Sorry, kemarin postingnya baru sampai hari pertama Commcamp Jilid dua, hehe.
Pegel beroh ngetik sampek lebih dari 2.500 kata, belum upload dan ngecapture gambar dari video
*curcol
Oke, jadi hari ini kayaknya aku bakal posting cerita hari kedua Commcamp. Dan ada ralat sih soal penjudulan. Jadi yang seri kemarin pake judul "Misi Menaklukkan Kawah Ijen" aku judulin ulang jadi "Hari Keberangkatan" dengan dua chapter, dan "Misi Menapaki Teluk Hijau" yang masih beberapa chapter lagi, hehe.
yawes,
Stay tune berooh ~
Jumat, 08 Maret 2013
Hambar.
Sore ini aku habiskan dengan mengetik cerita tentang Commcamp jilid dua yang sudah berlalu sejak tanggal 20 Februari Kemarin. Rasanya, aku kembali bersemangat, seperti ketika mau berangkat ngecamp saat itu. Hehe.
Tapi ada sedikit yang hambar.
Ya, aku menulis cerita tentang Commcamp ini pada hari ini, Jumat 8 Maret 2013, tepat setelah beberapa hari lalu aku ada masalah kecil di kampus yang membuatku ada di rumahku hari ini.
Well, harusnya aku menulis kisah Commcamp ini dari dulu, tanpa harus berselang beberapa minggu.
Sekarang rasanya aku hanya sedang mencoba memeras ingatan. Dan sekenanya mencoba menghidupkan kembali cerita yang berkesan itu.
Satu-satunya yang masih sangat menempel di otakku adalah malam ketika aku, Bima, dan Elsa, duduk dihadapan ombak yang berderu keras, dan saat itu juga rasanya nyawaku ikut melayang ke hamparan lautan. Di situ, aku menemukan damai yang aku cari.
Tapi ya apa boleh buat, waktu dan angin tidak bersahabat. Aku harus segera pergi tengah malam itu sebelum ombak dan kegelapan menelanku.
Suatu saat aku ingin menemukan kembali kedamaian itu.
Suatu saat nanti.
“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter IV : “Damai... Yoiki Seng Jenenge Damai.”
Aku berjalan di belakang Bima dan Elsa, karena aku yang
membawa senter di kepala. Otomatis aku lah yang jadi juru penerang jalan
mereka, halah.
Jalan yang kami tempuh ternyata dipenuhi kolam-kolam lokal.
Lengkap dengan bebatuan yang sangar-sangar grunjalannya.
Sepanjang jalan, kami bercerita absurd tentang kuliah dan
hal-hal imajiner. Hingga akhirnya kami menjumpai gapura yang sama ketika kami
pertama kali sampai di sini dengan bis. Oh meen, suara ombaknya cetar to the
max. Kami lihat ke samping, dan ternyata memang ini pantai!
Kami pun bersemangat jalan kaki menuju pantai.
Tuhan, tempat ini benar-benar lapang. Langit kelihatan
semakin meluas dengan gemerlapan bintang-bintang yang bertaburan di atas.
Pantainya juga seperti hamparan pasir yang damai, tiada seorang pun di sana.
Kami bertiga hanya menyaksikan ombak melambai-lambai, dan kepiting-kepiting
kecil berkeliaran di sekitar kami.
Akhirnya, kami pun duduk menghadap ombak, dan lampu senter
pun aku matikan.
--lukisan pake Paint, dari kiri: Elsa, Bima, dan aku. Suasana remang-remang. Tapi laut dan langit keliatan jelas--
“Damai... Yoiki seng jenenge damai...” dalam hati aku
mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa, rasanya aku memang dibimbing sampai ke
tempat ini. Pantai ini sebetulnya biasa. Tetapi entah saat malam itu, aku
merasakan keindahan dalam sunyi dan gelap yang tidak pernah aku lihat dan
rasakan sebelumnya.
Sepanjang malam itu, aku, Elsa, dan Bima bercerita tentang
hal-hal absurd dan bermain dengan imajinasi kami masing-masing. Topiknya tetap,
tentang kuliah. Tapi kami juga membicarakan tentang pertemanan dan hal absurd
seperti perasaan. Kadang juga curcol dikit, dan dilanjut dengan membicarakan
imajinasi masing-masing tentang berbagai hal.
Aku lupa tepatnya kami ngomongin apaan, yang jelas saat itu
yang aku rasakan cuman damai, dengan suara ombak yang membahana di telinga
kanan kiri.
Jam menunjukkan pukul 12 tengah malam.
Kami bertiga pun kembali ke pos penjagaan.
“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter III : “Kita Nggak Akan Ambil Resiko.”
Sampai di pos penjagaan itu ternyata bukan berarti kami
sudah dekat dengan Teluk Hijau.
Kata penjaganya, kami harus berjalan sekitar satu jam lebih
menyusuri hutan agar sampai ke teluk yang airnya berwarna ijo itu.
Kami pun dilema. Antara mau nekat tetap lanjut jalan kaki
dengan harapan kemping di Teluk Hijau, atau menuruti apa kata penjaga dengan
menetap semalam di pos penjagaan dan jalan kaki pagi-pagi untuk sampai ke Teluk
Hijau.
