Twitter

Jumat, 08 Maret 2013

“Hari Keberangkatan” Chapter I : Kepepet Sompret!


Minggu, 17 Februari 2013 ; Aku baru aja touch down Surabaya. Habis liburan di Jakarta bentar. Dan ini pertama kalinya aku naik pesawat loooh (bangga, yang baca harus bilang WOW). *skip*

Aku diantar keluarga ku sampai di kos. Baru aja buka kamar, nggak sempet nata-nata tas dan seisinya, aku langsung buruan cus ke kampus. Si Mandor sedikit nggugupi, duitku buat COMMCAMP #2 ini belum lunas sih, hehe.

Dan ternyata emang COMMCAMP #2 kali ini terkendala sedikit masalah. Banyak yang mengundurkan diri. Jumlahnya nggak nanggung-nanggung, dari 35-an orang turun jadi 28 orang. Padahal Mandor dkk sudah mempersiapkan semuanya untuk 35 orang, dan itu belum lunas sih. Tetapi berkat kucuran bantuan dana dari bapak pembina Tatit, semua masih bisa berjalan sesuai rencana.

Aku dan temen-temen yang ada di KBU berusaha keras mencari orang untuk menutupi kuota 35 orang itu. Bahkan sampek banting harga jadi 50.000 doang, masih juga kagak ada yang minat buat ikut. Ah, ada aja alasannya buat gak ikut. Mulai dari ijin orang tua, sibuk jadwal sana-sini, males, dan bela-belain liburan ngerjain tugas. Oke, alasan terakhir itu fiktif. Lanjut.

Nggak cukup sampe disitu. Perjuangan belum berakhir, halah.

Dengan waktu yang udah mepet, Mandor memberiku titah untuk mencetak banner, beli parafin, dan merampas senter emergency si Febray, salah satu survivor Commcamp #1 yang sangat membantu divisi penerangan dengan mensuplai lampu emergency ketika tersesat di hutan Sempu. Nggak itu doang sih, beberapa perlengkapan Commcamp juga dititipin di kosku.

Oke, soal rampas merampas aku jago sih. Pokoknya itu bereslah. Tinggal modus ngapel ke kosan Febray, ambil senter, pamitan, selesai.

Nah, cetak banner ini... YAOPO?

Aku melanglangbuana ke sana-sini, percetakan pada tutup. Ke I Can Print Ngagel yang jadi andalanku soal urusan cetak-cetakan gini, ternyata berhenti mencari rizki di hari Minggu. Eh, di ITS ketemu percetakan 24 jam. Tapi sekalinya maksa si Mbak kasir buat nyetakin banner dalam kurun waktu 6 jam, aku pun ditolak mentah-mentah dan diusir dari kerajaan percetakan 24 jam itu, halah.

Oke, banner udah hopeless. Sekarang soal sabun ajaib yang bisa buat bakar-bakar, yaitu parafin.

Nyari benda satu ini aku nggak ada ide sama sekali. Pengen gitu berhenti di apotik dan nanyak mbaknya punya parafin apa gak, tapi aku urungkan karena sepertinya itu adalah tindakan bodoh bin absurd. Mana ada apotik yang nyedian sabun bakar macam parafin? Mana ada pula orang yang nyebut parafin itu sabun bakar kecuali aku? Oke, skip.

Ku telpon Mandor, dan aku jelaskan semuanya mengenai gagalnnya pelaksanaan dua titahnya soal banner dan parafin. Well, akhirnya Raja Mandor pun memaklumi kegagalanku, dan tinggallah senter emergency punya Febray doang yang bisa diharapkan dari aku. Oh, meen. Melankolisnya diriku.

Oke, curcolnya selesai. Lanjut curcol lagi *eh

Malam ini adalah malam terakhir sebelum pemberangkatan, halah.

Si Sompret dari Riau, Reyhan, rencananya mau nginep di kosan sih. Dan akhirnya doi betulan nginep sini. Terus? Yawes, kami berdua tidur sekamar dengan normal-normal saja. Skip.

Well, adanya si Sompret ini di kos ya lumayan juga sih, jadi bikin suasana kos sedikit ramai dan bisa jadi teman yang saling mengingatkan soal sholat dan nyiapin barang bawaan. Selain itu, lumayan lah, paginya ada yang mbantuin buat angkat-angkat barang perlengkapan kemping yang terdiri dari beberapa dus dan terpal ini. Sayangnya, sekali sompret tetaplah sompret. Sampai di gerbang masuk Unair, eeh si Sompret kebelet BAB dan akhirnya doi harus menunaikan nafsu kemulesannya di masjid Unair. Tinggallah diriku dengan sisa-sisa tenagaku, menyeret semua barang ke KBU yang jaraknya masih lumayan lah kalo jalan kaki. Pfft.

And you know what?

Kamar mandi FISIP ternyata pagi-pagi udah buka.

HOLY SHIT.


Soooompreeeeeet kuuudaaaa

COMMCAMP #2: Misi Menaklukkan Kawah Ijen | PROLOGUE


Rasanya udah beberapa bulan kelewat semenjak COMMCAMP #1 selesai. Kali ini di liburan semester 3, beberapa pionir COMMCAMP 1 seperti Mandor, Kikik, dan Tatit berencana menggelar jilid kedua dari event kemping yang seru ini. Ya, seru, PUOL. Nggak ada yang bisa nggantiin cerita serunya para commcampers jilid satu yang tersesat di Pulau Sempu. Dan akhirnya, destinasi COMMCAMP jilid dua kali ini sudah fix, yaitu KAWAH IJEN!

