mata menusuk lembut,
Resah, diam tak terarah,
Menilik celah memendam merah,

Bercengkerama dengan malam yang menghitam,
Di ujung jalan yang bertahta pelataran,
Kanan ku lihat tatanan,
Kiri ku rasa terpatri,

Ilusi! Tiap ranting jalanan menjadi saksi,
Ilusi! Tiap udara yang terlewat memucat pasi,

Hening dalam keriangan,
Ilusi dari sepi yang terbujuk angan,

Lelah, sudahi segala pembicaraan.



Pos Penjagaan Teluk Hijau, Banyuwangi
18 Februari 2013



foto: area persawahan dekat pos penjagaan, sore hari, 18 Februari 2013

Resep Bungkam

Pernah merasa kalah dalam pembicaraan?
Pernah mengalah dalam hal bercandaan?
Pernah mengesampingkan diri demi melihat tawa-tawa yang lebar?
Pernah berdiam, memperhatikan, dan tetap dipersalahkan?
Pernah menumpuk tanah dan dirusak, diluluhlantakkan sampai rata kembali?

Renungkan dan resapi rasanya.

Campur aduk jadi satu.
Seduh dengan air hangat dari mata 10 mL.
Aduk kembali di atas loyang hati.
Diamkan sejenak, letakkan di ruang hujan yang bebas sinar matahari.

Jika adonan sudah mengembang, kubur dalam-dalam.

Silahkan diinterpretasi!


Kosong, Selongsong

Halo, blog. Lama tak jumpa. *ambil penyedot debu*

Memang ya, kalo punya blog dan lama nggak nulis lagi itu rasanya kayak kenak cultural shock. Yang tadinya banyak banget yang mau ditulis, merosot jadi nggak tau mau nulis apa. Jadinya yang di otak cuma kosong, padahal cerita yang menunggu untuk ditulis itu isinya lebih dari peluru selongsong.

Well, so where should I start?


Minggu, 25 November 2012

"Jarene Watu, tapi Dibacok Kok Getihen."

Jumat, 19 Oktober 2012

Jam 9 pagi.
Aku baru aja selese kuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia (SSBI) di lantai 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, dan turun ke lantai bawah seperti biasa buat kumpul sama temen-temen sejurusan di KBU.
Well, semuanya berjalan seperti biasa aja.

Nothing special.

Sampai ada satu SMS masuk dari mbak Linis, seniorku di Sinematografi, yang bilang, "Dhan, kamu uda tau? Bima kecelakaan."
Kontan aja aku rada kaget ndengernya. Ini orang, Bima, beberapa hari yang lalu sehat-sehat aja pas ketemu di kampus. Kagak ada tanda-tanda dia habis mabok atau berencana untuk mabok sambil naik motor, atau berencana mabok sambil naik motor terus kecelakaan.

Oke, skip.

Aku langsung kirim broadcast message via BB ke temen-temen, kalo nih makhluk yang biasa disebut WATU baru aja kena musibah. Aku juga bergegas konfirmasi ke mbak Linis, nyari tau sendiri ke Rs. Dr. Soetomo, ke tempat seperti yang sudah ia instruksikan, ditemani oleh Reyhan si sahabat pantek. Dan.... Oh, man. Berita itu bukan hoax.

Bima Adhi Priambodo.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unair 2011.
Preman jagoan, pengen jadi Iron Man.
Dibacok, dan lagi krisis di IRD karena belum berhenti pendarahan.

Aku masih belum percaya dengan kejadian ini. Beberapa hari yang lalu nih orang baik-baik saja. Gak ada tanda-tanda dia bakal kena musibah macem gini. Sampe dia pergi ke Cuban Rondo, main ke temen-temennya HI yang lagi ngadain ospek jurusan, dan pulang jam 2 dini hari.... dan berhadapan dengan delapan orang preman yang lebih jago, sepertinya.

Jadi usut punya usut, kejadiannya seperti berikut,
Bima pulang dari Cuban Rondo larut malam, dan ia sempat lewat kos-kosanku di Gubeng Kertajaya 7L no.3. Tapi karena ngeliat dari luar kayaknya aku uda tidur (dan sebenernya emang udah!) dia langsung jablas pulang lewat depan PDAM. Nah, di situ, ada dua orang bedengkik yang njejeri si Bima, lalu nuduh tuh motor yang ditumpangin Bima adalah motor adiknya. Langsung aja Bima ditendang dan Bima jatuh, Tapi dia sempet ngelawan dan akhirnya tuh dua bedengkik tumbang. Tapi ternyata, muncul lagi dua kimcil. Bima lagi-lagi berhasil mengalahkannya. Dan akhirnya muncul empat kimcil susulan yang gak asal tangan kosong.

Mereka bawa golok dan sodaranya golok. (mbuh apa namanya pokoknya senjata tajam)

Bima pun dihabisi.

Setelah itu motornya diambil dan Bima ditelantarkan dipinggir jalan.

Bima sempat minta tolong ambulans lewat, tapi ternyata ambulans itu pun tidak memperhatikan ada Bima di pinggir jalan.
Tapi untungnya, warga sekitar menolong dan Bima pun dibawa ke Rs. Dr. Soetomo, dan akhirnya, nyawanya berhasil diselamatkan.
Meskipun tipis-tipis melayang.

Okay, seenggak-enggaknya, meskipun nih orang sering banget berkelakuan unik bin nggateli, kalo udah kenak gini juga gak lucu lagi jadinya.

Tapi untunglah, setelah beberapa hari berlalu, akhirnya Bima tetep hidup.
Dan sekarang malah kembali seperti biasa.
-_-

TAMAT.

updated: foto Bima setelah beberapa hari di rumah sakit dengan kondisi yang lebih metal