Diskusi yang panjang antara Mas Gimon, Mandor, Tatit,
Banjer, dan Pak Penjaga pun tetap menghasilkan dua opsi yang sama: lanjut atau
berhenti sementara.
“Kita nggak akan ambil resiko. Jalan yang kita tempuh masih
jauh. Selain itu temen-temen kita yang cewek juga banyak. Aku sih budal tok.
Tapi kalo jumlah kita yang banyak ini dipacul tetep jalan, resikonya terlalu
besar.” ujar Mas Gimon ke semuanya.
Aku dalam hati sih tetap ingin nekat malam-malam menuju
Teluk Hijau.
Tetapi, akhirnya setelah berpikir bersama sejenak, kami
memutuskan untuk bermalam di pos penjagaan.
Meskipun akhirnya kurang berkesan ‘ngecamp’
di hari pertama, tapi ya sudahlah, salah kami, terutama Banjer juga. Pakek
nyasar segala. Pfft.
Akhirnya kami meletakkan barang-barang di pos penjagaan.
Hampir sebagian dari kami menyempatkan untuk mandi. Tapi kalo aku sih ya
meskipun bermalam di rumah, badan tetep ngecamp mode on: ANTI MANDI. Hahaha.
Dengan sedikit bau badan yang tidak menyengat, aku membantu
teman-teman yang sudah bersemangat memasak di dapur. Tetap dengan komando
Mandor, semuanya berhasil memasak nasi, sarden kalengan, dan mie untuk semua
orang di sana, termasuk supir dan pak penjaga.
Demi menghidupkan suasana, kami yang di sana pun bersenda
gurau, bermain kartu, dan ada yang tidur lebih awal. Si Banjer selaku warga
sekitar juga berusaha bersosialisasi dengan pak Penjaga. Sedikit-sedikit
terdengar kisah horor tentang adanya pasangan yang mesum yang lari pontang-panting
dari sini karena melihat ‘sesuatu.’ Ada juga yang masih nggak percaya kalo
kebo-nyante-dipinggir-pante itu tadi adalah nyata, bukan iblis atau jin
semacamnya.
Aku yang sedikit kecewa dengan bermalam di pos penjagaan,
berencana untuk berkespedisi sendiri dengan jalan-jalan malam, sendirian. Well,
tapi akhirnya ada yang sepikiran. Bima, si Watu yang juga survivor commcamp 1
akhirnya jadi teman jalan malam. Selain itu, ada juga Elsa, commcampers baru
yang ternyata sense of adventure-nya juga tinggi.
Akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk keluar dari pos
penjagaan dan berjalan ke tempat yang kami sendiri tidak tahu mau ke mana.
--foto: tangan Kang Uman membredel kaleng sarden yang nahas di dapur--
“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter II : “Kabut Akan Segera Turun, Jangan Nekat...”
Kami menemukan jalan yang maybe benar. Tetapi, jam telah
menunjukkan pukul 17.00, nek gak salah.
Dan kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak di dekat toko
warga sekitar dan bertanya tentang jalan ke Teluk Hijau.
“Kabut akan segera turun, jangan nekat...” samar-samar aku
dengar ucapan itu dari salah satu warga.
Memang sih, dari sini aja uda keliatan
di depan kalo kabut dari bukit itu lagi otewe turun ke kampung. Akan tetapi,
bukan commcampers namanya kalo nggak nekat. Setelah berdiskusi singkat, kami
memutuskan untuk tetap lanjut menuju Teluk Hijau. Atau setidaknya sampai di pos
penjagaannya lah.
Jalanan semakin gelap. Kami yang di bus berpelukan. Yo gak
lah.
Sepanjang perjalanan yang diiringi langit yang semakin gelap,
beberapa diantara kami masih ada yang bercanda untuk mencairkan ketegangan. Ada
juga yang berdoa dengan sisa-sisa keimanan yang ada. Dan akhirnya kami melihat
gapura, serta deburan suara ombak yang membahana.
Oh God, sepertinya jalan terang sudah di depan.
Kami melewati jalanan bebatuan yang membuat elep sampai
kegembosan ban belakang. Well, guyonannya sih itu gara-gara mbak Hutami yang
duduk di bangku sebelah kanan elep. Tapi ya rasional ajalah, itu gara-gara bebatuan
yang kasarnya gak suopan...ditambah bobot mbak Hutami juga #eh
Oke, kita nemuin suatu padang rumput yang luas. Dengan kegelapan
yang menyelimuti, kami, ya, kami semua, melihat ada siluet kerbau makan rumput.
Ya, KERBAU. *jeng jeng*
Maybe konyol. Emang itu padang rumput. Tapi NGAPAIN KEBO DI
DEKET PANTE??
Itu mungkin yang ada di benak temen-temen yang paranoid
melihat kebo-nyante-dipinggir-pante.
Oke, singkat cerita, kita akhirnya sampai di pos penjagaan
Teluk Hijau.
Aku sudah mencium bau petualangan di sini.