Well, aslinya udah ada wacana mau ke Ranu Kumbolo dan bahkan ke Puncak Semeru buat jilid dua ini. Tapi karena Februari 2013 ini jalur ke Semeru ditutup, akhirnya Kawah Ijen pun dipilih sebagai alternatif tujuan utamanya. Meskipun nggak jadi ke Semeru, cerita di Kawah Ijen ini seru juga loh. Dan kali ini nggak ada yang namanya feeling nyasar-karena-nekat atau merinding-disko-digigit-macan-hutan lagi. Sempet nyasar dikit, tapi nggak se-SERU pas di Sempu kok. Hahaha. Lagian kali ini tujuannya nggak cuma Kawah Ijen. Ada Teluk Hijau dan Pulau Merah juga yang siap ditaklukkan! Haha!

Oh iya, satu lagi. Yang disayangkan dari jilid dua ini, para survivors dari Sempu yang bertahan lanjut ke jilid dua cuman tujuh orang: Mandor, Kikik, Tatit, Bima, Jemblunk, Ayip, dan aku! Dan COMMCAMP kali ini bakal diketuai oleh Rendy ‘Banjer’ selaku warga sekitar di Banyuwangi.

Overall, jumlah peserta kali ini lumayan loh, sampek 27 orang dan ini terdiri dari 4 angkatan: 2009-2012. Beda dengan jilid satu dulu. 24 orang, dan itu cuma angkatan 2011 doang sih.

Akankah para COMMCAMPERS jilid dua ini bisa sampai di Ijen dengan selamat?

Akankah setelah sampai di Ijen bisa pulang lagi dengan selamat?

Akankah setelah pulang di Surabaya bisa kembali ke rumah dengan selamat?

Yawes, masio cerito iki diketik nggawe sudut pandang orang yang tak dianggap (aku, btw) wocoen terus ceritone nek pengen ngerti yo!

Salam Commcampers!


Rabu, 06 Maret 2013

Foto: I'm Flying!






Oke, agak ndeso bin kampung dikit kali ya.
Tapi ini pengalaman pertama naik pesawat sih, dan berhasil mengambil beberapa gambar menggunakan 650D-ku ketika pesawat sedang melangit.
Aku terbang ke Jakarta, saat itu. Lagi pengen main ke rumah Fais, Upan, Naufal, sodara-sodara yang biasanya ketemunya cuman pas Idul Fitri doang.
Jadi, hari Rabu tanggal 13 Februari 2013 saat itu, aku ke Jakarta naik pesawat, jalan-jalan di Jakarta sampai ke museum sejarah dan kota tua, ngerasain riwehnya busway, dan sibuknya ibukota.
Tapi perjalanan liburan belum selesai.
Minggu 17 Februari 2013 aku balik ke Surabaya, ikut ngurusin Commcamp sedikit di kampus, packing malamnya bersama si Sompret Reyhan...

Aaaaaaand, Senin 18 Februari adventure begins! :)
(to be continued)

Foto: Mengawah Ijen



Location Kawah, Kawah Ijen, Banyuwangi
Date Taken 20/02/2013 05:47
Camera Canon EOS 650D
F-stop f/3.5
Exposure Time 1/500 sec.
ISO 400
Focal Length 18mm

Ilusi

Raga terduduk ramai,
Sedang firasat pecah terbengkalai,

Langit senja yang dirundung kabut,
Terkesiap mata menusuk lembut,
Resah, diam tak terarah,
Menilik celah memendam merah,

Bercengkerama dengan malam yang menghitam,
Di ujung jalan yang bertahta pelataran,
Kanan ku lihat tatanan,
Kiri ku rasa terpatri,

Ilusi! Tiap ranting jalanan menjadi saksi,
Ilusi! Tiap udara yang terlewat memucat pasi,

Hening dalam keriangan,
Ilusi dari sepi yang terbujuk angan,

Lelah, sudahi segala pembicaraan.



Pos Penjagaan Teluk Hijau, Banyuwangi
18 Februari 2013



foto: area persawahan dekat pos penjagaan, sore hari, 18 Februari 2013

Resep Bungkam

Pernah merasa kalah dalam pembicaraan?
Pernah mengalah dalam hal bercandaan?
Pernah mengesampingkan diri demi melihat tawa-tawa yang lebar?
Pernah berdiam, memperhatikan, dan tetap dipersalahkan?
Pernah menumpuk tanah dan dirusak, diluluhlantakkan sampai rata kembali?

Renungkan dan resapi rasanya.

Campur aduk jadi satu.
Seduh dengan air hangat dari mata 10 mL.
Aduk kembali di atas loyang hati.
Diamkan sejenak, letakkan di ruang hujan yang bebas sinar matahari.

Jika adonan sudah mengembang, kubur dalam-dalam.

Silahkan diinterpretasi!


Kosong, Selongsong

Halo, blog. Lama tak jumpa. *ambil penyedot debu*

Memang ya, kalo punya blog dan lama nggak nulis lagi itu rasanya kayak kenak cultural shock. Yang tadinya banyak banget yang mau ditulis, merosot jadi nggak tau mau nulis apa. Jadinya yang di otak cuma kosong, padahal cerita yang menunggu untuk ditulis itu isinya lebih dari peluru selongsong.

Well, so where should I start?