Jam menunjukkan sudah lewat maghrib. Dan kami semua
menurunkan barang-barang kami di pos ini.
Rencananya bis dan elep ditinggal di
pos, dan kami jalan kaki menuju teluk hijau. Dan rencananya sih aku uda
mbayangin kita semua bakal menyusur hutan malam-malam dan kemping di pantai
sampai pagi.
Tapi semua tidak seindah yang dibayangkan...
--foto: Banjer sedang berkonsolidasi dengan Pak Penjaga, situasi sudah aman terkendali saat itu--
“Misi Menapaki Teluk Hijau” Chapter I : “Njeeer Banjer...”
Hari sudah sore. Jalan yang kami tempuh lambat laun
menyempit, menggerunjal, dan semakin mencurigakan.
Pak supir bis semakin
bersambat-ria dengan kernet. Kami sudah memasuki jalanan desa. Tetapi jalan
yang kami ambil ini tidak seperti katanya orang-orang. Jare supir bis seh.
Katanya jalan menuju Teluk Hijau udah bagus, lah yang dipijak ban bis sekarang
jauh sekali dari kata bagus.
Mungkin kalo ada orang hamil di sini bisa ngelahirin kali
ya. But wait, kami semua masih mahasiswa dan boro-boro ada yang hamil, pasangan
aja belom. *skip*
Kami semua yang di bis masih percaya dengan insting si Rendy
Banjer yang jadi tour guide karbitan kami menuju Teluk Hijau. Dan akhirnya...
VOILA!
Jembatan kayu di depan mata.
“Njeeeer banjer.....” ucap sejumlah orang ketika bis
berhenti dan supir bis tak henti-hentinya berdongkol ria setelah mendapati
ternyata yang di depan mata bukan lah jalan beraspal, tetapi hanya seonggok
jembatan kayu yang sungguh sangat tidak bisa dibayangkan ketika seekor bis
melintas di atasnya.
Awalnya kita masih menyisir jalanan desa itu. Hingga
akhirnya jalanan semakin terbuka, dan kami mendapati hamparan sawah yang luas
di sekitar kami. Pandangan kami tak ada yang bisa mencapai beberapa kilo di
depan. Sehingga dengan sedikit percaya diri, bis dan elep pun tetap melaju ke
depan. Aaaaaaanndd it’s dead end.
Untung saja meskipun di sawah-sawah gitu, ada rumah warga
sekitar dengan halaman luas yang bisa dipake bis buat muter balik. Yo masio
supire kudu usaha jalano bise mundur sih. Tapi akhirnya kami sukses puter
balik, dan dengan pikiran yang logis kami kembali ke jalan yang sekiranya
benar.
Pembelaan dari Banjer: “Mbiyen aku rene numpak sepeda motor,
dadi yo sak erohku liwat kene (jembatan kayu).”
Cursed you, NJEERRR BANJER.
“Hari Keberangkatan” Chapter II : “Budal Tok Es!”
Hari ini Senin 18 Februari 2013 ; Setelah disibukkan titah
Mandor kemarin sore dan pagi-pagi jadi kuli, akhirnya waktu keberangkatan pun
tiba. Meskipun sedikit terhambat dengan saling tunggu-menunggu, dengan mengucap
mantra “Budal tok es!” kami pun berangkat dengan lancar senang dan bahagia pada
pukul 07:00 tipis-tipis.
Aku duduk di depan. Pengen lihat jalanan dari kaca depan bus
yang sensasinya kayak nonton tipi ratusan inch. Seisi bus ini pun bercanda dan
tertawa sampai pulas. Kadang ada pembicaraan tentang matkul, KRS, dan
mripit-mripit kuliah. Tapi nggak sampe sejam, seisi bus uda memejamkan mata,
kecuali pak Sopir dan kernet lah, blok.
Eniwei, kita berangkatnya ini pake dua kendaraan. Satunya
bis gede, satunya mobil gede, I mean, elep, ehem, ELF.
Karena aku taunya cuman yang di bis, ya sorry deh aku ga
bisa nyeritain gimana situasi dan kondisi rekan-rekan yang ada di elep.
Pokoknya keliatannya semua senang deh.
--foto: suasana foto bersama yang sedikit maksa--
Setelah melewati jalanan yang ramai, meliuk-liuk, naik
turun, mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra, akhirnya
kita sampai di Banyuwangi!
Jam menunjukkan pukul 13.00, nek gak salah.
Kalo bukan karena trio kwek-kwek hoax macem Kang Uman,
Jemblunk, dan Tatit, pasti bis ini nggak sore-sore amat nyampek di check point
Teluk Hijau. Mereka berangkat dari Situbondo. Dengan berlinang kisah tentang
kebohongan tarif si supir angkot yang mengantar mereka sampai di terminal bis,
yah singkat cerita pokoknya mereka uda sampai di bis lah. Kami akhirnya
melanjutkan perjalanan menuju Teluk Hijau.
Meskipun jalan yang ditempuh mencurigakan dan disambati
terus sama bapak supir bis, kami tetap melaju dan percaya bahwa jalan yang kami
tempuh ini baik-baik saja.
Langganan:
Postingan (Atom)





